MediaUmat – Dari aspek filosofi, menurut Wakil Ketua Umum Dewan Pertimbangan MUI Pusat KH Muhyidin Junaidi, ibadah haji sejatinya merupakan momentum untuk mengembalikan jati diri seorang Muslim sekaligus menjadi pelajaran penting dalam melakukan revolusi internal.
“Dari aspek ya filosofi haji itu adalah mengembalikan jati diri pelajaran bagaimana melakukan revolusi internal,” ujarnya dalam Diskusi Fokus: Haji dan Politik, Ahad (31/5/2026) di kanal YouTube UIY Official.
Ia menjelaskan, persoalan mendasar yang dihadapi umat Islam saat ini adalah bagaimana menggali makna haji secara lebih mendalam dan kolektif, sehingga tidak berhenti pada aspek ritual semata, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi perubahan diri dan umat.
“Di sinilah permasalahan yang harus kita sama-sama kupas, bersama-sama dan kita berikan penyadaran kepada umat Islam di dunia ini,” tegasnya.
Menurutnya, tantangan terbesar adalah menerjemahkan nilai-nilai haji ke dalam kehidupan nyata, termasuk dalam kebijakan negara-negara Muslim agar mampu membangkitkan kembali semangat perjuangan dan kesadaran umat.
“Tapi nah, ini yang agak susah kita bisa menterjemahkannya ke dalam dunia nyata. Jadi bagaimana kebijakan-kebijakan itu yang dikeluarkan oleh negara-negara Muslim bisa memotivasi dan mendorong hidupnya kembali the spirit of jihad orang yang berhaji,” paparnya.
Ia menambahkan, tanpa adanya proses internalisasi yang kuat, ibadah haji berisiko kehilangan makna substansialnya, sehingga tidak menghasilkan perubahan perilaku maupun karakter setelah kembali ke tanah air.
“Orang yang berhaji ya kemudian tidak mampu melakukan perubahan internalisasi diri. Maka dia pulang hanya membawa begitu banyak hadiah, penuh covernya dengan hadiah, tapi tidak mampu melakukan perubahan diri. Jadi istilahnya tidak ada apa-apanya. Jadi dia jalan-jalan aja, namanya itu wisata ritual,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kiai Muhyidin menekankan, musim haji justru merupakan momentum strategis untuk menyuarakan kebenaran dan membangun kesadaran umat secara global, bukan sebaliknya menjadi ajang yang steril dari pesan-pesan perubahan.
“Jadi, kita jangan takut menyuarakan kebenaran saat musim haji. Justru itu momentum yang terbaik di musim haji,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya memaknai haji sebagai ajang pertemuan internasional umat Islam yang sarat nilai persatuan dan kesatuan, mengingat jutaan Muslim dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu waktu dan tempat.
“Haji harus dimaknai sebagai kompetensi internasional untuk memberikan penyadaran kepada umat Islam tentang pentingnya kesatuan dan persatuan,” jelasnya.
Menurutnya, pertemuan akbar tersebut seharusnya menjadi sarana membangun ukhuwah dan kerja sama yang produktif, bukan sekadar simbol kebersamaan tanpa makna yang mendalam.
“Jadi kita di sana bertemu dengan saudara-saudara kita dari mancanegara, dari berbagai macam latar belakang, harusnya pertemuan penuh kerahmatan. Bukan hanya menggunakan pakaian ihram, tapi lebih daripada itu kita mengutamakan bagaimana agar umat Islam tidak selalu menjadi pihak yang dizalimi oleh kekuatan manapun di dunia,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat