Farid Wadjdi: “Tak Ada Perdamaian Sejati Selama Penjajahan Masih Ada”
MediaUmat – Menanggapi kesepakatan damai Iran-Amerika Serikat, Pemimpin Redaksi Majalah Al-Wa’ie Farid Wadjdi menegaskan tidak akan ada perdamaian sejati di Timur Tengah selama dominasi AS dan Israel masih bercokol di kawasan.
“Tidak ada perdamaian sejati selama penjajahan itu [dominasi AS dan Israel di Timur Tengah] masih ada,” tegasnya dalam Sorotan Dunia Islam, Rabu (17/6/2026) di Radio Dakta 107.0 FM Bekasi.
Farid menilai kesepakatan yang lahir setelah perang tidak otomatis mengakhiri konflik secara mendasar.
Menurutnya, akar krisis di Timur Tengah tetap bertahan karena Amerika masih mendominasi kawasan, mengendalikan banyak penguasa Arab, dan menopang eksistensi Zionis Yahudi.
“Apakah dengan perdamaian atau nota kesepakatan ini tiga hal ini kemudian berakhir? Ternyata kan tidak. Amerika tetap dominan di Timur Tengah, Amerika juga masih mengendalikan penguasa-penguasa Arab, dan eksistensi Zionis Yahudi masih kokoh,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan, kesepakatan damai saat ini tidak boleh dipandang sebagai jaminan berakhirnya konflik.
Menurutnya, rekam jejak Amerika dan Israel justru menunjukkan potensi besar terjadinya pelanggaran terhadap berbagai kesepakatan yang dibuat.
“Rekam jejak Amerika dan Israel selama ini tidak bisa dipercaya. Potensi pelanggaran yang dilakukan oleh Amerika itu sangat besar,” ungkapnya.
Di sisi lain, Farid menilai perang yang terjadi menunjukkan AS gagal mencapai tujuan utamanya, yakni memaksa Iran tunduk sepenuhnya. Berbagai tekanan militer yang dilakukan Washington tidak mampu mematahkan perlawanan Teheran.
“Donald Trump itu sangat ingin Iran tunduk secara total. Tapi kemudian Amerika bisa disebut tidak bisa mencapai keinginannya secara penuh,” katanya.
Ia menambahkan, Iran bahkan mampu memberikan respons yang diperhitungkan meskipun menghadapi tekanan besar dari Amerika dan sekutunya.
“Awalnya Amerika berharap dengan serangan singkat terhadap Iran akan terjadi perubahan atau membuat Iran tunduk. Bahkan Iran bisa memberikan perlawanan yang cukup keras,” jelasnya.
Meski demikian, Farid menegaskan, perlawanan Iran tidak boleh dipahami sebagai tanda berakhirnya dominasi Amerika di kawasan.
Menurutnya, Iran sejauh ini hanya menunjukkan kemampuan bertahan dan melakukan serangan balasan.
“Apa yang dilakukan oleh Iran sekarang ini lebih pada perlawanan. Yang dilakukan Iran itu sebatas balasan terhadap serangan yang dilakukan oleh Amerika dan Israel terhadap Iran,” tuturnya.
Farid bahkan menilai Amerika sengaja mempertahankan keberadaan Iran sebagai bagian dari strategi politiknya di Timur Tengah.
Dalam pandangannya, Iran diposisikan sebagai ancaman agar negara-negara Arab tetap bergantung pada perlindungan Amerika.
“Ada dua negara yang tidak akan dimusnahkan oleh Amerika. Pertama adalah Israel, yang kedua adalah Iran sendiri,” ujarnya.
“Iran dipersepsikan sebagai ancaman bagi negara-negara Arab lainnya. Dengan adanya ancaman Iran, Amerika bisa menggertak penguasa-penguasa Arab agar tetap berlindung kepada mereka,” lanjutnya.
Menurut Farid, hubungan Amerika dengan banyak rezim Arab dibangun melalui politik oil for security, yakni pertukaran antara jaminan keamanan dan kepentingan ekonomi maupun politik Amerika di kawasan.
“Keberadaan Iran ini alat jual Amerika untuk mendapatkan minyak dari negara-negara Timur Tengah sebagai security umbrella atau payung keamanan di Timur Tengah,” terangnya.
Menurutnya, keberadaan pangkalan militer Amerika di negeri-negeri Arab menunjukkan dominasi Washington masih sangat kuat. Karena itu, serangan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer tidak mengubah struktur kekuasaan yang ada.
“Pangkalan militer Amerika itu akan tetap ada. Selama pangkalan militer Amerika itu masih ada maka dominasi Amerika di Timur Tengah itu akan kuat,” tegasnya.
Persatuan Dunia Islam Kunci Perubahan
Karena itu, Farid mengingatkan bahwa umat Islam tidak boleh menggantungkan harapan kepada Iran maupun negara tertentu. Yang dibutuhkan adalah kekuatan politik dunia Islam yang bersatu dan independen.
“Tanpa persatuan dunia Islam akan berat untuk melawan Amerika dan sekutu-sekutu globalnya,” ujarnya.
Ia menilai kelemahan terbesar umat Islam saat ini terletak pada terpecahnya negeri-negeri Muslim ke dalam negara-negara bangsa yang masing-masing lebih mengutamakan kepentingan nasional dibanding kepentingan umat secara keseluruhan.
“Yang harus dibangun oleh dunia Islam itu adalah kekuatan politik global yang independen, yang tidak bisa diintervensi,” tandasnya.
Karena itu, Farid menilai berbagai kesepakatan damai hanya akan menjadi jeda sementara selama akar penjajahan di kawasan tidak dicabut dan dunia Islam tetap berada dalam kondisi terpecah.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat