Farid Wadjdi: Penguasa Muslim Wajib Bersatu, Bebaskan Palestina dengan Khilafah
MediaUmat – Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menegaskan, penguasa negeri-negeri Islam wajib bersatu, menggerakkan pasukan, dan bernaung di bawah Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah untuk membebaskan Palestina, alih-alih berputus asa dengan mengakui entitas penjajah.
“Karena itulah kewajiban penguasa-penguasa negeri Islam untuk bersatu, menggerakkan pasukan dan bersatu di bawah naungan negara Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah, bukan malah putus asa,” ujarnya kepada media-umat.com, Ahad (30/8/2026).
Pernyataan tersebut merespons laporan media terkait kesediaan Arab Saudi untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel, berbekal syarat dibentuknya negara Palestina merdeka berdasarkan batas wilayah tahun 1967 dan beribu kota di Yerusalem Timur.
Menurut Farid, sikap menjadikan pembentukan negara Palestina sebagai syarat normalisasi merupakan sebuah kesalahan mendasar dan kebatilan secara fikih siasah. Normalisasi itu sendiri berarti mengakui eksistensi penjajahan Zionis yang berisiko melegitimasikan aksi kekerasan terhadap warga Palestina atas dalih keamanan negara.
“Normalisasi hubungan dengan Israel, dalam pengertian mengakui keberadaan negara Israel, itu merupakan dosa besar karena berarti mengakui adanya penjajahan,” tegasnya, seraya menyebut hal itu sebagai pengkhianatan terhadap kaum muslimin.
Selain itu, persyaratan tersebut hanyalah bentuk penundaan terhadap kewajiban utama penguasa Muslim. “Persyaratan itu tidak lain adalah upaya Saudi untuk menunda-nunda kewajiban, padahal kewajiban yang harus mereka lakukan adalah membebaskan tanah Palestina sesegera mungkin dengan mengirimkan pasukan,” lanjut Farid.
Membangun Negara Adidaya dan Kekuatan Pertahanan
Farid mengingatkan, apabila ada penguasa Arab—termasuk Saudi—yang berpasrah dan berlindung di balik alasan tidak mampu mengalahkan Israel akibat dukungan Amerika Serikat, hal itu tidak boleh dijadikan dasar untuk menyerah.
Menurutnya, justru Islam memerintahkan umat dan para pemimpinnya untuk mempersiapkan kekuatan serta membangun negara adidaya yang mampu mengimbangi AS. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (QS al-Anfal: 60).
Ia menambahkan, sejarah membuktikan para sahabat Rasulullah SAW tidak pernah gentar menghadapi imperium besar seperti Persia dan Romawi demi menjalankan kewajiban futuhat dan jihad fisabilillah. Keyakinan atas pertolongan Allah SWT menjadi kunci utama perjuangan, sesuai janji-Nya dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (QS Muhammad: 7).
“Sahabat-sahabat Rasulullah SAW ketika Rasulullah memerintahkan untuk menyebarluaskan Islam termasuk melakukan futuhat, itu tidak mempertimbangkan sehebat apa imperium Persia, sehebat apa imperium Romawi. Yang mereka lakukan adalah melakukan kewajiban untuk menyebarluaskan Islam serta menyiapkan diri untuk jihad fisabilillah,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat