Farid Wadjdi: Turki-Suriah Hindari Eskalasi, Israel Diuntungkan

MediaUmat – Kebijakan Turki dan Suriah untuk menghindari eskalasi perang usai Israel secara sepihak mengebom pangkalan udara di Suriah, dekat perbatasan Turki dinilai menguntungkan Israel.

“Kebijakan untuk menghindari, eskalasi perang terhadap Israel di saat Israel terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah negeri-negeri Islam, termasuk Suriah yang berbatasan dengan Turki, ini tidak lain adalah untuk kepentingan Israel,” tutur Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi kepada media-umat.com, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, ada beberapa hal yang terkait dengan kepentingan Israel ini.

Pertama, Israel memastikan Suriah tidak menjadi kekuatan militer yang kuat. Jadi sejak jatuhnya Bashar al-Assad tahun 2024, Israel telah berulang kali menyerang infrastruktur dan persenjataan militer Suriah.

“Intinya, Israel ingin melumpuhkan kemampuan militer pemerintahan Suriah yang baru agar tidak menjadi ancaman militer. Sehingga kalau Suriah lemah secara militer, akan bisa lebih dikendalikan atau dicegah menjadi ancaman Israel,” ujarnya.

Kedua, Israel ingin mempertahankan zona aman di Selatan Suriah.

“Kita tahu sejak lama Suriah dan Israel di masa Bashar al-Assad menyepakati apa yang disebut dengan buffer keamanan atau wilayah keamanan. Di mana wilayah keamanan ini berada di wilayah selatan Suriah, terutama yang dekat dengan Golan,” jelas Farid.

Menurutnya, buffer keamanan ini intinya adalah Israel ingin memastikan, tidak ada kekuatan di perbatasan langsung dengan Israel yang mengancam entitas penjajah Yahudi ini.

Israel, lanjut Farid, ingin tetap daerah ini menjadi daerah yang secara militer disebut dengan demiliterisasi. Daerah buffer ini ingin tetap dipertahankan oleh Israel. Sekaligus nanti menjadi semacam bargaining position.

“Saat sekarang ini Israel memasuki wilayah Dataran Tinggi Golan yang sebenarnya itu berada di wilayah Suriah. Ini nanti menjadi bargaining position dengan pemerintah Suriah, agar pemerintah Suriah melakukan kesepakatan damai atau kesepakatan apa pun yang menguntungkan Israel. Dan Israel seolah-olah memberikan semacam hadiah kepada pemerintahan Suriah dengan menarik mundur pasukannya dari daerah Dataran Tinggi Golan,” bebernya.

Ini, jelas Farid, sekaligus akan menyelamatkan muka pemerintahan Suriah yang baru, jadi seolah-olah meskipun melakukan hubungan lebih intens atau bahkan mungkin normalisasi dengan Zionis Yahudi, Suriah mendapat keuntungan yaitu mendapatkan kembali Dataran Tinggi Golan.

Menurutnya, ini hal yang sama yang terjadi di masa Hafiz al-Assad. Ketika Hafiz al-Assad melakukan normalisasi dengan Israel—dan ini tentu banyak ditentang dan dianggap merupakan bentuk ketertundukan Suriah—tetapi sebagai hadiahnya, Dataran Tinggi Golan—Israel mundur dari Dataran Tinggi Golan dan seolah-olah ini keberhasilan dari Hafiz al-Assad pada waktu itu, yang seolah-olah bisa mengembalikan wilayah Suriah. Jadi, ini bagian dari skenario bargaining position, untuk masa yang akan datang.

Ketiga, Israel melihat Turki sebagai tantangan strategis yang penting. Apalagi Turki saat sekarang ini sedang mengembangkan persenjataannya, industri persenjataannya, dan berkali-kali Israel mengatakan sangat mengkhawatirkan, ancaman Turki.

Bagi Israel, jelas Farid, serangan ini Israel berharap bisa memprovokasi Turki, untuk kemudian terlibat dalam konflik dengan Israel. Yang tentu saja, ini tidak akan dibiarkan oleh Amerika, dalam pengertian Amerika akan tetap mem-backup Zionis Yahudi ini.

“Karena itu Israel berharap, terutamanya Netanyahu, Amerika akan berkonflik langsung dengan Turki yang akan memperlemah Turki sebagaimana perang Amerika yang dilakukan terhadap Iran. Sehingga kalau Turki melemah, ini tentu akan memperkuat daya tawar dari Zionis Yahudi,” ungkapnya.

Keempat, Israel menunjukkan bahwa dia ingin tetap mempertahankan kebebasan operasi militernya.

“Jadi, Israel selama bertahun-tahun, ingin menunjukkan apa pun yang dia inginkan, dia bisa lakukan. They can do whatever they want. Nah, karena itu Israel menunjukkan bahwa tidak ada yang bisa menghalangi, termasuk menyerang wilayah-wilayah kaum muslimin yang lain,” kata Farid.

Kelima, Israel tidak ingin Turki menjadi penjamin keamanan Suriah.

Keenam, Israel juga ingin menentukan aturan keamanan di Suriah. Dengan serangan ini, sebut Farid, Israel seolah-olah ingin mengatakan, ya, bahwa Suriah itu jangan macam-macam, Suriah itu ada dalam kendali Israel.

“Bahkan ini tekanan kepada pemerintah Suriah agar kemudian tidak bekerja sama dengan Turki,” ungkapnya.

​Farid menilai, apa yang terjadi saat ini, itu menunjukkan, kelemahan negeri-negeri Islam, baik itu kelemahan Turki, ataupun kelemahan Suriah sendiri.

Menurutnya, faktor inilah yang sebenarnya membuat Israel menjadi kuat. Karena Israel tahu, tindakan apa pun yang dilakukan Israel terhadap negeri-negeri Islam sekarang ini, termasuk menyerang Suriah, hatta menyerang Turki sekalipun, tidak ada reaksi balik yang mengancam eksistensi Zionis Yahudi ini.

“Dan Israel juga yakin, bahwa serangan apa pun, ya, serangan apa pun yang mereka lakukan akan dibantu oleh Amerika,” tegasnya.

Farid melihat kelemahan, negara-negara Muslim saat sekarang ini, termasuk Suriah dan Turki, karena mereka dalam kendali Amerika. Karena mereka menyandarkan setiap kebijakan politik luar negeri mereka kepada Amerika.

“Ini yang menjadi semacam kartu truf bagi Israel. Israel tahu persis bahwa Suriah dan Turki ini dalam kendali Amerika,” ujarnya.

Ia menilai bahwa semua tindakan Israel sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Amerika dan disetujui oleh Amerika, walaupun tentu ada dinamikanya di permukaan.

​”Karena Suriah yang lemah, Turki yang lemah, dan Israel yang kuat itu menjadi harapan Amerika tentunya. Amerika juga tidak ingin Suriah menjadi negara militer yang kuat, demikian juga Turki,” ungkapnya.

​Dengan adanya konflik yang baranya terus dikobarkan oleh Zionis Yahudi ini, kata Farid, ini menjadi alat penting Amerika untuk punya legitimasi melakukan intervensi, baik berupa mediasi, berupa tekanan, berupa ancaman, dan sebagainya.

​”Jadi semuanya ini tidak bisa dilepaskan dari restu Amerika dan di bawah kendali penuh Amerika, dengan riak-riaknya atau dinamikanya,” tandasnya.

Menurutnya, di situlah menunjukkan, pentingnya umat Islam ini membangun kekuatan politik yang baru, yang independen, yang tidak bergantung di bawah payung keamanan Amerika atau security umbrella Amerika, dan lepas dari kendali Amerika.

Dan itu, tegas Farid, tidak mungkin diharapkan dari rezim-rezim sekuler dan pemerintahan negara-bangsa yang saat sekarang ini ada di Timur Tengah, yang justru dibentuk untuk memperlemah kekuatan politik dunia Islam.

​”Nah, di situlah apa yang menjadi perjuangan Hizbut Tahrir untuk menegakkan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah menjadi sangat penting, karena itulah yang akan menghentikan, kebrutalan dan tindakan keji yang dilakukan oleh entitas penjajah Yahudi ini,” kata Farid.

Jadi, jelas Farid, masalahnya ini bukan masalah semata-mata dinamika perbatasan, tapi masalahnya ini yang paling utama itu adalah lemahnya negeri-negeri Islam karena tergantung kepada Amerika dan ketiadaan kekuatan politik independen di dunia Islam setelah ketiadaan Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah.[] Achmad Mu’it

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: