Perdana Menteri Australia: Syabab Hizbut Tahrir Memaksanya Meninggalkan Masjid

Surat kabar The Independent melaporkan pada 20 Maret 2026, bahwa “para pengunjuk rasa memboikot Perdana Menteri Australia Anthony Albanese dan Menteri Dalam Negeri Tony Burke, mereka menyoraki keduanya selama kunjungannya ke Masjid Lakemba di barat daya Sydney, masjid terbesar di negara itu, selama shalat Idul Fitri. Para pengunjuk rasa mengungkapkan kemarahan mereka atas sikapnya terhadap serangan (Israel) di Gaza.” Mereka menuntut keduanya untuk pergi dan menyebutnya sebagai pendukung genosida yang dilakukan oleh entitas Yahudi di Gaza. Seorang petugas keamanan terlihat membanting salah satu demonstran ke tanah sebelum mengantarnya pergi. Perdana Menteri Australia dan Menteri Dalam Negerinya pergi tak lama setelah itu. Namun, para demonstran mengikutinya, sambil meneriakkan hinaan “Malulah kalian”.

Perdana Menteri Australia mengklaim kunjungannya ke masjid tersebut sangat positif, namun ia mencatat bahwa dua orang menimbulkan keributan di antara kerumunan 30.000 orang. Ia menjelaskan bahwa “Sebagian dari keresahan tersebut berasal dari penetapan Partai Islam Hizbut Tahrir sebagai kelompok kebencian terlarang oleh pemerintah Australia bulan ini.”

Surat kabar tersebut melaporkan bahwa sejumlah besar demonstran turun ke jalan ketika presiden entitas Yahudi, Isaac Herzog, mengunjungi Australia Februari lalu atas undangan Perdana Menteri Australia.

Para pejabat Barat sibuk mengunjungi masjid-masjid pada acara-acara keagamaan dalam upaya untuk menipu floating mass (massa mengambang) di antara kaum Muslim agar percaya bahwa mereka bukan musuh kaum Muslim dan mereka tidak memusuhi agamanya, Islam. Ketahuilah bahwa sebenarnya mereka sedang bekerja melawan kaum Muslim, karena mereka berupaya untuk mengintegrasikan kaum Muslim dan meleburnya, di mana mereka menyerukan agar kaum Muslim berintegrasi ke dalam masyarakat mereka, yaitu, menerima budaya Barat dan kebijakannya dalam mendukung entitas Yahudi serta meninggalkan budaya Islam dan identitas Islamnya. Namun, Hizbut Tahrir melawan semua upaya mereka ini dengan meningkatkan kesadaran di kalangan kaum Muslim tentang budaya Islam dan mendesak kaum Muslim untuk berpegang teguh pada identitas Islamnya. Karena alasan ini, negara-negara Barat membatasi aktivitas syabab Hizbut Tahrir, bahkan beberapa telah melarangnya, seperti Jerman dan Inggris, kemudian diikuti oleh Australia (hizb-ut-tahrir.info, 25/3/2026).

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: