Dengan Perang Berlanjut … Ruang Manuver Trump Semakin Menyempit
Asharq Al Awsat, 1 Agustus 2026 – Lima bulan setelah perang dengan Iran, ruang manuver Trump tampaknya semakin menyempit saat ia mencari jalan keluar yang tampaknya semakin sulit ditemukan.
Trump mengatakan, pada hari Rabu (29/7), setelah serangan terhadap Iran yang dilakukan sebagai respons terhadap serangan yang dilakukan oleh Teheran, yang menargetkan pangkalan Amerika di Yordania, “Kami akan menyerang mereka dengan keras karena ini adalah giliran kami.”
Dengan melakukan hal itu, presiden dari Partai Republik tersebut dengan jelas menunjukkan keterbatasan dan kegagalan strategi yang didasarkan pada upaya memaksa Iran untuk menyerah di bawah tekanan rudal, sebuah strategi yang sejauh ini belum berhasil.
Seiring meluasnya konflik di Timur Tengah, yang mencapai Irak dan bahkan serangan Damietta di Mesir, presiden AS mendapati dirinya dalam dilema. Selama pertemuan dengan kabinetnya di Camp David pada hari Jumat (31/7), ia tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan strategi, yang mengindikasikan kurangnya alternatif yang jelas.
NBC News melaporkan pada hari Kamis (30/7), mengutip pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, bahwa Trump sangat kesal dan mengungkapkan kemarahannya selama pertemuan Gedung Putih baru-baru ini atas pilihan terbatas yang tersedia baginya untuk mengakhiri perang, karena masalah ini sekarang sebagian besar bergantung pada Teheran setelah ia membual tentang mengendalikan jalannya perang dan negosiasi dengan Iran.
Setelah Amerika Serikat dan entitas Yahudi melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari, yang mengakibatkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan beberapa pejabat pada hari pertama perang, keadaan tidak berjalan sesuai harapan Trump, yang telah berbicara tentang perang cepat di mana ia akan mencapai tujuannya, mirip dengan skenario Venezuela.
Setelah sesumbar tentang melenyapkan angkatan udara dan angkatan laut Iran, rudal dan drone Iran mengganggu mimpi Trump dan menggagalkan skenario yang dia harapkan.
Penguasaan Iran atas Selat Hormuz dan ketidakmampuan Angkatan Laut AS untuk membukanya, meskipun telah memberlakukan blokade di atas blokade Iran, telah menambah dilema baru bagi Presiden Trump, yang tampak tidak berdaya untuk membuka selat tersebut, sehingga mengurangi kedudukan Amerika Serikat sebagai negara adidaya.
Perjanjian kerangka kerja dengan Iran, yang ditandatangani pada 17 Juni, dengan cepat runtuh. Perjanjian tersebut menghadapi kritik tajam, terutama di Amerika Serikat, di mana perjanjian itu dianggap menguntungkan Teheran. Keruntuhannya mencerminkan tuntutan Iran agar Amerika Serikat mematuhi ketentuan perjanjian sebagaimana yang mereka tafsirkan—yaitu, tidak membuka jalur pelayaran selatan di Selat Hormuz. Hal ini akan memungkinkan Iran untuk mempertahankan kendali atas selat tersebut dan mendikte ketentuan perjanjian sesuai dengan pemahamannya sendiri, sebuah posisi yang tidak dapat diterima oleh pemerintahan Trump. Sungguh realita ini semakin membatasi pilihan Trump dalam menangani Iran.
Jika Garda Revolusi Iran terus bertekad untuk menantang Amerika Serikat dan tidak terintimidasi oleh ancamannya yang berulang-ulang, maka pemerintahan Trump akan menyeret Amerika Serikat ke dalam perang baru, yang selama kampanyenya Trump menolak jenis perang ini dan mengkritik presiden-presiden sebelumnya yang memulai perang di Irak dan Afghanistan (hizb-ut-tahrir.info, 2/8/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat