Pada 24 Maret 2026, Menteri Perang entitas Yahudi, Yisrael Katz, mengumumkan bahwa pasukannya akan menguasai wilayah di Lebanon selatan hingga Sungai Litani, dengan menyatakan: “Penduduk yang mengungsi tidak akan kembali ke selatan Litani sebelum keamanan penduduk entitas Yahudi utara terjamin.”
Katz berkata, “Pasukannya telah meledakkan kelima jembatan di atas Sungai Litani yang digunakan oleh Partai Iran … juga akan menguasai jembatan yang tersisa dan zona keamanan yang membentang hingga Sungai Litani.” “Dirinya dan Perdana Menteri Netanyahu telah menginstruksikan tentara untuk mempercepat penghancuran rumah-rumah warga Lebanon di desa-desa di sepanjang garis depan dan untuk menghilangkan ancaman yang dihadapi semua wilayah (Israel). Jadi, semua jembatan di atas Sungai Litani akan dihancurkan,” tambahnya.
Musuh menghancurkan jembatan-jembatan di Sungai Litani dan menyatakan akan menguasai wilayah di selatan sungai untuk menjadikannya zona aman bagi mereka. Wilayah ini membentang sejauh 30 kilometer dari perbatasan pendudukan tahun 1948.
Sementara para penguasa Lebanon berupaya mencapai perdamaian dengan musuh kriminal ini, yang tidak menerima apa pun selain kepatuhan, penghinaan, dan bekerja hanya untuk kepentingannya sendiri, seperti yang dilakukannya Otoritas Palestina, dan juga rezim Suriah di bawah al-Julani, yang menunjukkan kepatuhan dan menyerah kepada entitas Yahudi dengan menciptakan zona penyangga di Suriah selatan, yang membentang hingga ibu kota, Damaskus.
Pada 19 Maret 2026, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam mengatakan kepada CNN bahwa ia telah mengirim surat kepada Presiden AS meminta bantuan untuk mengakhiri konflik Lebanon, dengan mengatakan: “Saya ingin meyakinkan Presiden Trump tentang kesediaan kami untuk segera memulai negosiasi dengan pihak (Israel).” Dia menggambarkan Amerika, musuh Islam dan kaum Muslim, yang sedang melancarkan perang terhadap Iran dan mendukung entitas Yahudi dalam genosida di Gaza, sebagai “mitra strategis” bahkan di matanya presiden AS, Trump, “lebih mampu daripada pihak lain mana pun untuk memainkan peran penting dalam mengakhiri perang.”
Nawaf mengklaim bahwa Lebanon menanggung akibat dari konflik antara Yahudi dan Iran, dan menggambarkan rakyat Lebanon sebagai korban. Padahal semua tahu bahwa entitas Yahudi juga menargetkan Lebanon. Perdana Menteri entitas Yahudi Netanyahu telah menyatakan keinginannya untuk mendirikan “(Israel) Raya” yang membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Eufrat, yang menyiratkan bahwa ia ingin mengendalikan Lebanon, karena negara itu termasuk dalam wilayah tersebut.
Seandainya Perdana Menteri dan mereka yang bertanggung jawab atas rezim di Lebanon memiliki sedikit harga diri, tentu mereka akan bangkit dan memobilisasi tentara, menyatakan jihad melawan entitas Yahudi, dan membangkitkan semangat rakyat Lebanon untuk berjuang di jalan Allah. Sebab hanya dengan ini mereka akan mampu menundukkan semua kelompok bersenjata kepada negara, dan dengan ini pula mereka akan mampu mencegah musuh. Ingat! Rakyat Lebanon telah berkali-kali membuktikan kemampuan mereka untuk menghadapi dan mengalahkan entitas Yahudi sejak awal agresinya terhadap Lebanon pada tahun 1970-an (hizb-ut-tahrir.info, 25/3/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat