AS Melancarkan Serangan terhadap Ratusan Situs di Iran
Amerika Serikat (AS) mengumumkan bahwa mereka telah melancarkan serangan terhadap sekitar 80 situs di Iran pada 8/7/2026. Trump menyatakan di platform Truth Social-nya bahwa “serangan Amerika terjadi sebagai operasi pembalasan sebagai respons terhadap Iran yang menargetkan kapal-kapal.”
Trump berkata: “Jika lebih banyak serangan terjadi, situasinya akan menjadi lebih buruk.” “Kami akan memukul mereka dengan sangat keras, setiap kali mereka memukul kami, dan kami akan membalas mereka dua kali lipat,” tambahnya.
Trump berkata: “Nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Iran telah habis masa berlakunya dan dirinya tidak ingin kerjasama dengannya (Iran).” Namun beberapa menit kemudian, Trump menulis bahwa “dirinya terbuka untuk melanjutkan perundingan jika para perunding menginginkannya. Saya akan menyerahkan kepada para perunding hebat kami untuk melanjutkan perundingan jika mereka mau, tapi menurut saya itu tidak pantas. Saya tidak suka orang-orang ini (Iran).” Keesokan harinya, pada 9/7/2026, AS melancarkan serangan terhadap sekitar 90 situs di Iran.
Sementara Iran mengumumkan bahwa mereka membalas dengan melancarkan serangan terhadap pangkalan dan kepentingan AS di Kuwait dan Bahrain. Mereka juga mengumumkan bahwa 14 warga negaranya tewas dalam serangan AS tersebut. Ketua Parlemen Iran dan kepala negosiator Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan, “Amerika belum belajar bahwa intimidasi dan pelanggaran janji tidak akan dibiarkan tanpa hukuman, dan saya akan mengatakannya dengan jelas: jika Anda menyerang, Anda akan diserang balik.” Ia menambahkan, “Selat Hormuz hanya akan dibuka melalui pengaturan Iran, bukan ancaman Amerika.”
Sebuah nota kesepahaman ditandatangani antara kedua pihak pada 18 Juni 2026, yang menetapkan gencatan senjata di semua front. Nota kesepahaman tersebut juga menetapkan penarikan pasukan AS dari sekitar Iran. Namun, AS tidak mematuhi perjanjian ini dan menggunakan serangan secara berkala sebagai cara untuk menekan Iran dalam negosiasi yang bertujuan untuk menerapkan nota kesepahaman hingga tercapainya kesepakatan akhir yang sesuai tujuan AS. Tujuan utama AS adalah menjadikan Iran sebagai negara bawahan yang tunduk, tetapi para politisi Iran, yang diwakili oleh presiden, ketua parlemen, dan menteri luar negeri, siap untuk bekerjasama dengan AS sebagai negara satelit.
Trump menulis di platformnya bahwa “para oposisi pemerintah tidak berhasil menggulingkan rezim karena mereka tidak bersenjata, mereka dibunuh, tidak ada yang bisa merebut kekuasaan, sebab mereka tidak memiliki senjata, sementara pihak lain memiliki senapan mesin dan membunuh mereka.”
Tujuan AS adalah menjadikan Iran sebagai negara bawahan, itulah sebabnya mengapa AS mendukung oposisi. Ketika oposisi gagal, AS melancarkan perang terhadapnya, membunuh para pemimpin politik dan militer tingkat atas, sehingga harapannya para politisi yang bersedia mengikuti dan setia pada Amerika akan berkuasa. Tetapi Garda Revolusi menginginkan kemerdekaan.
Oleh karena itu, seorang pejabat AS mengatakan kepada CNN pada 8 Juni 2026: “Situasi dengan Iran tetap bergejolak, dan pasukan AS dalam keadaan siaga tinggi karena ketegangan meningkat antara Teheran dan Washington.” Hal ini menyiratkan bahwa AS akan menggunakan serangan tersebut untuk menekan Iran agar mencapai tujuannya (hizb-ut-tahrir.info, 9/7/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat