UIY: Kondisi Umat Islam Kontradiktif dengan Pesan Filosofis Haji

 UIY: Kondisi Umat Islam Kontradiktif dengan Pesan Filosofis Haji

MediaUmat – Berkaca pada pelaksanaan ibadah haji 2026 yang baru saja usai ditunaikan, kondisi sosiologis dan politik dunia Islam secara global dinilai masih sangat kontradiktif dengan pesan filosofis ibadah tersebut.

“Keadaan umat Islam ini hari memang sangat kontradiktif dengan pesan-pesan filosofis dari ibadah haji,” ujar Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) dalam Fokus: Haji dan Politik, Ahad (31/5/2026) di kanal YouTube UIY Official.

Menurutnya, haji itu bukan hanya sekadar dimensi spiritual saja, tetapi juga mengandung pesan persatuan kepemimpinan dan kebangkitan umat. Oleh karena itu, persoalan perpecahan, ketidakberdayaan politik, hingga maraknya korupsi di negeri mayoritas Muslim menjadi bukti nyata belum mengejawantahnya spirit tauhid dan persatuan universal yang disimbolkan dalam pilar-pilar manasik haji.

UIY menjelaskan bahwa secara filosofis, kesamaan berkumpulnya jutaan umat di Tanah Suci merujuk pada prinsip tauhid yang disampaikan Nabi Muhammad SAW saat Haji Wada’. Mestinya, kesatuan Tuhan, Nabi, Kitab, dan Kiblat tersebut berujung pada kesatuan hukum serta kepemimpinan. Namun saat ini, umat justru terpecah secara politik dan menggunakan hukum yang beragam.

“Umat Islam ini hari mungkin sebagian sudah menerapkan ketentuan hukum Islam, tetapi itu sebatas pada ibadah ritual. Ketika berbicara ekonomi, mereka berdasar pada kapitalisme; ketika bicara politik, mereka menggunakan sekularisme, machiavellisme,” kata UIY.

Kondisi tersebut diperparah oleh adopsi budaya yang hedonistis dan kebarat-baratan (westernisme). Ditambah lagi dengan sistem pendidikan yang cenderung materialistis, pada akhirnya membuat gagasan filosofis haji—termasuk tentang persatuan universal—tidak mewujud nyata dalam kehidupan.

Kegagalan menangkap substansi filosofis ini, lanjut UIY, membuat ibadah haji terjebak dalam batas ritualisme semata tanpa memberikan dampak sosiologis-politis yang luas bagi peradaban.

“Ada yang hilang. Karenanya maka kemudian ibadah haji itu berhenti hanya menjadi ritualisme, tidak memberikan pengaruh secara sosiologis-politis,” tuturnya.

Ia pun menyoroti ironi di Indonesia. Sebagai negara dengan pengirim jamaah haji terbesar, nilai-nilai kemabruran haji belum mampu mengikis habis masalah sistemik seperti korupsi, yang bahkan pernah menjerat kementerian terkait.

“Mengapa kok negeri yang mayoritas Muslim jamaah hajinya paling banyak, 220.000 orang, tapi korupsinya juga paling banyak dan yang melakukan sebagiannya adalah orang yang sudah pergi haji, bahkan menteri yang ngurusi haji?” cetus UIY.

Sebagai solusi, UIY merefleksikan rekam jejak sejarah di Indonesia. Tokoh pergerakan nasional seperti Haji Agus Salim, Haji Samanhudi, dan HOS Tjokroaminoto selalu mendapatkan eskalasi semangat perjuangan melawan penjajahan sepulang dari Tanah Suci. Hal tersebut dipicu oleh pemahaman filosofis yang kuat bahwa perlawanan terhadap kezaliman harus diwujudkan secara nyata melalui kekuatan politik.

“Jadi, orang pulang dari haji itu dia bukan hanya semangat ibadahnya yang meningkat, tetapi semangat perjuangannya juga meningkat,” pungkasnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *