HILMI Bicara tentang Ilmuwan yang Menemukan Lailatul Qadar
MediaUmat – Berbicara tentang Lailatul Qadar, Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyatakan, seorang ilmuwan yang menghasilkan riset yang bermanfaat bagi umat manusia dapat dianggap telah menemukan Lailatul Qadar.
“Seorang ilmuwan yang menghasilkan riset yang bermanfaat bagi umat manusia dapat dianggap telah menemukan Lailatul Qadar dalam perjalanan intelektualnya,” ujar HILMI dalam Intellectual Opinion yang diterima media-umat.com, Kamis (19/3/2026).
Lailatul Qadar, jelas HILMI, mengajarkan bahwa ada momen momen tertentu yang bernilai sangat besar yakni mengingatkan umat bahwa kualitas suatu amal tidak selalu ditentukan durasinya, tetapi oleh besar kecilnya dampak yang dihasilkan. Dalam dunia ilmu pengetahuan, konsep ini dapat menginspirasi para ilmuwan untuk menghasilkan riset yang benar-benar bermakna. Riset yang berdampak memiliki dua dimensi sekaligus, vertikal, yaitu meningkatkan ketakwaan seseorang kepada Tuhan, dan horizontal, yaitu memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan menjadi dasar bagi kebijakan yang adil.
HILMI melihat, ketika ilmu digunakan untuk memperbaiki kehidupan manusia, ilmu menjadi bentuk ibadah yang sangat mulia. Bahkan ketika ilmu itu digunakan oleh generasi yang berbeda atau oleh masyarakat yang berbeda agama, manfaatnya tetap menjadi bagian dari amal yang pahalanya terus mengalir.
HILMI mengatakan, sejarah menunjukkan bahwa peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Kota-kota seperti Baghdad, Cordoba, dan Samarkand menjadi pusat penelitian dan penerjemahan karya ilmiah. Pada masa itu, ilmuwan Muslim tidak hanya mengembangkan ilmu agama, tetapi juga matematika, astronomi, kedokteran, kimia, geografi, dan berbagai bidang lainnya. Motivasi utama para ilmuwan Muslim itu bukan sekadar rasa ingin tahu intelektual, tetapi juga keyakinan bahwa mempelajari alam adalah bagian dari memahami ciptaan Tuhan.
HILMI membeberkan, banyak ayat Al-Qur’an yang mendorong manusia untuk mengamati alam, merenungkan fenomena kosmik, dan memahami hukum-hukum yang mengatur kehidupan. Dalam konteks modern, semangat ini dapat diterjemahkan sebagai dorongan untuk mengembangkan riset yang bermanfaat bagi kemanusiaan. Oleh karena itu ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti pada publikasi akademik semata. Namun juga harus memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.
HILMI menyebut, jika kembali kepada analogi awal, maka dapat dikatakan bahwa riset yang berdampak luas adalah Lailatul Qadar bagi seorang periset. Ia mungkin terjadi hanya sekali dalam hidup seorang ilmuwan, tetapi dampaknya bisa berlangsung selama berabad-abad. Satu penemuan besar dapat mengubah arah peradaban. Satu kebijakan yang didasarkan pada riset yang benar dapat meningkatkan kesejahteraan jutaan manusia. Nilai amal semacam ini sangat besar karena manfaatnya dirasakan oleh banyak orang.
“Dalam perspektif ini, seorang ilmuwan yang beriman tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga mencari keberkahan dan manfaat jangka panjang dari ilmunya. Ia berharap bahwa penelitian yang ia lakukan dapat menjadi bagian dari amal jariah yang terus mengalir pahalanya,” pungkas HILMI.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat