Ahmad Sastra: Kepemimpinan Islam bukan Kultus Individu, Melainkan Instrumen
MediaUmat – Ketua Forum Doktor Muslim Peduli Bangsa (FDMPB) Dr. Ahmad Sastra menyatakan kepemimpinan dalam Islam bukan kultus individu melainkan instrumen.
“Kepemimpinan dalam Islam bukanlah kultus individu, melainkan instrumen untuk menjaga keteraturan, keadilan, dan persatuan,” tuturnya kepada media-umat.com, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, sejarah telah membuktikan, ketika umat Islam memiliki visi bersama, tradisi ilmu yang kuat, dan kepemimpinan yang efektif dalam naungan khilafah di bawah kepemimpinan seorang khalifah.
“Mereka mampu membangun salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia,” ujarnya.
Ia menyebutkan, dari Baghdad, Damaskus, Kairo, hingga Cordoba, lahir ilmuwan-ilmuwan seperti Ibn Sina, Al-Khwarizmi, Ibn al-Haytham, dan Al-Biruni yang memberikan kontribusi besar bagi ilmu pengetahuan dunia.
“Kejayaan itu tidak lahir semata-mata karena jumlah umat, tetapi karena mereka menjadi barisan ilmu, barisan akhlak, dan barisan peradaban,” terangnya.
Ia memandang, realitas kontemporer menunjukkan tantangan yang berbeda. Perpecahan politik, konflik sektarian, ketimpangan ekonomi, rendahnya investasi pada riset, serta polarisasi yang dipicu media sosial sering kali membuat energi umat habis untuk pertentangan internal.
“Kerumunan mudah diprovokasi, sedangkan barisan dibangun melalui pendidikan,” tukasnya.
Menurutnya, kerumunan sibuk bereaksi terhadap setiap isu, sedangkan barisan memiliki agenda jangka panjang.
“Kerumunan bergantung pada figur sesaat, sedangkan barisan dibangun oleh sistem, institusi, dan kaderisasi,” ungkapnya.
Karena itu, lanjut Ahmad, kebangkitan umat Islam tidak cukup hanya dengan retorika persatuan.
“Persatuan membutuhkan fondasi yang kokoh berupa akidah yang benar, ilmu pengetahuan, keadilan, amanah, budaya musyawarah, serta kemampuan bekerja sama dalam menghadapi tantangan zaman,” tandasnya.[] Ajira
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat