FIWS: Ambisi Trump atas Kuba Tak Lepas dari Kapitalisme Global
MediaUmat – Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang akan mengambil alih Kuba dalam waktu sekejap, menurut Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi tidak bisa lepas dari ideologi kapitalisme global.
“Tentang pernyataan Donald Trump yang akan me-Venezuela-kan Kuba, ini tidak bisa dilepaskan dari ideologi Amerika yakni kapitalisme,” ujarnya kepada media-umat.com, Ahad (10/5/2026).
Farid mengungkapkan, kapitalisme dalam politik luar negerinya adalah bagaimana menyebarluaskan ideologi kapitalisme untuk mengendalikan dunia karena dominasi kapitalisme itu akan terwujud ketika dunia itu tunduk kepada aturan-aturan global kapitalisme dan itu akan menguntungkan Amerika.
“Jadi apa pun yang dilakukan Presiden Amerika, baik itu Donald Trump, Joe Biden, George W Bush, atau Obama itu prinsipnya adalah didasarkan kepada ideologi kapitalisme ini yang sifatnya eksploitatif untuk merampas kekayaan alam negara lain dan menggunakan berbagai cara, baik itu militer, ekonomi, politik, diplomasi dan sebagainya,” tuturnya.
Ia menegaskan, yang dilakukan oleh Donald Trump yang masih didukung oleh sistem politik Amerika sekarang ini maka sesungguhnya ini tidak bisa dilepaskan dari politik luar negeri Amerika yang berbasiskan kepada kapitalisme.
“Adalah keliru kalau kita melihat seolah-olah apa yang dilakukan oleh Donald Trump itu terpisah dari kebijakan politik luar negeri Amerika yang memang sifatnya itu imperialistik, eksploitatif, dominan. Dan apa yang terjadi sekarang adalah cerminan dari kerakusan ideologi kapitalisme Amerika,” tandasnya.
Farid mengatakan, meski pendekatan dari partai-partai di Amerika atau presiden di Amerika bisa berbeda, itu perkara lain tapi intinya itu adalah penjajahan atau kapitalisme, karena politik luar negeri Amerika hakekatnya adalah al istikmar atau penjajahan.
“Karena itu adalah keliru ketika kita melihat Donald Trump seolah-olah itu adalah persoalan personalnya. Bukan. Ini adalah persoalan kapitalisme itu sendiri. Dan apa yang dilakukan oleh Donald Trump sebenarnya adalah pola-pola berulang yang sebelumnya juga dilakukan oleh Amerika, seperti menggunakan tekanan ekonomi sebagai senjata, sanksi ekonomi itu diposisikan sebagai alat utama menekan negara,” beber Farid.
Jadi, menurut Farid, apa yang dilakukan Trump ini bukan sekadar diplomasi tapi paksaan. Kemudian yang kedua, logika dominasi dan kepatuhan. Ketika Trump memandang dunia ini semuanya itu harus tunduk kepada Amerika, itu sebenarnya sejalan dengan kapitalisme Amerika.
“Demikian juga ancaman serangan militer secara terbuka, seperti melakukan serangan terhadap negara yang mereka lakukan di Irak, di Afghanistan termasuk bahkan bisa jadi menekan sekutu-sekutunya seperti yang dilakukan oleh Donald Trump sekarang terhadap NATO agar kemudian NATO memberikan dukungan kepada Amerika, termasuk Apa yang disebut dengan deal making atau tekan lalu negoisasi. Jadi Amerika selalu menggunakan pola seperti itu, lakukan tekanan-tekanan baik itu ekonomi, militer sampai kemudian negara itu tunduk atau terjadi kekacauan yang luar biasa dan setelah melakukan negoisasi meja perundingan untuk kepentingan Amerika,” bongkar Farid.
Oleh karena itu, menurutnya, jika dunia Islam ini ingin terlepas dari dominasi Amerika maka benar-benar harus mencampakkan kapitalisme dan membangun tatanan dunia baru yang independen.
“Selama dunia Islam, itu masih tunduk kepada Amerika, baik itu tatanan politiknya, tatanan ekonominya, tatanan sosial budayanya yang itu didasarkan pada kapitalisme, maka Amerika akan tetap mengeksploitasi, maka Amerika akan memimpin, karena yang merancang seluruh dunia ini adalah negara-negara kapitalisme yang itu memang dirancang atau didesain untuk kepentingan Amerika,” tegas Farid.
Ia mengingatkan pelajaran penting yang didapat dunia Islam saat ini adalah bahwa untuk mengimbangi Amerika, maka umat Islam itu harus bersatu, membangun tatanan global baru yang didasarkan pada ideologi yang berbeda dengan Amerika.
“Maka pilihannya itu tidak lain adalah ideologi Islam yang diatur oleh syariat Islam dan itu membutuhkan negara. Negara yang akan menjadi negara adidaya yang sifatnya global, itulah negara Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat