FIWS: Gaza Masih Berdarah, di Mana Solidaritas Negeri-Negeri Islam?
MediaUmat – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi mempertanyakan di mana solidaritas negeri-negeri Islam terhadap warga Palestina karena tiga tahun sejak peristiwa Taufan al-Aqsha, penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza masih jauh dari kata berakhir.
“Gaza masih berdarah, di mana solidaritas negeri-Negeri Islam?” ujarnya kepada media-umat.com, Sabtu (10/10/2026).
Pasalnya, jelas Farid, ribuan warga terus menjadi korban, jutaan penduduk terdampak pengungsian, sementara kehancuran rumah, permukiman, infrastruktur, dan fasilitas pelayanan publik memperparah krisis kemanusiaan.
Dalam refleksi tiga tahun Taufan al-Aqsha, Farid melihat peran Amerika Serikat dan negara-negara Eropa sebagai kekuatan imperialis musuh umat Islam dan penanggung jawab utama berlanjutnya genosida di Gaza melalui dukungan terhadap entitas Zionis Yahudi.
Menurutnya, dukungan politik, militer, dan berbagai bentuk bantuan dari negara-negara Barat telah membuat Zionis Yahudi terus melanjutkan agresinya.
Ia juga membeberkan, penguasa-penguasa negeri Islam telah melakukan pengkhianatan karena tidak melakukan tindakan nyata untuk menghentikan semua kejahatan ini, tapi malah melayani apa saja kepentingan Amerika Serikat untuk mengkokohkan entitas penjajah Yahudi.
Farid juga mengkritik sistem negara bangsa (nation-state) yang merupakan sistem politik warisan kolonialisme Barat. Sistem tersebut dinilai telah memecah belah umat Islam ke dalam batas-batas teritorial dan mencerai-beraikan persatuan kaum Muslimin.
Oleh karena itu, Farid mengingatkan pentingnya persatuan kaum Muslim untuk mengusir entitas penjajah Yahudi tersebut.
Bagi Farid, persoalan penjajahan Yahudi tidak bisa didekati dengan pendekatan kemanusiaan, diplomasi atau melalui lembaga internasional. Satu-satunya cara untuk mengusir penjajah Yahudi tersebut menurutnya adalah dengan jihad fi sabilillah.
Terakhir Farid menekankan pentingnya kesadaran dan kesungguhan umat untuk memperjuangankan tegaknya kembali Khilafah ‘ala Minhajin an-Nubuwwah.
Ia menilai sistem tersebut diperlukan untuk menghilangkan segala penghalang seperti penguasa pengkhianat dan sistem negara bangsa yang memecah-belah.
“Tiga tahun genosida yang berkelanjutan seharusnya semakin menyadarkan umat Islam,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat