IJM: Jutaan Konten Kreator Hadirkan Konten Negatif

MediaUmat – Mayoritas konten kreator yang jumlahnya jutaan justru menghadirkan konten-konten negatif. Pernyataan itu disampaikan oleh Luthfi Afandi dari Indonesia Justice Monitor (IJM) dalam Special Interview: Idul Fitri dan Kemenangan Dunia Islam, Kamis (19/3/2026) di kanal YouTube Rayah TV.

“Media informasi seperti FB dan lainnya bukan sekadar alat informasi tetapi juga alat pembentuk opini, alat pembentuk budaya yang isi kontennya hampir semua negatif. Ketika arus informasi terus menerus dihadirkan, lalu orang tidak ada yang protes, tidak ada yang mengoreksi, maka orang akan menganggap ini perkara biasa,” jelasnya.

Kalau kemaksiatan sudah dianggap perkara biasa, lanjut Luthfi, maka selangkah lagi akan terjadi kehancuran. “Ini berbahaya!” tegasnya.

Menurutnya, orang rela melakukan apa pun, membuka aurat, mendekati zina, hanya untuk mendapatkan cuan. “Itu yang terjadi sekarang!” tandasnya.

Oleh karena itu, ia mengajak umat Islam menangkal konten-konten negatif ini. “Sebagai individu kita semua harus menjadi penyampai berita Islam, penyampai opini Islam. Tidak hanya di YouTube tetapi apa pun itu kita gunakan untuk meng-counter berbagai macam hal yang merusak. Karena kalau dibiarkan kerusakan itu terjadi, maka akan semakin rusak,” jelasnya.

Kekuatan Akidah

Jika umat Islam yang jumlahnya mencapai dua miliar ini menyadari kekuatan yang ada pada diri mereka yaitu kekuatan akidah, Luthfi sangat yakin umat Islam akan menang.

“Kekuatan akidah itulah yang kita tahu dulu mengubah bangsa Arab dari bangsa yang hanya dikenal sebagai penggembala domba menjadi bangsa yang bisa melakukan futuhat, membebaskan sekian banyak negeri-negeri saat itu, dan menaklukkan Persia dan Romawi,” bebernya.

Maka, ujar Luthfi, dalam konteks pembentukan opini publik, kekuatan akidah ini juga fondasi yang harus dibangun oleh kaum Muslim.

“Ketika umat Islam punya kekuatan akidah, jangankan cuma sekadar bicara di depan publik, beropini, mempertaruhkan nyawanya saja mereka berani. Jadi kekuatan akidah ini adalah kekuatan kaum Muslimin yang paling mahal. Kenapa? Karena kekuatan akidah ini akan mampu mendorong siapa pun untuk melakukan sesuatu,” yakinnya.

Dalam konteks kekuatan opini publik, Luthfi berandai, satu persen saja dari dua miliar umat Islam ketika mereka terhimpun kemudian speak up, berdakwah menyadarkan umat, maka akan terjadi perubahan besar.

“Harus tertanamkan dalam diri kaum Muslimin bahwa yang namanya dakwah itu bukan hanya dibebankan kepada orang yang mungkin punya label kiai, ustadz, gus, tapi semua orang adalah dai,” tegasnya.

Optimisme

Luthfi juga menyampaikan, di tengah kegelapan saat ini, umat Islam seharusnya memiliki optimisme.

“Tanpa optimisme maka kita akan jalan di tempat, tidak terbayangkan kita akan meraih kemenangan, karena mungkin selama ini kita menjadi umat yang inferior,” sindirnya.

Optimisme ini, kata Luthfi, pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika dikejar oleh Suraqah bin Malik saat perjalanan hijrah. Namun kuda Suraqah terjatuh kemudian meminta perlindungan kepada Rasul. Rasulullah kemudian menjanjikan kepada Suraqah bahwa nanti akan mengenakan gelangnya Raja Persia, akan mengenakan pakaian kebesaran Kisra Raja Persia.

“Ini apa maknanya? Maknanya kan bukan berarti mencuri atau merampok gelang dan pakaiannya itu. Tetapi makna itu semua adalah bahwa nanti kerajaan Persia akan dapat ditaklukkan oleh kaum Muslimin,” urainya.

Ini, menurut Luthfi, menunjukkan optimisme yang sangat luar biasa, sebab Persia saat itu tidak terbayang akan bisa ditaklukkan. Optimisme seperti ini yang harus dicontoh oleh umat Islam dalam menghadapi Amerika.

“Jadi menurut saya hal yang paling penting ditanamkan  kepada kaum Muslimin adalah optimisme,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: