Ocehan Menlu Israel Soal Yerusalem Ibu Kota Yahudi, Filolog: Ditertawakan Saja
MediaUmat – Pernyataan terbaru Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar yang mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota abadi bangsa Yahudi, dinilai layak ditertawakan. “Pernyataan Menlu Gideon Sa’ar tadi cukup ditertawakan saja,” ujar Filolog Salman Iskandar kepada media-umat.com, Senin (22/2/2026).
Menurutnya, terdapat jurang pemisah antara kaum Zionis saat ini dengan sejarah umat beriman di masa lalu. “Kaum Zionis, yang didominasi imigran Eropa dan Eropa Timur sekular-liberal, berbeda drastis dengan Nabi Daud as dan kaumnya yang taat pada risalah Zabur serta Allah Ta’ala,” ungkapnya.
Artinya, Zionisme modern yang dicetuskan oleh Theodor Herzl dalam Der Judenstaat (1896) sering kali merujuk pada pemulihan kedaulatan Yahudi layaknya Kerajaan Hashmonayim, namun secara historis, gerakan ini digerakkan oleh tokoh-tokoh sekuler dan cenderung dipandang sebagai kelompok pembangkang anti-agama pada masanya.
Padahal berdasarkan literatur sejarah Islam dan hadits, Yerusalem, yang juga dikenal sebagai Baitul-Maqdis atau Al-Quds, memiliki landasan kuat sebagai tempat suci. Tidak hanya karena pernah menjadi kiblat pertama, tetapi sejarahnya yang terkait erat dengan para nabi Allah SWT.
Sedangkan berkenaan dengan kaum pembangkang terlaknat yang dimaksud, Salman menekankan hal tersebut termaktub dalam QS al-Ma’idah ayat 78. Ayat ini menjelaskan bahwa laknat Allah telah ditimpakan kepada mereka, dimulai sejak masa kenabian Daud as hingga masa Isa bin Maryam as, akibat kedurhakaan mereka dan kebiasaan melampaui batas.
Karena itu pernyataan Menlu Gideon Sa’ar kembali dinilai hanyalah klaim sepihak kaum Zionis yang sebenarnya tak pantas bermukim di Palestina. “Itu hanyalah klaim Zionis, kaum pembangkang yang tak pantas bermukim di Palestina,” tandas Salman, tentang klaim yang tak berdasar sejarah iman.
Tanah yang Dijanjikan
Tempat mulia ini memang ditetapkan sebagai tanah yang dijanjikan (ardhun-ma’ud) bagi pewaris Ibrahim as dan Ishaq as. Sekalipun Musa as juga pernah berjuang membawa Bani Israil masuk ke Yerusalem.
Namun, jelas Salman, hal itu terjadi saat mereka masih beriman. “Intinya, Yerusalem diperuntukkan bagi mereka yang mengimani Allah SWT dan para Rasul-Nya, bukan bagi bangsa pembangkang yang disebut sebagai Yahudi laknatullah,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Menlu Israel Gideon Sa’ar menyebutkan bahwa tidak ada negara Palestina, dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK PBB) di New York, Amerika Serikat, Rabu (18/2/2026).
Ia mengklaim Yerusalem telah menjadi ibu kota abadi bangsa Yahudi sejak zaman Raja Daud dan selamanya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat