Aktivis: Semua Manusia Tertaklif Hukum Allah

 Aktivis: Semua Manusia Tertaklif Hukum Allah

MediaUmat Aktivis Dakwah Nasional Ratu Erma Rachmayanti menegaskan, semua manusia tertaklif menjalankan urusannya sesuai hukum Allah. “Kita sebagai hamba Allah baik sebagai individu, sebagai kumpulan masyarakat, dan juga dalam kehidupan berbangsa di situ ada pemimpin. Semuanya terkena taklif, terkena beban, untuk menjalankan semua kepentingannya, semua urusannya, sesuai dengan hukum Allah SWT,” tuturnya dalam video Konsekuensi Menentang Hukum Allah, Kamis (5/3/2026) melalui kanal YouTube Mutiara Islam Kafah.

Ia melanjutkan, ada hukum Allah yang berkaitan dengan individu, masyarakat, dan negara. “Kalau kita tidak menerapkan hukum-hukum itu maka kita bisa masuk ke dalam tiga kategori; kafir, zalim, atau fasik,” jelasnya sembari mengutip Al-Qur’an surah al-Maidah ayat 44, 45, dan 47.

Ia mengingatkan, agar umat Islam mencermatinya. Jangan sampai merasa Muslim tetapi terkategori ke dalam ayat-ayat itu.

Ia mencontohkan perwujudan frasa “Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” dalam QS al-Maidah ayat 44, adalah mereka yang mengatakan, “Hukum Islam itu tidak televan”, “Hukum positif, hukum sekuler, lebih realistis”, “Tidak layak hari ini diterapkan hukum qisas, hudud, jinayat, politik Islam”.

“Kalau mengatakan itu semua dengan keyakinan, dengan kesadaran, maka harus sangat berhati-hati karena berarti mengingkari kelayakan hukum Allah SWT,” tandasnya.

Sementara, sambungnya, untuk kategori fasik dan zalim, pelakunya masih meyakini Islam itu benar, layak diterapkan, tapi tidak mampu untuk menerapkan. “Itu karena memang situasi kehidupan  bermasyarakat dan bernegara hari ini tidak kondusif untuk menjalankan syariat Islam secara keseluruhan,” terangnya.

Sangat Banyak

Menurutnya, konsekuensi tidak diterapkannya hukum Allah itu sangat banyak. “Dalam hal akidah mungkin ia Muslim tetapi tidak menjadikan wahyu Allah sebagai hukum tertinggi,” sebutnya.

Dampaknya, Ratu Erma menjelaskan, saat yang dipakai hukum buatan manusia yang terbatas, hukum akan sangat mudah berubah. Hari ini diputuskan benar, besok bisa jadi salah, tergantung situasi. “Akhirnya hukum menjadi relatif, dan itu berarti merendahkan atau menghilangkan otoritas wahyu Allah,” tandasnya.

Dampak ikutannya, ucap Ratu Erma, dalam kehidupan ekonomi; riba, penipuan, merajalela, kesenjangan dalam memenuhi kebutuhan hidup, kemiskinan masif dan lainnya.

“Dalam kehidupan moral, manusia sudah lebih sesat daripada hewan. Banyak sekali keburukan ketika hukum Allah tidak diterapkan. Dalam bidang politik banyak kezaliman yang dilakukan penguasa terhadap rakyatnya terkait kemaslahatan publik. Termasuk yang kita rasakan akhir-akhir ini ketika lingkungan tidak dikelola sesuai dengan syariat Islam, menjadi sebuah bencana besar bagi kehidupan,” sedihnya.

Konsekuensi Keimanan

Ratu Erma menandaskan, terikat dengan hukum Allah, terikat dengan syariat Islam adalah konsekuensi keimanan. “Ini adalah soal komitmen, cerminan ketaatan kepada Allah. Kita mau taat pada Allah atau mengikuti hukum buatan manusia yang hari ini kita rasakan dampak buruknya?” tanyanya retoris.

Ketika hukum Allah ditegakkan, kata Ratu Erma, akan ada keadilan, keburukan hilang, karena syariat Islam memang tujuannya untuk menghilangkan keburukan, dan sesuai dengan fitrah insaniyah.

“Setelah kita memahami ayat tadi maka kita harus waspada dan berhati-hati untuk tidak masuk ke dalam apa yang Allah jelaskan itu. Dan tentu saja bukan hanya menghindari itu, tapi kita pun perlu menyampaikan kepada yang lain dengan dakwah agar dampak-dampak buruk dari tidak diterapkannya hukum Allah itu tidak meliputi kita semua,” ajaknya.

Menurutnya, jangan sampai secara individu saleh, berdoa untuk tidak dikenai keburukan, tapi  mendiamkan kemungkaran.

“Ingatlah ketika Rasul SAW bersabda bahwa Allah itu tidak akan mengazab masyarakat secara umum akibat perbuatan segelintir orang, kecuali ketika orang banyak itu melihat kemungkaran sementara dia mampu mengubahnya tapi dia tidak melakukan. Saat umat Islam diam, Allah akan mengazab masyarakat umum dan juga para elite politik yang membuat kerusakan itu,” pungkasnya.[] Irianti Aminatun

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *