MediaUmat – Direktur Siyasah Institute Iwan Januar beberkan alasan dolar sangat berdampak pada rakyat kecil.
“Jadi kata siapa bahwa kenaikan dolar itu enggak berdampak buat kita rakyat kecil? Ini berdampak banget,” ujarnya dalam video bertajuk Dollar Meroket, Dapur Rakyat Terhimpit Jumat (15/5/26) di akun Tiktok @iwanjanuarcom.
Pertama, yang terdampak ketika kabar dolar meroket, rupiah melemah, yang langsung terdampak adalah dapur rumah.
“Hari ini dolar sudah nyaris tembus 18 ribu rupiah per US dollar. Artinya bahwa dulu yang barang bisa dibeli dengan 1 dolar hanya 14 ribu rupiah, sekarang harus dibayar dengan 18 ribu rupiah. Artinya ada nilai yang turun dan ada harga barang yang naik yang harus kita bayarkan,” bebernya.
Di Indonesia ini, lanjutnya, banyak mengandalkan barang impor, seperti kacang kedelai bahan baku tempe tahu, BBM, gandum, barang-barang elektronik. Itu semua impor.
“Banyak barang-barang, baik itu bahan baku ataupun barang jadi yang ternyata kita impor dari luar negeri dan semua harus dibayar dengan dolar,” tuturnya.
Kedua, utang Indonesia yang harus dibayar dengan dolar. Dan hari ini hampir tembus 10 ribu triliun rupiah.
“Dan karena dibayar dengan dolar maka otomatis pembayarannya pun dalam APBN kembali bertambah. Hampir 37 persen APBN Indonesia habis dipakai untuk membayar utang luar negeri bunga dengan pokok cicilannya,” bebernya.
Dan ini berarti bahwa anggaran belanja negara untuk kepentingan rakyat, lanjut Iwan, seperti pembangunan itu pun akan berkurang. Karena sebagian besar harus dibayar untuk membayar bunga utang dan pokok utangnya yang semua di dalam dolar.
“Dan juga kita melihat penyebabnya adalah bahwa hari ini kita mengandalkan utang luar negeri yang semua dibayar dengan dolar,” bebernya.
Di Indonesia ini, bebernya, juga banyak mengandalkan impor yang mesti dibayar dengan dolar juga.
“Dan kita hanya bergantung kepada mata uang dolar. Dan semua bukan kebetulan tapi ada desain yang dibuat oleh negara-negara besar untuk terus melemahkan negara-negara dunia ketiga, negara berkembang agar mereka terperangkap dalam jerat utang dan terperangkap dengan permainan dolar yang dibuat oleh Amerika Serikat,” bebernya.
Langkah
Maka dari itu Iwan menilai mestinya sebagai bangsa yang besar, apalagi umat Muslim negeri yang ada 50 negara kemudian jumlah umatnya hampir 2 miliar, harus berpikir langkah yang apa yang mesti dilakukan.
Pertama, membangun kemandirian. “Kaum Muslimin termasuk Indonesia harus menjadi negara yang mandiri,” bebernya.
Dengan sumber daya alam yang luar biasa, lanjutnya, mestinya negeri-negeri kaum Muslim bisa mandiri dan tidak mengandalkan impor dari luar negeri.
“Dan yang kedua kita harus punya mata uang yang kuat. Dan sebetulnya Islam sudah mengajarkan dan sudah memiliki sistem mata uang yang kuat yaitu adalah dinar dan dirham,” ujarnya.
Menurutnya, mata uang yang berbasis emas dan perak yang nilainya relatif stabil, kuat dan tidak bisa dipermainkan oleh bangsa lain.
“Kalau kita, kaum Muslimin, kembali kepada ekonomi yang mandiri yang dibangun dengan syariat Islam menggunakan mata uang dinar dan dirham, maka kita akan menjadi sebuah negara yang kuat dan umat Islam menjadi umat yang kuat pula,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat