Soal:
Pada 18 Agustus 2026, al-Arabiya.net melaporkan bahwa Trump menyambut baik perjanjian trilateral antara Turki, Pakistan, dan Arab Saudi: “Presiden AS Donald Trump menyambut baik penandatanganan Perjanjian Mekah untuk Pertahanan Bersama oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan. Trump menggambarkan langkah tersebut sebagai signifikan, berani, dan sangat penting. Pada saat yang sama, ia juga memuji koordinasi keamanan di antara negara-negara Timur Tengah dan langkah mereka menuju penguatan kemampuan pertahanan bersama mereka…”. Sebelumnya, al-Arabiya.net telah melaporkan pada 17 Agustus 2026: “Trump menambahkan melalui akunnya di Truth Social bahwa ia senang dengan penandatanganan perjanjian oleh ketiga negara tersebut, menganggap Perjanjian Mekah untuk Pertahanan Bersama mencerminkan kedekatan yang makin meningkat di antara negara-negara Timur Tengah”. Sebelumnya, pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, Kantor Berita Saudi (SPA) mengumumkan di web sitenya: “Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Syahbaz Syarif menandatangani Perjanjian Mekah untuk Pertahanan Bersama, yang mencerminkan komitmen ketiga negara untuk memperkuat keamanan bersama dan merealisasi keamanan, perdamaian, dan stabilitas di kawasan dan dunia, sebagai upaya untuk masa depan yang aman dan makmur”. Pertanyaannya sekarang adalah: Apa dimensi dan implikasi dari penandatanganan oleh ketiga negara ini? Apakah ini merupakan aliansi untuk melawan agresor terhadap tanah kaum Muslim, seperti entitas Zionis? Atau ini hanya untuk mendukung Arab Saudi berhadapan dengan Iran, terutama mengingat ketegangan situasi di Teluk? Kemudian, mengapa Amerika tidak mengumumkan dukungannya terhadap perjanjian ini kecuali setelah sepuluh hari kemudian, padahal ketiga negara ini loyal kepada Amerika dan tidak mungkin mereka menyetujui perjanjian itu tanpa persetujuan Amerika? Singkatnya, apa tujuan dari perjanjian ini? Semoga Allah memberi balasan yang lebih baik kepada Anda.
Jawab:
Untuk memperjelas jawabannya, mari kita tinjau hal-hal berikut:
- Kantor Berita Saudi (SPA) melaporkan pada hari Jumat, 7 Agustus 2026: “Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Perdana Menteri Pakistan Syahbaz Syarif menandatangani Perjanjian Makkah untuk Pertahanan Bersama, yang mencerminkan komitmen ketiga negara untuk memperkuat keamanan bersama mereka dan merealisasi perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan dan dunia, sebagai upaya untuk masa depan yang aman dan makmur”. Kantor berita Saudi tersebut menyatakan bahwa pernyataan bersama yang ditandatangani setelah pertemuan yang diadakan di Makkah pada hari Jumat itu menyatakan bahwa “perjanjian tersebut bertujuan untuk meningkatkan pencegahan bersama terhadap agresi apapun, dan bahwa serangan bersenjata apapun terhadap salah satu dari ketiga negara tersebut merupakan serangan terhadap semuanya. Perjanjian tersebut juga memaksudkan pengembangan semua aspek kerja sama pertahanan bersama di antara mereka”. Perjanjian ini menyatakan bahwa aliansi militer bersama antara kekuatan regional yang dinilai sebagai kekuatan besar di kawasan itu untuk mencegah setiap agresi terhadap salah satu dari mereka. Namun, secara implisit mendeklarasikan bahwa perjanjian ini tidak ada hubungannya dengan agresi apa pun terhadap negeri-negeri islami lainnya maka ketiga negara tersebut tidak akan campur tangan untuk menangkisnya!
- Inilah mengapa entitas Yahudi tidak menunjukkan reaksi apa pun, karena ia memahami bahwa perjanjian atau aliansi ini tidak mengancamnya. Perlu dicatat bahwa masing-masing dari tiga negara yang menandatangani perjanjian ini jika benar-benar tulus, niscaya mereka tahu bahwa mereka mampu mengancam entitas ini dan melenyapkannya, bukannya hanya berdiam diri melihatnya sementara entitas tersebut menghancurkan Gaza, membunuh dan melukai ratusan ribu penduduk Gaza, menggusur jutaan orang setelah menghancurkan rumah mereka, melakukan kejahatan paling keji, dan membiarkan penduduk Gaza mati kelaparan dan kehausan, dilanda penyakit dan terkoyak oleh luka-luka. Dan entitas tersebut terus melakukan kejahatan-kejahatannya, namun negara-negara ini tidak bergerak melakukan tindakan apa pun, baik secara kolektif maupun individual, untuk menghentikan kejahatan-kejahatan ini. Entitas Yahudi menambah kejahatan serupa yang dilakukannya di Tepi Barat, di mana gerombolan pemukim Yahudi, yang dilindungi oleh tentara mereka, melakukan kerusakan di negeri tersebut, menghancurkan tanaman dan ternak, membunuh, melukai, memenjarakan, mencaplok tanah, mengusir penduduknya, dan menghancurkan rumah-rumah mereka… Bahkan, sesuai isi teks aliansi tripartit ini sendiri bahwa aliansi terbuka bagi entitas Yahudi! Presiden Turki Erdogan menyatakan “bahwa perjanjian tersebut tidak menargetkan negara tertentu dan terbuka untuk partisipasi negara-negara yang bertujuan merealisasi stabilitas di kawasan”. Ia tidak secara eksplisit mengecualikan entitas Yahudi, tetapi ia membiarkan hal itu tetap ambigu.. Dan ini merupakan jaminan bagi entitas Yahudi. Karena Turki mengakui entitas ini dan tidak memutuskan hubungan diplomatik atau perdagangan dengannya, bahkan ketika entitas Yahudi itu melakukan pembantaian brutal di Gaza dan menduduki wilayah-wilayah Gaza yang ia sebut tindakan keamanan!
- Semisal pernyataan presiden Turki itu, Wakil Menteri Luar Negeri Saudi untuk Diplomasi Publik, Ra`id Qarmali, di platform X pada 7 Agustus 2026, ia menyatakan: “Perjanjian tersebut bukanlah ancaman bagi keamanan negara mana pun di kawasan, juga bukan peningkatan eskalasi ketegangan di antara dua negara mana pun”. Arab Saudi menyerukan pembentukan negara Palestina berdampingan dengan Negara Yahudi dan secara eksplisit menyatakan solusi dua negara! Artinya, pejabat Saudi ingin mengatakan bahwa aliansi ini tidak ditujukan melawan entitas Yahudi… Demikian pula, Perdana Menteri Pakistan Syahbaz Syarif menulis di platform X pada 7 Agustus 2026, menggambarkan perjanjian tersebut sebagai “bersejarah”… Dan bahwa perjanjian tersebut “akan menjadi perisai bagi perdamaian untuk generasi mendatang dan membawa kemakmuran bagi ketiga negara”. Artinya, bahwa perjanjian ini bukan untuk perang melawan agresor melainkan merupakan inisiatif perdamaian! Kemudian, Kementerian Luar Negeri Pakistan menegaskan bahwa “Perjanjian Mekah bertujuan untuk memperkuat pencegahan kolektif terhadap setiap agresi dan menyatakan bahwa setiap serangan bersenjata terhadap salah satu dari tiga negara tersebut dianggap sebagai serangan terhadap ketiga negara tersebut” (Euronews, 7 Agustus 2026). Artinya, tujuan dari penandatangan oleh agen-agen dan para pengikut Amerika di Arab Saudi, Pakistan, dan Turki atas perjanjian ini tidak ada hubungannya dengan perang melawan Yahudi, terlepas dari pendudukan mereka atas tanah suci dan kejahatan-kejahatan berturut-turut yang mereka lakukan di kiblat pertama dari dua kiblat!
- Pernyataan akhir KTT tersebut menyatakan bahwa “perjanjian tersebut bertujuan untuk memperkuat pencegahan bersama dan mengembangkan kerja sama pertahanan di antara ketiga negara, dan menyatakan bahwa serangan bersenjata apapun terhadap salah satu negara penandatangan dinilai sebagai serangan terhadap semua negara. Pernyataan tersebut menambahkan bahwa perjanjian tersebut disandarkan kepada “ikatan historis” dan kepentingan strategis bersama di antara ketiga negara dan ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan dan dunia” (BBC, 7 Agustus 2026). Satu-satunya negara di antara ketiga negara tersebut yang telah menjadi sasaran serangan selama periode ini adalah Arab Saudi, yaitu serangan-serangan dari Iran… Jika ini dipertimbangkan, makna maksud dari pernyataan ketiga negara tersebut dapat dipahami! Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan mengisyaratkan tujuannya: “Fidan menyebutkan bahwa tidak ada pengidentifikasian ancaman bersama dalam “Perjanjian Mekah” dalam apa yang ia tegaskan bahwa “negara mana pun yang tidak menyerang kita tidak akan menjadi target kita” (CNN berbahasa arab, 9 Agustus 2026). Pemahaman dari pernyataannya adalah bahwa jika Iran menyerang, dan memang Iran secara riil menyerang, maka Iran akan menjadi target bagi kita, menurut interpretasi dari pernyataannya… Dalam pernyataan lain, Fidan mencoba memperbaiki bahwa tujuan perjanjian ini adalah untuk menjamin stabilitas di kawasan, tetapi ia tersesat jalan dan mengatakan: “Arab Saudi, Pakistan, dan Turki bukanlah negara ekspansionis”, menganggap perjanjian tersebut sebagai “langkah terpenting yang akan membawa stabilitas permanen ke kawasan ini, yang namanya telah dikaitkan dengan ketidakstabilan selama seratus tahun terakhir sejak Daulah Utsmaniyah menarik diri darinya” (CNN berbahasa arab, 8 Agustus 2026). Meski demikian, pejabat ini takut untuk mengatakan kebenaran apa adanya. Pernyataannya bahwa Daulah Utsmaniyah menarik diri dari kawasan itu hanyalah cara untuk tidak membuat marah negara-negara kafir dengan mengungkapkan kebenaran bahwa negara-negara kafir, bersama agen-agennya dari kalangan Arab dan Turki, mereka telah berkonspirasi untuk memerangi Daulah Utsmaniyah dalam Perang Dunia I untuk menjatuhkan al-Khilafah… Dan negara-negara tersebut mulai menyebarkan kerusakan di kawasan islami itu dan mereka mencari agen-agennya dan dijadikan raja dan presiden. Mereka mencari elit, memberi label mereka sebagai ekstremis dan teroris, dan memenjarakan mereka. Maka kekacauan menyebar dan ketidakstabilan mendominasi karena Umat Islam menolak tindakan negara-negara kafir dan melawannya… Begitulah, Fidan berkata, “…sejak penarikan diri Daulah Utsmaniyah” alih-alih mengatakan “…sejak bersekongkolnya negara-negara kafir dan para pengkhianat Arab dan Turki melawan al-Khilafah al-Utsmaniyah untuk menjatuhkannya”… Dia tidak mengatakan hal itu karena takut membuat marah negara-negara itu! Semoga Allah membinasakan mereka, bagaimana mereka dapat dipalingkan.
- Adapun mengapa Amerika tidak mengumumkan reaksi apa pun terhadap perjanjian ini hingga sepuluh hari kemudian, maka jika bukan dalam kepentingannya, Amerika pasti akan menentangnya segera. Tampak bahwa Amerika tidak ingin menampakkan bahwa Amerika mendukung perjanjian ini dengan segera mengumumkan dukungannya, karena ketika itu akan kehilangan daya tarik politiknya, sebab akan tampak bahwa perjanjian ini atas perintah Amerika, dengan begitu posisi ketiga negara agennya itu akan terguncang. Perlu dicatat bahwa melalui perjanjian ini mereka berusaha untuk menampakkan perhatian mereka terhadap kedaulatan mereka dan bahwa mereka bebas untuk melawan siapa saja yang menyerang mereka. Inilah sebabnya mengapa Amerika menunggu beberapa saat… kemudian Trump mulai mendukung perjanjian tersebut, memperlihatkan kegembiraannya dengan perjanjian itu dan memuji para pemimpin ketiga negara tersebut!
Oleh karena itu, Trump menyatakan sekarang, seperti yang dilaporkan oleh al-Arabiya.Net pada 18/8/2026, “Presiden AS Donald Trump menyambut baik penandatanganan Perjanjian Mekah untuk Pertahanan Bersama oleh Arab Saudi, Turki, dan Pakistan, menggambarkan langkah tersebut sebagai langkah besar, berani, dan sangat penting, sambil pada saat yang sama memuji koordinasi keamanan antara negara-negara Timur Tengah dan langkah mereka menuju penguatan kemampuan pertahanan bersama mereka”. Al-Arabiya.Net telah melansir pada 17/8/2026: “Trump menambahkan melalui platform Truth Social bahwa ia senang dengan penandatanganan perjanjian oleh ketiga negara tersebut, menilai bahwa Perjanjian Mekah untuk Pertahanan Bersama mencerminkan kedekatan yang makin meningkat di antara negara-negara Timur Tengah.”
Inilah sebab keterlambatan Trump menampakkan pujian dan dukungan. Sebab ketiga negara tersebut loyal kepada Amerika, baik itu yang merupakan negara agen seperti Arab Saudi dan Pakistan, yang merupakan mitra strategis Amerika di luar NATO, atau negara yang beredar di orbit Amerika seperti Turki, yang merupakan anggota NATO di samping Amerika.
- Amerika menginginkan ketiga negara yang loyal kepadanya ini memainkan peran tertentu di kawasan tersebut, khususnya melawan Iran dan penduduk Muslim di kawasan itu… Setelah penandatanganan nota kesepahaman antara Presiden Iran Pezeshkian dan mitranya dari Amerika, Trump, pada 18 Juni 2026 melalui konferensi video, Amerika hingga saat ini belum mampu mencapai tujuannya, dan negosiasi tetap buntu… Oleh karena itu, Amerika ingin menggunakan negara-negara besar regional ini sebagai alat tekanan terhadap Iran! Dan berikutnya Iran dikepung dengan negara-negara tetangga yang bersekutu dengan Amerika. Dengan demikian, Trump berasumsi bahwa ini akan memaksa Iran untuk melunak dan menerima syarat-syaratnya, sehingga Trump menjaga nasib partainya dari kegagalan dalam pemilihan paruh waktu mendatang. Oleh karena itu, Anggota Kongres Partai Republik Joe Wilson di lamannya di platform X pada 8 Agustus 2026 mengomentari mengenai perjanjian ini, dengan menyatakan: “Perjanjian pertahanan bersama antara Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dapat dinilai sebagai pencapaian lain bagi presiden Amerika dalam memperkuat stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran di Timur Tengah”. Michael Ratney, mantan duta besar AS untuk Riyadh, juga memandang “bahwa Amerika memandang perjanjian tersebut dengan sifatnya meningkatkan keamanan kawasan dan membuat Amerika menangani agresi Iran yang berkelanjutan. Dan berikutnya Perjanjian Mekah tersebut membantu menjaga seluruh kawasan. Dan ia percaya bahwa Presiden AS Trump melihat di dalam aliansi tiga negara tersebut ada sarana untuk mendukungnya dan memperkuat stabilitas” (al-Arabiya.net, 18 Agustus 2026). Semua ini menunjukkan bahwa Amerika berada di belakang perjanjian ini dan bahwa perjanjian ini merupakan keberhasilan bagi Presiden Trump. Oleh karena itu, Amerika menggerakkan ketiga negara yang loyal kepadanya ini untuk digunakan sebagai alat tekanan tidak langsung terhadap Iran.
- Sebagai anggota NATO, Turki berkomitmen untuk membela anggota-anggota NATO, termasuk Amerika Serikat. Lalu apakah mungkin Turki bertindak melawan komitmennya? Sebaliknya, Turki akan bertindak dalam cakupan loyalitasnya kepada Amerika. Karena itu Presiden Erdogan sangat perhatian memperbaiki keretakan dalam aliansi tersebut (NATO), khususnya antara Amerika dan Eropa, dan berupaya memperkuatnya. Maka ia menjamu para pemimpin NATO, terutama Trump, di Ankara pada tanggal 7 dan 8 Juli 2026. Ia menyambut Trump di bandara dan kemudian menjamunya di istana kepresidenan di Ankara, serta mengadakan pertemuan bilateral dengannya sebelum KTT NATO. Tampilan penyambutan hangat tersebut menunjukkan sejauh mana kedalaman persahabatan dan kasih sayang di antara keduanya. Selama kunjungan ini, Trump menyatakan: “Terus terang, andai KTT NATO tidak diadakan di Turki dan andai di sini tidak ada teman saya Erdogan, seorang pemimpin yang sangat kuat dan pribadi yang sangat kuat, mungkin saya tidak akan berpartisipasi di dalamnya”. Ia memuji sikap Turki yang tidak memihak Iran… Maka, partisipasi Erdogan dalam aliansi dengan Arab Saudi dan Pakistan merupakan partisipasi dalam bagian dari loyalitasnya kepada Amerika dan komitmennya terhadap Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
- Dari perspektif yang sebaliknya, pernyataan yang dikeluarkan oleh Teheran menunjukkan bahwa Iran memahami bahwa Iran adalah sasaran dari perjanjian pertahanan baru antara Turki, Pakistan, dan Arab Saudi. Dalam komentar pertama Iran tentang perjanjian tersebut, Ibrahim Ridha`iy, anggota Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di Parlemen Iran, mengatakan di platform X: “Orang-orang Arab Saudi harus menyadari bahwa “perjanjian di atas kertas” dengan Turki dan Pakistan tidak akan merealisasi keamanan untuk mereka, sama seperti puluhan tahun ketergantungan sepihak kepada Amerika yang telah gagal merealisasinya”. Ia menambahkan menyeru orang-orang Arab Saudi: “Ubahlah kebijakan Anda sehingga Anda tidak terpaksa meminta dari pihak lain demi keamanan” (CNN berbahasa arab, 7 Agustus 2026). Kemudian, seperti yang dilaporkan oleh surat kabar al-Quds al-‘Arabi pada 9 Agustus 2026, surat kabar Iran menyerang keras perjanjian ini. Surat kabar Kayhan, yang berafiliasi kepada kantor Pemimpin Tertinggi Iran, menganggap bahwa tujuan dari perjanjian tiga pihak ini adalah “untuk menghadapi perlawanan Yaman, Ansarullah, Iran, dan poros perlawanan”. Demikian pula, kantor berita Tasnim, yang dekat dengan Garda Revolusi, mengatakan “bahwa Arab Saudi, setelah menyadari kesia-siaan bersandar kepada Amerika Serikat untuk menjamin keamanannya, alih-alih mengubah strateginya, Arab Saudi malah memperluas kebijakan “membeli keamanan” dengan memompakan uang ke Turki dan Pakistan melalui perjanjian tiga pihak di Mekah, untuk mengamankan diri dalam menghadapi reaksi front perlawanan”. Hal ini menjelaskan apa yang Iran lihat sebagai tujuan dari perjanjian antara ketiga negara tersebut.. dan bahwa perjanjian itu merupakan alat tekanan yang digunakan Amerika terhadap Iran.
- Hukum asalnya, ketiga negara tersebut; Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, dan seluruh negeri islami lainnya, hukum asalnya menjadi satu negeri di dalam satu negara di bawah pemerintahan seorang Khalifah yang memerintahnya dengan Kitab Allah SWT dan Sunnah Rasul-Nya saw., bukan menjadi negara-negara yang independen satu dari yang lainnya yang membentuk aliansi demi kepentingan negara-negara kekuatan imperialis dan masuk dalam koalisi yang dibentuk oleh negara-negara imperialis itu. Allah SWT di dalam ayat-ayat yang muhkam telah memerintahkan untuk berpegang teguh kepada tali-Nya, dan Dia telah mengharamkan perpecahan dan fragmentasi negeri-negeri islami menjadi negara-negara kecil yang terpisah. Allah SWT telah mengharamkan secara tegas loyalitas kepada kaum kafir dan bekerja untuk kepentingan mereka. Dan Allah juga telah mengharamkan memutuskan hukum dengan selain apa yang telah Dia turunkan, dan menilai hal itu sebagai kekafiran, kezaliman atau kefasikan, atau gabungan dari semuanya. Allah telah menjanjikan dalam Kitab Suci-Nya akan kembalinya al-Khilafah ar-Rasyidah :
﴿وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ﴾،
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (TQS an-Nur [24]: 55).
Demikian pula, Rasulullah saw. telah memberikan kabar gembira tentang hilangnya pemerintahan tiran yang sedang eksis di ketiga negara ini dan seluruh negeri islami lainnya, kemudian kembalinya al-Khilafah. Rasul saw. bersabda:
«…ثُمَّ تَكُونُ مُلْكاً جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ، ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا، ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. ثُمَّ سَكَتَ»
“… kemudian akan ada kekuasaan tiranik, dan akan tetap ada sesuai kehendak Allah. Kemudian Dia akan mencabutnya ketika Dia berkehendak mencabutnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian”, kemudian beliau diam (HR Ahmad).
Al-Khilafah akan kembali, dengan izin Allah.. Namun, Allah SWT telah menetapkan bahwa malaikat tidak akan turun dari langit untuk menegakkan al-Khilafah untuk kita sementara kita duduk berdiam diri. Sebaliknya, kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh dan penuh kesungguhan, serta menjaga kejujuran dan keikhlasan dalam amal kita. Kemudian kita yakin dengan terealisasinya janji Allah SWT dan kabar gembira dari Rasul-Nya saw.. Semua itu jelas dalam sirah Rasulullah saw. Begitulah Rasulullah saw. berjuang. Dan begitulah para sahabat beliau, ridhwânullâh ‘alayhim, meneladani beliau. Dan begitu lah seharusnya kita. Dan pertolongan Allah pasti datang tanpa ada keraguan, dengan izin-Nya SWT.
﴿وَيَوْمَئِذٍ يَفْرَحُ الْمُؤْمِنُونَ * بنَصْرِ اللَّهِ يَنْصُرُ مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ﴾
“Dan pada hari itu orang-orang mukmin akan bergembira karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa Dia kehendaki, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang” (TQS ar-Rum [30]: 4-5).
05 Rabi’ul Awwal 1448 H
18 Agustus 2026 M
Sumber: hizb-ut-tahrir.info
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat