Jurnalis: Teknologi Tidak Boleh Menyingkirkan Rakyat Kecil

MediaUmat – Dalam perspektif syariat, kemajuan teknologi mutlak diarahkan untuk mempermudah hajat hidup seluruh rakyat, bukannya dieksploitasi demi memperbesar keuntungan segelintir korporasi raksasa sembari menyingkirkan posisi masyarakat kelas pekerja.

“Teknologi dalam Islam tidak boleh hanya menjadi alat memperbesar keuntungan segelintir korporasi sambil menyingkirkan rakyat kecil,” ujar Jurnalis Joko Prasetyo kepada media-umat.com, Senin (25/5/2026).

Dalam konteks itu, sambung Om Joy, sapaan akrab Joko Prasetyo, Islam memandang sains dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memang wajib dikuasai oleh umat sebagai bagian dari kekuatan peradaban. “Islam tidak anti teknologi, tidak anti AI, dan tidak anti kemajuan ilmu pengetahuan,” tegasnya.

Sayangnya, menurut Om Joy, kondisi ideal tersebut berbeda jauh dengan potret pemanfaatan teknologi dalam rahim kapitalisme saat ini.

Ia mengingatkan, berbagai pekerjaan administratif mulai dari sektor penulisan, desain, penerjemahan, layanan pelanggan, hingga analisis data kini perlahan mulai digusur oleh sistem AI.

“Dalam sistem kapitalisme, kemajuan teknologi sering kali lebih diarahkan untuk mengejar efisiensi biaya dan keuntungan korporasi daripada menjamin kesejahteraan manusia,” imbuh Om Joy.

Solusi Islam Hadapi Dampak Otomatisasi

Melihat dampak sosial tersebut, Om Joy menjelaskan, Islam memberikan jalan keluar sistemik agar perkembangan zaman tidak mengorbankan masyarakat melalui peran aktif negara dalam mengendalikan pasar.

“Ketika otomatisasi dan AI berkembang, negara wajib mengatur dampaknya agar tidak melahirkan pengangguran dan ketimpangan sosial yang merusak kehidupan umat,” tuturnya menambahkan.

Lebih lanjut, ia memaparkan tata kelola tersebut dapat diwujudkan dengan mengarahkan AI sebagai alat bantu kerja manusia, bukan menggusurnya. Negara juga wajib membuka sektor-sektor produktif riil, memperluas lapangan kerja, membangun industri strategis, serta menyiapkan pendidikan dan pelatihan teknologi agar rakyat mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Prinsip keadilan ekonomi ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat 7, “Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”. Oleh karena itu, jaminan kebutuhan pokok seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan harus tetap menjadi tanggung jawab negara agar rakyat tidak dibiarkan jatuh miskin hanya karena perubahan teknologi dan mekanisme pasar.

Berangkat dari prinsip tersebut, Om Joy menegaskan, seluruh regulasi proteksi itu hanya akan berjalan optimal jika disokong oleh penerapan sistem Islam kaffah di bawah institusi khilafah. Dalam institusi tersebut, negara wajib mengarahkan teknologi demi kemaslahatan umat, bukan membiarkan AI hanya dikuasai oligarki teknologi global.

Dengan kata lain, esensi dari lahirnya inovasi dan kemajuan teknologi mutlak diarahkan untuk mengangkat harkat serta kesejahteraan hidup masyarakat luas, bukannya menjadi alat peminggir rakyat kecil di tengah cengkeraman dominasi kapitalisme global.

“Kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin sejahtera, bukan justru menjadikan rakyat tersingkir sementara kapitalisme semakin berkuasa,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: