MediaUmat – Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan, M.Ag. menilai penangkapan ratusan aktivis pro-Palestina di London sebagai bentuk hipokrisi akut dari kebencian yang didasarkan islamofobia.
“Penangkapan ini adalah bentuk hipokrisi akut dari kebencian yang didasarkan kepada islamofobia yang menjangkiti penguasa Inggris,” tuturnya kepada media-umat.com, Selasa (14/4/2026).
Menurutnya, penguasa Inggris selama ini dikenal mengidap islamofobia akut yang menyembunyikan kebencian mereka terhadap Islam dalam konteks bukan ritual, dengan dalih kebebasan, tetapi kebebasan yang beracun (toxic freedom).
“Bahkan meski Wali Kota London, Shadiq Khan adalah Muslim, tetapi secara politis tidak memiliki kekuatan untuk membela Palestina,” ungkapnya.
Selain itu, kata Riyan, soliditas umat Islam di Inggris yang semakin meningkat menjadi sesuatu yang ditakutkan pemerintah Inggris.
“Padahal soliditas umat Islam yang tercermin dari organisasi Palestina Action malah dilarang dan dituduh dengan sangat jahat sebagai pendukung terorisme. Bahkan pendukungnya, para demonstran yang ditangkap, dan faktanya tidak semuanya Muslim,” katanya.
Sikap Umat Islam
Terkait hal ini ini, Riyan mengingatkan umat Islam agar melakukan tiga hal. Pertama, harus mengutuk keras dan menolak tegas atas sikap otoriter pemerintah Inggris atas penangkapan demonstran pro-Palestina dan menuntut agar larangan atas organisasi pro-Palestina yaitu Palestina Action dipulihkan kembali hak berorganisasi dan berserikat, terlebih pilar kebebasan bicara (freedom of speech) jelas-jelas dikangkangi oleh pemerintah Inggris.
Menurut Riyan, hal itu juga akan semakin menguatkan dugaan yang terkait dengan kebencian baik secara kultural (oleh kelompok-kelompok yang benci Islam, terutama di pemerintahan Inggris) dan kebencian struktural (kepada pemerintah Inggris, melalui berbagai peraturan, di antaranya larangan terhadap organisasi Palestina Action, sebagaimana larangan kepada Hizbut Tahrir Britain, pasca-serangan balasan Hamas ke entitas Yahudi pada 2023.
Kedua, umat Islam Inggris harus semakin solid dan makin pro aktif dan berani untuk terus mendakwahkan Islam sebagai artikulasi politik, terutama sikap kritis terhadap penjajahan yang dilakukan entitas Yahudi Zionis atas Palestina yang didukung oleh penjajahan Inggris dan AS.
Selain itu, sebut Riyan, secara kultural, Muslim harus terus menunjukkan keteladanan bagaimana kehidupan sosial menurut standar Islam di antaranya dapat dilakukan melalui (a) keteguhan untuk menggunakan jilbab dan atau niqab/cadar), (b) makan dan minum yang halal (gaya hidup yang elegan dan jauh dari nilai-nilai destruktif (akibat alkohol, narkoba), dan (c) membangun interaksi sosial yang sehat dan kohesif (bukan individualisme dan bukan praktika zina dan LGBT).
Ketiga, umat Islam adalah umat yang satu karena mereka bersaudara karena iman dan kesatuan aturan. Sehingga solidaritas global harus terus digelorakan dan diamplifiksi ke seluruh dunia agar para pembenci islam (baik kelompok atau negara, seperti Inggris dll) tidak lagi memiliki ruang untuk bersembunyi dari kebencian dan kejahatan mereka terhadap Islam.
“Sehingga kepada pelaku kebencian dan kejahatan terhadap Islam dan kaum Muslimin, walaupun dalam bentuk negara, akan mendapatkan sanksi dan tindakan hukum yang tegas,” tandasnya.
Menurutnya, inilah urgensi transformasi kepemimpinan global umat Islam sehingga pemimpin Muslim hakiki (khalifah) akan menjadi perisai (junnah), pelindung bagi kaum Muslimin dimanapun ketika mereka menghadapi kezaliman dan kejahatan.
“Seperti yang ditunjukkan oleh Khalifah Umar bin Khaththab yang membebaskan Palestina pada 637 M, Panglima Shalahuddin al-Ayyubi yang membebaskan kembali Palestina dari tentara Salib kafir pada 1187 M, dan bagaimana Sultan Abdul Hamid II dengan kokoh menggagalkan upaya entitas Yahudi Zionis merongrong tanah Palestina,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat