Chusnul Mar’iyah: Maulid Nabi Bisa Jadi Kekuatan Spiritual Dahsyat
MediaUmat – Dosen Ilmu Politik UI Chusnul Mar’iyah, Ph.D., menilai memperingati maulid Nabi Muhammad SAW sebetulnya dapat menjadi kekuatan spiritual yang dahsyat.
“Sehingga bagi saya, memperingati Maulid Nabi setiap tahun, kita selalu lakukan itu sebetulnya dapat menjadi kekuatan spiritual yang dahsyat,” tuturnya dalam diskusi Maulid: Cinta Nabi Era Kini, Ahad (30/8/2026) di kanal YouTube Tabloid Media Umat.
Karena, menurutnya, agar bisa menjemput kejayaan Islam di akhir zaman.
“Nah, kalau tadi dikatakan reformasi total, kalau saya perlu revolusi sebetulnya. Jadi revolusi di dalam melaksanakan akhlak Rasulullah di era menuju akhir zaman. Kita sudah akhir zaman menjadi satu keharusan untuk kembali meneladani Akhlak Rasulullah,” bebernya.
Kondisi Umat
Chusnul melihat, kondisi umat Islam sudah lemah secara politik dalam posisi tidak sedang baik-baik saja, dari kemunduran berbangsa, isue toleransi, violence (kekerasan) yang terjadi di mana-mana, dan pada saat yang sama krisis figur keteladanan.
“Hari ini kalau kita lihat pemimpin global, Netanyahu, Trump, Xi Jinping, Putin, Modi dari India, bahkan banyak pemimpin dunia juga berada dalam Epstein file. Jadi ini jadi persoalan akhlak kita hari ini,” ujarnya.
Maka dari itu, lanjutnya, memperingati Maulid Nabi, menjadi sangat penting. Bukan hanya sekadar euforia atau terfokus ibadah mahdhah saja seperti puasa Senin-Kamis.
“Tapi pada saat yang sama bagaimana kita menggunakan terminologi kekinian memviralkan lagi pengajaran-pengajaran Rasulullah, lebih diviralkan lagi,” ujarnya.
Jadi, menurutnya, jangan sampai memperingati Maulid Nabi ini kemudian diisi hal-hal yang jauh atau melanggar syariat yang ada.
“saya sebagai political science, perlu membahas tentang peradaban. Jadi kalau khilafah tidak hanya cuma state atau negara di dalam konteks itu, tapi bisa khilafah peradaban. Bagaimana mempelajari peradaban-peradaban Islam yang dibangun oleh Rasulullah saat itu dan perkembangannya. Nah, inilah maulid Nabi menjadi waktu bagi scholars (cendekiawan), untuk bermuhasabah, untuk melihat kembali, mempelajari kembali, membaca kembali sirah nabawiyah, mengkaji kembali warisan Rasulullah Al-Qur’an dan As-Sunnahnya serta memviralkan di dalam konteks politik kekinian itu,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat