MUI: Tanpa Aksi Nyata, Walkout Hanya Sandiwara
MediaUmat – Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhyiddin Junaidi menilai aksi sejumlah delegasi negara yang meninggalkan ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato, berpotensi hanya menjadi tindakan seremonial apabila tidak disertai kebijakan politik dan ekonomi yang nyata.
“Kalau tidak ada aksi nyata, maka bisa kita terjemahkan itu hanya sandiwara politik global saja,” ungkapnya dalam Fokus to The Point: Sandiwara Walkout Negeri Muslim? di kanal YouTube UIY Official, Ahad (4/10/2026).
Pasalnya, sebut Kiai Muhyiddin, sikap para pemimpin negara Muslim selama ini lebih banyak diwujudkan dalam pernyataan dan tindakan simbolis, belum berupa langkah konkret yang memberikan tekanan kepada Israel. Padahal, masyarakat Muslim di berbagai negara telah menunjukkan sikap tegas menolak genosida terhadap rakyat Palestina.
“Islamnya negara-negara Muslim, khususnya para penguasanya, baru sampai pada tahapan pernyataan, belum sampai ke tahapan Tindakan. Kalau iman itu kan mengucapkannya dengan lidah, mengiyakannya di dalam hati, dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata,” tegasnya.
Menurutnya, langkah konkret yang dapat dilakukan negara-negara Muslim antara lain memutus hubungan diplomatik dengan Israel dan menghentikan kerja sama ekonomi yang menguntungkan negara tersebut.
“Seharusnya walkout itu ditindaklanjuti dengan aksi-aksi nyata di lapangan. Langkah pertama, hubungan diplomatik antara negara-negara Muslim dengan Israel diputuskan,” katanya.
Ia juga menyoroti dukungan Amerika Serikat terhadap Israel yang menjadi faktor penting dalam mempertahankan kekuatan militer negara Zionis tersebut. Karena itu, negara-negara Muslim perlu mengevaluasi hubungan mereka dengan Washington dan tidak terus bergantung pada negara yang mendukung Israel.
“Israel itu tidak akan punya kekuatan tanpa dukungan dari Amerika Serikat. Roh Israel itu ada di Amerika, ditambah bantuan Amerika. Maka tidak ada apa-apanya,” tuturnya.
Ia menyayangkan negara-negara Muslim masih terlihat berhati-hati mengambil sikap terhadap Amerika Serikat, meskipun dukungan Washington kepada Israel terus menuai kecaman internasional. Kekhawatiran terhadap tekanan politik dan dampak hubungan dengan Amerika menjadi salah satu penghambat ketegasan para pemimpin Muslim.
“Di sinilah iman para penguasa itu masih sangat lemah. Mereka takut kalau bertindak keras kepada Amerika, Amerika akan marah,” ujarnya.
Ia menambahkan, persoalan tersebut tidak terlepas dari kepentingan kekuasaan, harta, dan popularitas yang dinilainya menghambat persatuan umat Islam. Padahal, persatuan dan kerja sama negara-negara Muslim diperlukan untuk memperkuat posisi mereka dalam menghadapi berbagai persoalan dunia Islam, termasuk pembebasan Palestina.
“Selama mereka masih terlalu rakus akan jabatan, rakus akan harta benda, rakus popularitas, maka susah bagi kita untuk menyaksikan Palestina bisa merdeka dalam waktu dekat, kecuali dengan izin Allah SWT,” katanya.
Ia pun menilai perjuangan membela Palestina perlu disertai upaya memperkuat penguasaan informasi dan media agar kondisi serta perkembangan di lapangan dapat diketahui masyarakat internasional secara lebih utuh. Pemberitaan yang didominasi narasi pihak tertentu dapat memengaruhi persepsi dunia terhadap konflik tersebut.
“Kita belum bisa menguasai sektor media ini sehingga kemenangan yang diraih oleh umat Islam belum terekspos dengan baik,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat