Filolog: Sejarah Hari Santri Perlu Diluruskan

 Filolog: Sejarah Hari Santri Perlu Diluruskan

MediaUmat – Sejarah perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia perlu diluruskan karena banyak peristiwa penting yang dikaburkan dan dikuburkan, Filolog Salman Iskandar menyoroti penetapan Hari Santri 22 Oktober yang seharusnya ditetapkan 8 November.

“Kalau kita mengingat Hari Santri harusnya tanggal 8 November, ketika apa? Ketika para santri bergerak untuk dibentuk menjadi Laskar Sabilillah,” ujarnya dalam Focus: Resolusi Jihad, Relevansi Kini, Ahad (25/10/2026) di kanal YouTube UIY Official.

Karena, menurutnya, 22 Oktober 1945 itu Revolusi Jihad yang difatwakan Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, kemudian diteguhkan melalui Muktamar Umat Islam Indonesia di Surabaya pada 7–8 November 1945. Pertemuan besar tersebut diselenggarakan oleh Pengurus Besar Masyumi yang menghimpun berbagai organisasi massa dan organisasi politik Islam di Indonesia.

“Resolusi jihad 22 Oktober 1945 yang difatwakan oleh Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, kemudian ditindaklanjuti muktamar umat Islam. Indonesia yang mengadakan pertemuan besar di Kota Surabaya semenjak tanggal tanggal 7 hingga tanggal 8 November tahun 1945 yang menyelenggarakan adalah Pengurus Besar Masyumi yang menghimpun semua organisasi massa dan juga organisasi politik Islam yang ada di negeri ini,” bebernya.

Ia menambahkan, keputusan tersebut menjadi bagian penting dalam menggerakkan perjuangan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada 8 November 1945 keputusan Pengurus Besar Masyumi juga mendorong pembentukan pasukan pelapis dari Laskar Hizbullah, yakni Laskar Sabilillah, yang kemudian berkembang di berbagai daerah.

Ia juga menegaskan, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya tidak bisa dilepaskan dari rangkaian perjuangan dan seruan jihad yang telah muncul sebelumnya. Ultimatum pasukan Inggris agar rakyat menyerahkan senjata justru dihadapi para pejuang dengan persiapan untuk melakukan perlawanan.

“Pada tanggal 10 November itu mereka tergerak bukan atas ultimatum pasukan British Indian Army dan pasukan Sekutu, tetapi atas Resolusi Jihad Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari 22 Oktober dan juga Resolusi Jihad Pengurus Besar Masyumi dalam Muktamar Umat Islam Indonesia di Surabaya tanggal 7 November,” tegasnya.

Salman menuturkan, Laskar Hizbullah telah memiliki pengalaman perjuangan sebelum pertempuran besar mempertahankan kemerdekaan. Pasukan tersebut sebelumnya menjalani pendidikan militer di Cibarusa, Bekasi, pada Februari 1945 dan kemudian terlibat dalam berbagai pertempuran melawan tentara Jepang maupun pasukan Sekutu. Perjuangan laskar-laskar Islam di wilayah Cimahi, Bandung Raya, dan peristiwa Bandung Lautan Api.

“Dalam peristiwa Cimahi, Laskar Hizbullah dipimpin oleh alim ulama yang ada di Cimahi dan Bandung Raya, di antaranya KH Utsman Domiri, yang juga dibantu Tentara Keamanan Rakyat, Kompi Daeng Muhammad Ardiwinata. Mereka adalah bagian dari santri sinatria yang ikut berjuang mempertahankan negeri ini,” jelasnya.

Menurut Salman, peran Laskar Sabilillah juga terlihat dalam perjuangan di Bandung dan sekitarnya. Ia mencontohkan Muhammad Toha dalam peristiwa peledakan gudang amunisi di Dayeuhkolot serta Muhammad Ramdan yang namanya diabadikan menjadi nama jalan di Bandung. Baginya, berbagai kisah tersebut menunjukkan keterlibatan pemuda dan laskar perjuangan rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan.

“Dua orang itu adalah pemuda kesatria dari laskar perjuangan rakyat. Muhammad Ramdan dikenal sebagai sosok Laskar Sabilillah yang sebelumnya dibentuk sejak 8 November 1945 di Kota Malang dan menyebar ke berbagai pelosok negeri sebagai pasukan pelapis Laskar Hizbullah,” katanya.

Lebih jauh, Salman mengaitkan sejarah perjuangan tersebut dengan kewajiban mempertahankan negeri dari ancaman pihak asing. Kesiapsiagaan menghadapi agresi tidak semata-mata didasarkan pada perintah penguasa, tetapi juga pada keyakinan terhadap kewajiban agama untuk mempertahankan negeri.

“Kalau hari ini kita diperintahkan untuk berperang, misalnya ketika tentara Amerika atau Cina masuk ke negeri ini, maka kita bersiapsiaga untuk mempertahankan negeri ini bukan semata-mata karena perintah pemimpin, tetapi karena perintah syariat,” ujarnya.

Salman menyatakan, jihad dalam ajaran Islam memiliki relevansi sepanjang zaman. Ia merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa jihad berlangsung hingga hari kiamat. Menurutnya, perjuangan umat Islam harus dipahami sesuai tuntunan syariat dan keadaan yang dihadapi.

“Rasul telah menyatakan bahwa jihad akan berlangsung sampai hari kiamat, baik ketika kita berada dalam kepemimpinan Islam ataupun tidak. Artinya, semangat perjuangan itu tetap relevan dalam menghadapi berbagai ancaman terhadap umat dan negeri,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *