Empat Ruang Lingkup Ittiba’’ kepada Rasul

 Empat Ruang Lingkup Ittiba’’ kepada Rasul

Mubalighah Kota Depok Ustadzah Nurjanah Zein menjelaskan setidaknya ada empat ruang lingkup ittiba’ kepada Rasullullah Muhammad SAW.

Ittiba’ kepada rasul itu bukan hanya mengikuti, mencintai, meneladan apa yang dilakukan oleh Rasulullah itu cakupannya umum. Ada empat hal yang perlu jadi perhatian, di antaranya ranah akidah, ranah ibadah, ranah Akhlak, dan ranah sosial dan perjuangan,” paparnya dalam Forum Kajian Keluarga Sakinah: Rasulullah Teladan Dalam Meraih Kemerdekaan, Ahad (23/8/2026) di Depok.

Pertama, ranah akidah. “Haruslah semata-mata mengesakan Allah, mentauhidkan Allah, sebagaimana Rasulullah pun mentauhidkan Allah. Jadi yang dianggap Illah atau Tuhan satu-satunya itu hanya Allah,” jelasnya di hadapan puluhan peserta.

Ia pun menegaskan, meyakini bukan hanya Allah yang menciptakan manusia, tetapi Allah juga yang mengatur kehidupan manusia.

“Maka tidak ada tempat kita untuk beribadah kecuali kepada Allah, tidak ada tempat kita meminta pertolongan kecuali kepada Allah. Karena itulah yang dilakukan oleh Baginda Rasulullah SAW,” terangnya.

Ia menjelaskan, ketika seseorang meyakini Allah itu Esa, berarti ia menyadari bahwa tidak ada yang berhak mengatur alam semesta, termasuk kehidupan manusia, selain Allah. Sebab, Allah adalah Pencipta manusia (Al-Khaliq) sekaligus Zat Yang Maha Mengatur (Al-Mudabbir). Karena itu, manusia semestinya tunduk dan taat kepada seluruh aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Kedua, ranah ibadah. Ia menegaskan, dalam ibadah pun tidak boleh mengada-ada, kecuali mengikuti apa yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah.

“Misalnya, dalam hal shalat, tidak boleh ditambah atau dikurangi jumlah rakaatnya, karena masalah shalat sudah diatur. Begitu juga zakat, puasa, haji, sampai membaca Al-Qur’an lalu bagaimana memahami Al-Qur’an dan lain sebagainya itu pun udah ada aturannya,” bebernya.

Ketiga, ranah akhlak. Menurutnya, soal kejujuran, kesederhanaan, kesabaran, semuanya itu memang sudah dicontohkan oleh Baginda Rasulullah SAW.  Ketika berbicara kesabaran, dalam Al-Qur’an diperintahkan Iṣbir faṣabarū‘.

“Artinya sabar, tambah sabar, lebih sabar lagi. Maka saat kita berperilaku sopan, jujur bukan semata-mata karena itu baik, tapi karena memang itu dicontohkan, sehingga kita mengikuti yang Rasullullah lakukan,” ungkapnya.

Keempat, ranah sosial dan perjuangan.

“Kalau selama ini yang kita pahami bahwa Rasulullah itu hanya mencontohkan akhlak, ibadah atau tadi akidah saja. Dalam hal sosial pun Rasulullah sudah memberikan contoh, sudah memberikan aturannya. Rasulullah sudah mewariskan kepada kita,” bebernya.

Rasulullah pun telah mencontohkan bagaimana mengatur aspek sosial, lanjutnya, bagaimana Rasulullah itu dikenal sangat penyayang kepada kaum dhuafa, kepada anak yatim bersahabat.

“Maka dari itu harus kita pahami betul-betul bahwa ajaran yang dibawa Rasulullah itu juga mengatur masalah sosial termasuk perjuangan, bagaimana Rasulullah memperjuangkan sehingga Islam sampai kepada kita, inilah contoh yang harus kita ikuti,” jelasnya.

Menurutnya, ittiba’’ kepada Rasulullah SAW memiliki kaitan erat dengan makna kemerdekaan. Rasulullah SAW telah memberikan teladan dalam kehidupan sosial, di antaranya dengan menyelesaikan persoalan orang-orang miskin, mencegah terjadinya kezaliman, serta menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi.

“Begitu pula ketika Rasulullah hijrah dari Mekkah ke Madinah, itu adalah perjuangan dalam ranah meluaskan lagi Islam untuk kemudian ditetapkan seluruh ajaran Islam,” pungkasnya.[] Sari Liswantini

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *