MediaUmat – Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi menilai sulitnya Amerika Serikat menundukkan satu negara seperti Iran seharusnya menjadi refleksi bagi negeri-negeri Muslim akan besarnya potensi kekuatan mereka jika bersatu secara global.
“Ini seharusnya menjadi catatan bagi negeri-negeri Islam. Bayangkan, terhadap satu negara saja Amerika tidak mudah untuk mengalahkannya, apalagi kalau seluruh dunia Islam ini bersatu,” ujarnya dalam Sorotan Dunia Islam, Rabu pagi (8/4/2026) di Radio Dakta 107.0 FM Bekasi.
Bahkan terkait rencana gencatan senjata selama dua pekan ke depan, ia menilai hal ini merupakan bagian dari exit strategy (strategi keluar) bagi AS untuk meredam ketegangan dengan Iran, khususnya di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Menurut Farid, target awal AS adalah menundukkan Iran secara total dalam waktu kurang lebih empat hari. “Dengan cara apa? Dengan cara melakukan serangan kilat kemudian membunuh pimpinan-pimpinan tertinggi, dan kemudian Amerika berharap ada elite pengganti yang akan menyerah kepada Amerika dan rakyat Iran juga kemudian melakukan perlawanan terhadap pemerintahnya sendiri,” ungkapnya lebih lanjut.
Namun, nyatanya jauh panggang dari api, Iran mampu bertahan dan memberikan perlawanan sengit. Ia menilai AS kini terjebak dalam kebingungan akibat tindakannya sendiri. Pasalnya, konflik tersebut berdampak negatif terhadap ekonomi domestik maupun global, serta memicu gelombang aksi protes besar-besaran di dalam negeri AS.
Sebagaimana diketahui, sekitar 8 juta orang di 50 negara bagian AS turun ke jalan dengan seruan “No King Trump” atau “No Kings”. Mereka memprotes gaya kepemimpinan yang dinilai otoriter, serta kebijakan perang di Iran, imigrasi, dan biaya hidup yang meningkat.
Karena gagal mencapai target secara cepat, Farid menyebut AS kemudian menggandeng pihak ketiga, dalam hal ini Pakistan, untuk memediasi gencatan senjata. Pola ini serupa dengan Perjanjian Doha 2020 yang kala itu menempatkan Qatar sebagai mediator hingga akhirnya memicu penarikan pasukan AS dari Afghanistan.
Singkatnya, di tengah kebingungan AS memanfaatkan posisi Pakistan untuk menegosiasikan titik temu agar bisa menarik diri dari konflik dengan tetap menjaga kehormatan. “Jadi bagaimana cara Amerika keluar dari perang ini, tanpa kemudian kehilangan muka,” tandasnya.
Ketergantungan pada AS
Di saat yang sama, Farid menyoroti ketergantungan negara-negara Arab dan Teluk yang masih mengandalkan pangkalan militer AS sebagai jaminan keamanan. Padahal, keberadaan pangkalan tersebut justru menjadi titik rawan yang rentan menjadi sasaran serangan.
Beralih ke konteks nasional, ia pun menyayangkan sikap pemerintah Indonesia yang dianggap kurang tegas dalam mengecam serangan Israel. Hal ini termasuk respons terhadap gugurnya tiga personel TNI pasukan perdamaian PBB, yang diduga merupakan dampak dari bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP).
Kompromi yang Rapuh
Sementara berkenaan dengan gencatan senjata, dan meskipun saat ini kedua belah pihak mengajukan proposal negosiasi, Farid mengingatkan, kompromi ini bersifat sementara dan tidak menjamin penghentian serangan di masa depan.
“Kompromi ini lemah karena tidak ada jaminan absolut bahwa AS dan Israel tidak akan menyerang lagi,” sebutnya.
Sebagai contoh dalam perkembangan terbaru, Iran kembali menutup Selat Hormuz tak lama setelah kesepakatan gencatan senjata dengan AS. Langkah tersebut diambil sebagai respons atas serangan militer Israel di Lebanon yang dinilai sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang telah dimediasi.
Oleh karena itu, tutur Farid, solusinya bukan bergantung pada AS, melainkan membangun kekuatan politik Islam yang utuh. “Jika Turki, negara-negara Arab, dan negara Muslim lainnya bersatu, umat Islam akan memiliki posisi yang sejajar dengan Amerika,” pungkas Farid.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat