MediaUmat – Meluruskan sangkaan kekuasaan yang berada di tangan manusia dapat dipertahankan secara permanen, Ulama KH Rohmat S. Labib meluruskan, kekuasaan manusia tidaklah permanen, sedangkan kekuasaan yang hak dan permanen hanyalah milik Allah SWT.
“Almulkul haq, kekuasaan yang permanen, tidak berubah, tidak hilang, tidak berkurang itu adalah lirrahman, milik Allah Subhanahu wa Taala yang Maha Rahman,” jelasnya dalam Live Kajian Tafsir Al-Wa’ie | Hari Kiamat: Saat Langit Terbelah & Malaikat Turun, yang disiarkan melalui kanal YouTube K.H. Rohmat S. Labib, Rabu (12/8/2026).
Ia menjelaskan, al-mulk bermakna kekuasaan terhadap manusia, berbeda dengan al-milk yang berkaitan dengan kepemilikan atas barang. Karena itu, al-mulkul haq menunjukkan kekuasaan yang benar, tetap, dan tidak berubah.
“Almulkul haqqu yaumaidin. Kekuasaan yang hak, kekuasaan yang benar. Yang benar itu apa maksudnya? … Yang tetap, yang tidak hilang, tidak berubah. Itu namanya al-haq,” terangnya.
Berbeda dengan kekuasaan Allah yang bersifat tetap, kekuasaan manusia tidak memiliki sifat tersebut. Menurut Kiai Labib, kekuasaan manusia dapat hilang, berkurang, dan berubah.
“Jadi kalau manusia, kekuasaan tangan manusia itu semua tidak ada yang hak, tidak ada yang sabit, tidak ada yang tetap, tidak ada yang permanen, bisa hilang, berkurang, berubah,” tegasnya.
Ia mencontohkan, seseorang yang menetapkan dirinya sebagai presiden seumur hidup tetap dapat kehilangan kekuasaan sebelum meninggal. Demikian pula penguasa yang masa kekuasaannya telah ditentukan dapat jatuh sebelum masa tersebut berakhir.
“Raja juga sama. Berapa raja yang sudah mati tidak lagi punya kekuasaan,” ujarnya.
Tanpa Islam, Kekuasaan Makin Besar, Kerusakan Makin Besar
Kiai Labib kemudian menjelaskan, kekuasaan memiliki sifat memaksa. Karena itu, semakin besar kekuasaan yang berada di tangan manusia, semakin besar pula kecenderungan untuk menggunakannya secara zalim.
“Begini, kekuasaan itu punya sifat memaksa. Biasanya kalau manusia itu makin punya sifat, makin berkuasa, berarti biasanya makin apa? Kecenderungan manusia makin bisa memaksa, makin berkuasa makin apa? Makin zalim,” jelasnya.
Ia mencontohkan Firaun yang ketika berkuasa justru mendatangkan kerusakan dan kesengsaraan. Menurutnya, semakin besar kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki, semakin besar pula kerusakan yang dapat ditimbulkan.
“Firaun itu ketika berkuasa mendatangkan apa? Kerusakan, kesengsaraan. Makin berkuasa, makin besar tentaranya semakin besar kerusakan yang ditimbulkan,” ujarnya.
Karena itu, Kiai Labib menegaskan, kekuasaan perlu diatur dengan Islam agar tidak menjadi sumber kerusakan, melainkan menghadirkan kebaikan dan rahmat.
“Islam itu kan mengatur termasuk mengatur kekuasaan dan Islam diturunkan untuk memberikan rahmah. Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin. Jadi meski yang berkuasa itu manusia, tetapi syariah, aturan, undang-undang yang diterapkan oleh undang-undang Allah Subhanahu wa taala, maka menyebarkan kebaikan, menyebarkan rahmat,” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat