AS-Jerman Tegang, Tak akan Sampai Bubarkan NATO
MediaUmat – Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana menilai ketegangan diplomatik antara AS dan Jerman tidak akan sampai membubarkan NATO karena posisi aliansi tersebut masih sangat vital bagi Washington.
“NATO masih dianggap terlalu berharga bagi kepentingan global AS untuk dibubarkan begitu saja secara mendadak,” ujarnya kepada media-umat.com, Selasa (5/5/2026).
Menurut Budi, keputusan AS menarik sekitar 5.000 personel militernya dari Jerman bukanlah pertanda bubarnya NATO. Langkah tersebut lebih merupakan kombinasi tekanan politik dan reorientasi strategi militer Washington.
“Secara strategis, AS sedang melakukan pergeseran fokus atau pivot ke kawasan Indo-Pasifik. Pengurangan pasukan di Jerman sering kali diikuti dengan relokasi ke wilayah yang lebih dekat dengan Rusia, seperti Polandia atau negara Baltik, agar lebih efektif secara operasional,” paparnya.
Isu penarikan pasukan ini, tambah Budi, sering digunakan AS sebagai instrumen untuk menekan negara-negara Eropa agar meningkatkan anggaran pertahanan mereka hingga 2% dari PDB. AS ingin menegaskan pesan bahwa mereka tidak ingin lagi memikul beban keamanan Eropa sendirian.
Dilansir cnnindonesia.com (3/5), NATO kini tengah melakukan koordinasi intensif dengan Washington menyusul keputusan Pentagon untuk menarik sekitar 5.000 personel militer dari Jerman pada tahun 2026. Langkah ini dipicu oleh keretakan hubungan diplomatik antara Presiden Donald Trump dan Kanselir Friedrich Merz terkait kebijakan terhadap Iran.
Keuntungan Strategis bagi AS
Budi menjelaskan, keberadaan NATO memberikan keuntungan besar bagi AS, terutama dalam mempertahankan dominasi politik di Eropa dan memiliki infrastruktur pangkalan militer untuk operasi di Timur Tengah serta Afrika.
“Jika NATO bubar, Amerika akan kehilangan pengaruh signifikan di daratan Eropa dan industri pertahanan mereka bisa kehilangan pasar utama,” tuturnya. Di sisi lain, Eropa juga akan menghadapi krisis keamanan mendadak karena selama ini mereka bergantung pada payung keamanan nuklir AS.
Pelajaran bagi Dunia Islam
Dinamika ketegangan AS-Jerman ini, menurut Budi, memberikan sedikitnya empat pelajaran penting bagi negara-negara Muslim mengenai kerapuhan aliansi yang hanya berbasis pada kepentingan materi.
Pertama, aliansi yang dibangun di atas kepentingan materi dan politik pragmatis, bersifat rapuh dan dapat pecah kapan saja. “Kaum Muslim harus sadar bahwa bersandar pada kekuatan asing tidak memberikan jaminan keamanan jangka panjang,” tuturnya.
Kedua, pentingnya kemandirian industri militer (i’dadul quwwah). Bergantung pada payung keamanan negara lain hanya akan menjadikan negara Muslim sebagai pion dalam papan catur kekuatan besar.
Ketiga, urgensi persatuan dunia Islam. “Jika negara-negara Eropa saja bisa bersatu dalam satu pakta pertahanan, seharusnya dunia Islam berpotensi lebih besar untuk memiliki pertahanan kolektif berdasarkan kesamaan akidah demi melindungi sumber daya alam dan wilayahnya,” seru Budi.
Keempat, kasus Jerman membuktikan bahwa siapa yang membayar, dialah yang mengatur. Selama negara-negara Muslim masih bergantung pada bantuan militer asing, kedaulatan mereka akan selalu terintervensi. “Karenanya, para penguasa negeri Muslim perlu membangun kekuatan yang mandiri, bukan mengharap restu kekuatan global,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat