MediaUmat – Kantor Media Hizbut Tahrir (HT) Wilayah Yordania merilis siaran pers yang mengkritik pernyataan Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, terkait keberadaan militer Amerika Serikat di negara tersebut. Menurut HT, pernyataan Safadi yang membantah adanya pangkalan militer Amerika di Yordania bertentangan dengan berbagai fakta yang muncul di lapangan.
Dalam diskusi panel di Aspen Security Forum di Amerika Serikat, Safadi menyatakan bahwa tidak terdapat pangkalan militer Amerika di Yordania. Ia menegaskan bahwa keberadaan personel militer Amerika hanya merupakan bagian dari kerja sama strategis jangka panjang antara Yordania dan Amerika Serikat. Safadi juga menolak klaim Iran yang menyebut adanya pangkalan Amerika di Yordania sebagai alasan serangan terhadap target-target Amerika.
Namun, HT menyoroti bahwa kurang dari dua hari setelah pernyataan tersebut, sejumlah pejabat Amerika melaporkan adanya serangan Iran terhadap pasukan Amerika di Yordania. Menurut laporan tersebut, serangan-serangan dalam kurun lima hari mengakibatkan dua tentara Amerika tewas, seorang lainnya dinyatakan hilang, puluhan personel terluka, serta beberapa helikopter mengalami kerusakan. Selain itu, sumber militer Yordania menyatakan bahwa sistem pertahanan udara negara tersebut berhasil mencegat sejumlah rudal Iran yang melintas di wilayah udaranya.
Dalam siaran persnya, HT berpendapat bahwa keberadaan militer Amerika di Yordania pada hakikatnya merupakan bentuk pendudukan, meskipun pemerintah Yordania menyebutnya sebagai bagian dari perjanjian kerja sama pertahanan. Organisasi tersebut menilai perjanjian tersebut bertentangan dengan syariat Islam dan dianggap sebagai bentuk ketergantungan politik kepada Amerika Serikat.
HT juga mengutip laporan U.S. Congressional Research Service yang menyebutkan bahwa sekitar 4.000 personel militer Amerika ditempatkan di Yordania, di luar tambahan pasukan yang dikirim setelah pecahnya konflik regional. Menurut organisasi tersebut, Amerika Serikat juga telah memindahkan sebagian pasukannya dari kawasan Teluk ke Yordania yang dinilai lebih aman untuk kepentingan operasional militernya.
Selain itu, HT mengutip pernyataan Yael Lempert, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Yordania, yang pada 2023 menyebut Kedutaan Besar Amerika Serikat di Amman sebagai salah satu kedutaan terbesar di dunia. Dalam pernyataannya, Lempert juga menyebut terdapat lebih dari 33.000 warga negara Amerika yang tinggal di Yordania dan lebih dari 150.000 wisatawan Amerika mengunjungi negara tersebut setiap tahun.
Siaran pers itu juga menyebut sejumlah fasilitas yang digunakan pasukan Amerika, antara lain Pangkalan Udara Muwaffaq Al-Salti yang modernisasinya didanai Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Tower 22 di dekat perbatasan Suriah dan Irak, Pangkalan Udara King Hussein, Pangkalan Udara Prince Hassan, serta sejumlah fasilitas militer dan sipil lainnya yang digunakan berdasarkan Perjanjian Kerja Sama Pertahanan antara Yordania dan Amerika Serikat.
Di bagian penutup, HT menyerukan kepada masyarakat Yordania agar memandang keberadaan Amerika Serikat di kawasan sebagai bentuk penjajahan serta menilai Amerika dan Israel sebagai pihak yang memerangi umat Islam. Organisasi tersebut kembali menegaskan pandangannya bahwa perubahan kondisi umat hanya dapat diwujudkan melalui tegaknya Khilafah Rasyidah ala minhaj kenabian. Sebagai penegasan, siaran pers tersebut ditutup dengan kutipan Surah Al-Ma’idah ayat 51.[]
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat