Hasbi Aswar: Perang Amis-Iran, AS Paling Banyak Merugi

MediaUmat Pengamat Hubungan Internasional Hasbi Aswar menilai dalam perang Amerika Serikat (AS) dan Israel (Amis) versus Iran yang masih berlangsung hingga saat ini, yang paling banyak dirugikan adalah AS.

“Karena kalau kita lihat sebaliknya Pak Muji (moderator acara), ini kelihatannya  Amerika itu malah yang yang paling banyak dirugikan gitu,” ujarnya dalam acara Diskusi Online Media Umat dengan Tema Skenario Akhir Perang Iran – Amis Ahad (12/4/26) di kanal YouTube Media Umat.

Sebab, lanjutnya, AS sebenarnya menginginkan dalam perang ini Iran bisa runtuh dengan cepat.

“Kenapa? Karena ketika perang ini berlarut-larut dan terjadi dalam waktu berkepanjangan, maka yang akan rugi besar adalah Amerika Serikat,” bebernya.

Dan, jelasnya, itu terbukti. Contohnya adalah ketika perpekan-pekan perang, malah warga AS yang terkena dampaknya.

“[Harga] bahan bakar minyak (BBM) di sana menjadi meningkat, kemudian harga barang-barang juga meningkat, dan itu mendorong masyarakat melakukan aksi besar-besaran, kan kita melihat kan beberapa minggu terakhir ada aksi besar-besaran di Amerika Serikat yang meminta dan mendesak pemerintah Amerika Serikat untuk menghentikan perang,” tuturnya.

Sedangkan, lanjutnya, perang dengan Iran ini pun itu tidak didukung oleh warga Amerika Serikat secara mayoritas.

“Rata-rata setiap survei yang kita lihat itu di atas 50% warga Amerika Serikat menolak perang gitu,” ujarnya.

Belum lagi, jelasnya, sekutu-sekutu Amerika di Eropa jelasnya, yang juga tidak ada yang mau ikut perang membantu AS, malah berupaya untuk membujuk Iran untuk berunding.

Iran

Sedangkan di satu sisi, lanjut Hasbi, Iran sudah siap habis-habisan, walaupun tetap dalam kondisi defensif.

“Jadi, Iran itu tidak melakukan serangan membabi buta seperti Amerika dan Israel. Ketika misalnya Iran tidak pernah memulai, misalnya ketika Iran diserang fasilitas minyaknya, dia akan menyerang balik fasilitas minyak musuh gitu. Ketika Iran diserang fasilitas militernya, maka Iran akan menyerang balik fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai wilayah,” jelasnya.

Ditambah lagi, lanjut Hasbi, dengan kematian dari pimpinan tertingginya Ali Khamenei, yang memiliki hubungan spiritual antara warga Syiah di Iran dengan pemimpin tertingginya.

“Saya kira sangat luar biasa sehingga ketika kondisinya seperti itu ya ini hidup dan mati ini berbeda dengan Amerika Serikat ya, Trump sangat sangat mementingkan kepentingan-kepentingan ekonominya, kepentingan politik jangka pendek, kepentingan politik elektoral, dan sebagainya,” tuturnya.

Jadi ia menilai, yang paling berat kondisinya dalam perang ini malah adalah Amerika Serikat.

“Ini yang membuat Amerika tidak punya pilihan ya harus membuka, harus mencari celah, harus mencari jalan untuk membuka komunikasi, sehingga negosiasi ini bisa terjadi dan kemudian terjadi gencatan senjata,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: