UIY: Melemahnya Rupiah Tunjukkan Problem Fundamental Ekonomi

MediaUmat Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar yang mendekati Rp18.000, menurut Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menunjukkan, persoalan ini bukan sekadar persoalan teknis ekonomi, tetapi juga problem fundamental dalam sistem ekonomi yang diterapkan saat ini yang membuat krisis terus berulang.

“Dari sini kita bisa tahu ada persoalan teknis ekonomi, tapi juga ada persoalan fundamental ekonomi,” tegasnya dalam acara Inspirasi Dakwah bertema Dolar Naik, Orang Desa Gak Pake Dolar? yang ditayangkan di kanal YouTube UIY Official, Ahad (24/5/2026).

UIY menilai, kegagalan memahami persoalan secara utuh membuat publik digiring pada narasi yang meremehkan dampak. Selama persoalan hanya dilihat dari sisi gejala, solusi yang diambil akan bersifat tambal sulam dan tidak menyentuh akar masalah.

“Selama kita masih menggunakan fiat money (uang kertas) dan bergantung pada dolar, kondisi seperti ini akan terus berulang,” ujarnya, menegaskan bahwa ketergantungan tersebut menjadi sumber berulangnya tekanan terhadap rupiah.

Lebih jauh, UIY menyoroti, persoalan teknis dalam ekonomi nasional justru memperparah tekanan terhadap rupiah. Salah satunya adalah tidak optimalnya masuknya devisa hasil ekspor ke dalam negeri, meski nilai ekspor tergolong besar.

“Nilai ekspor kita besar, ratusan miliar dolar. Mestinya itu bisa menahan kenaikan dolar. Tapi pertanyaannya, dolarnya ke mana?” ungkapnya, menyindir lemahnya kontrol terhadap aliran devisa nasional.

Ia menjelaskan, praktik seperti transfer pricing dan penahanan devisa di luar negeri membuat aliran dolar tidak sepenuhnya kembali ke dalam negeri. Kondisi ini menyebabkan pasokan dolar terbatas, sementara kebutuhan terus meningkat.

“Yang masuk ke dalam negeri lebih kecil karena sebagian ditahan di luar. Ini jelas merugikan ekonomi nasional,” jelas UIY, menegaskan bahwa kebocoran ini semakin memperlemah posisi ekonomi dalam negeri.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan teknis hanya bagian permukaan. Akar persoalan sesungguhnya terletak pada sistem ekonomi yang menjadikan mata uang tidak lagi berbasis nilai riil.

“Mata uang kertas itu tidak menyimpan kekayaan secara riil. Dia hanya bernilai karena ditetapkan. Kalau dicabut statusnya, tinggal kertas biasa,” ujarnya.

Akibatnya, nilai mata uang menjadi mudah bergejolak dan tidak stabil, sehingga negara seperti Indonesia berada dalam posisi rentan terhadap tekanan eksternal.

Di sisi lain, UIY menawarkan perspektif alternatif dengan menegaskan pentingnya kembali pada mata uang yang memiliki nilai intrinsik, yakni emas.

“Emas itu menyimpan kekayaan secara riil. Di situlah letak stabilitasnya, dan itu yang disebut sebagai the real money,” pungkasnya.[] Zainard

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: