UIY: “Terwujudnya Izzul Islam Bukan Mimpi”

 UIY: “Terwujudnya Izzul Islam Bukan Mimpi”

MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai terwujudnya kembali izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan dan kejayaan Islam serta kaum Muslim) tentu bukanlah sebuah mimpi.

“Nah, Saudara, jika kita membahas tentang pentingnya kembalinya kehidupan Islam di mana di dalamnya diterapkan syariah secara kaffah di bawah naungan Daulah Khilafah untuk terwujudnya kembali izzul Islam wal Muslimin, ini tentu bukanlah sebuah mimpi. Ini adalah sebuah kewajiban yang sangat agung,” ulasnya dalam unggahan video Mimpi, Ahad (14/6/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

Sebab, jelasnya, para ulama sendiri menyebut sebagai tajul furudh (mahkota kewajiban).

“Jikapun ia disebut sebagai cita-cita, ia adalah cita-cita yang memiliki dasar yang amat kokoh dalam ajaran Islam,” ujarnya.

Menurutnya, terwujudnya kembali izzul Islam wal Muslimin, bukan sekadar keinginan orang per orang yang timbul dari keprihatinan atas suatu fakta kehidupan.

Lagi pula, tegasnya, hal ini juga pernah terwujud di masa lalu dalam bentangan waktu yang sangat panjang.

“Para sejarawan menyebut lebih dari 700 tahun itu sebagai the golden age atau abad keemasan Islam,” bebernya.

Karena itu, lanjutnya, mestinya umat Islam itu lebih punya kemauan atau will, kata dalam istilah Theodor Herzl, ketimbang Theodor Herzl yang menginginkan negara Yahudi yang sebenarnya tidak punya dasar sama sekali.

“If you will it, it is no dream. Kutipan di atas adalah satu quote paling terkemuka dari Theodor Herzl yang dikenal sebagai tokoh atau inisiator gerakan Zionisme Internasional. Cita-cita yang tidak ada di dalam Taurat, tidak juga di dalam sejarah. Tidak ada satu pun ayat dalam Taurat itu yang bisa dijadikan sebagai rujukan tentang apa yang dikatakan sebagai negara Israel raya yang diklaim oleh para pengikut Zionis itu. Seolah Tuhan sudah menandatangani peta wilayah yang membentang dari Sungai Eufrat sampai Sungai Tigris sebagai rumah mereka,” ungkapnya.

Karena itu, menurutnya, umat Islam mestinya malu kepada Theodor Herzl, jika umat kalah kemauannya dalam mewujudkan cita-cita tegaknya kembali kehidupan Islam.

“Bagaimana bisa umat Islam yang disebut oleh Allah itu sebagai khairu ummah, kalah mental dibanding dengan orang yang tidak beriman kepada Allah, tidak beriman kepada Nabi Muhammad, tidak beriman kepada Al-Qur’an, tidak beriman kepada Hari Akhir, tidak pula beriman kepada syariatnya. Bahkan banyak di antara mereka sangat membenci ajaran Islam,” kritiknya.

Nah, imbuhnya, bila umat Islam tidak punya kemauan untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, maka semua akan berakhir sekadar mimpi.

“Seperti kata Theodor Hazel, ‘If you do not will it, a dream it is.’ Kalau tidak ada kemauan, semua tadi itu menjadi mimpi,” ulasnya.

Lebih memalukan lagi, sesalnya, bila ada sebagian umat Islam bukan hanya tidak punya kemauan untuk mewujudkan cita-cita mulia itu, tapi mereka turut menghalangi terwujudnya cita-cita itu.

“Nah, bila bukan cita-cita yang bersumber dari ajaran Islam, lalu mereka ini punya cita-cita apa? Tindakan mereka menghalangi cita-cita Islam itu kalau mau disebut itu atau mau dicari bersumber dari ajaran apa? memalukan sekali,” tutupnya.[] Novita Ratnasari

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *