INDEF: Rupiah Terus Tertekan dalam Sistem Global

MediaUmat Dominasi dolar dalam sistem ekonomi global menjadi faktor utama yang menekan nilai tukar negara lain, termasuk rupiah. Hal itu dinyatakan Kepala Pusat Makroekonomi and Finance INDEF Dr. M. Rizal Taufikurahman dalam acara Inspirasi Dakwah bertema Dolar Naik, Orang Desa Gak Pake Dolar? yang ditayangkan di kanal YouTube UIY Official, Ahad (24/5/2026).

“Ketika permintaan dolar naik, otomatis nilai tukar negara lain, termasuk rupiah, akan turun,” tegasnya.

Rizal menilai, kondisi ini membuat rupiah tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam sistem ekonomi global. Ketergantungan terhadap dolar menyebabkan setiap gejolak global langsung berdampak pada stabilitas ekonomi dalam negeri.

“Ini menunjukkan bahwa struktur ekonomi Indonesia belum sepenuhnya mandiri, karena masih sangat tergantung pada impor bahan baku, energi, dan pembiayaan luar negeri,” ujarnya.

Ketergantungan tersebut membuat dampak penguatan dolar tidak bisa dihindari, bahkan hingga ke level masyarakat bawah. Rizal membantah anggapan bahwa rakyat kecil tidak terdampak karena tidak menggunakan dolar.

“Masyarakat desa memang tidak bertransaksi dengan dolar, tetapi sangat terhubung dengan sistem harga global berbasis dolar,” tegasnya.

Ia menjelaskan, setiap kenaikan dolar akan langsung mendorong kenaikan biaya impor berbagai kebutuhan strategis, mulai dari energi hingga bahan pangan, yang kemudian berdampak luas pada kehidupan masyarakat.

“Biaya impor energi, pupuk, pakan, hingga logistik pasti naik, dan itu akan berdampak ke harga BBM, transportasi, hingga pangan,” jelasnya.

Lebih jauh, Rizal menyoroti bahwa persoalan ini tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan karakter sistem ekonomi global saat ini, di mana uang tidak lagi sekadar alat tukar.

“Sekarang uang bukan lagi sekadar alat tukar, tetapi sudah menjadi komoditas yang diperjualbelikan,” ungkapnya.

Rizal menilai, kondisi tersebut menempatkan negara berkembang seperti Indonesia dalam posisi rentan karena nilai tukarnya sangat dipengaruhi arus modal global.
“Ketika permintaan dolar naik, otomatis nilai tukar negara lain, termasuk rupiah, akan turun,” jelasnya.

Dalam situasi ketidakpastian, menurut Rizal, aliran dana cenderung berpindah ke dolar sebagai aset aman, sehingga tekanan terhadap rupiah semakin besar.

Rizal juga menilai bahwa pendekatan kebijakan yang hanya bertumpu pada instrumen moneter tidak cukup untuk mengatasi persoalan ini. Sebab, akar persoalannya terletak pada struktur ekonomi yang belum mandiri dan masih bergantung pada impor.

“Tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter. Harus memperkuat sektor riil dan meningkatkan daya saing industri,” tegasnya.

Menurutnya, tanpa perubahan pada sektor riil, kebutuhan terhadap dolar akan terus tinggi, sehingga tekanan terhadap rupiah akan terus berulang dalam setiap gejolak global.

“Selama industri kita masih tergantung impor, maka kebutuhan dolar akan terus tinggi dan rupiah akan tetap tertekan,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: