Refleksi Peristiwa Saqifah: Menjaga Persatuan di Tengah Krisis Kepemimpinan
MediaUmat – Dalam upaya menjaga persatuan umat di tengah krisis suksesi kepemimpinan politik dan ancaman perpecahan internal umat Islam saat ini, Pengamat Politik Islam Dr. Riyan, M.Ag., mengajak segenap kaum Muslim untuk merefleksikan kembali peristiwa Saqifah Bani Sa’dah.
“Saqifah Bani Sa’dah bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia adalah pelajaran mahal tentang bagaimana umat ini menjaga persatuan di tengah krisis yang kemudian terjadi,” ujarnya dalam Kisah Khilafah#1 bertajuk Krisis Setelah Wafat Nabi: Fakta Saqifah & Ijma Sahabat tentang Wajibnya Khilafah, Kamis (19/2/2026) di kanal YouTube Rayah TV.
Untuk diketahui sebelumnya, Peristiwa Saqifah Bani Saidah adalah pertemuan krusial pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW. Dalam pertemuan tersebut, kaum Anshar dan Muhajirin sepakat memilih Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai Khalifah pertama. Momen ini berhasil mencegah perpecahan internal (fitnah) dan menetapkan sistem kepemimpinan Islam (kekhilafahan) pertama setelah era kenabian.
Kata Riyan lebih lanjut, peristiwa besar yang terjadi pada tahun 11 Hijriah (632 M), tepat setelah wafatnya Rasulullah SAW pada 12 Rabiul Awal tersebut bukanlah konflik kepentingan. Namun solusi dari krisis kepemimpinan dan krisis integrasi yang berbasiskan Al-Qur’an demi menjaga kesatuan umat.
“Di sini kita belajar krisis pertama umat Islam diselesaikan dengan Al-Qur’an dan kepemimpinan,” ulasnya, sembari menguraikan tiga pelajaran penting dari Peristiwa Saqifah.
Pertama, krisis dimaksud harus diselesaikan dengan ilmu, dalil, dan ketenangan. Artinya, para sahabat saat itu menyadari sepenuhnya bahwa kehadiran seorang pemimpin pengganti Rasulullah SAW adalah sebuah keharusan.
Sebab, menurut Riyan, tanpa adanya kepemimpinan dalam hal ini kekhilafahan, penerapan syariat Islam secara menyeluruh akan sulit diwujudkan, keadilan sulit ditegakkan, dan berpotensi memicu perpecahan di kalangan umat.
Kedua, kepemimpinan di dalam Islam bukanlah ambisi, tetapi sebuah amanah. Hal ini tampak ketika Abu Bakar ash-Shiddiq menerima jabatan sebagai Khalifah bukan karena ambisi tetapi takut akan fitnah.
“Dia berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan pernah menginginkan kepemimpinan ini. Aku menerimanya karena takut terjadi perpecahan’,” ungkap Riyan.
Bahkan, sambungnya, andai usulan sebelumnya tentang penyerahan urusan umat ini kepada Umar atau Abu Ubaidah diterima umat, maka Abu Bakar mencukupkan dirinya menjadi wazir saja. “Inilah pemimpin sejati, tidak mencari jabatan tapi siap memikul amanah,” tegas Riyan.
Ketiga, persatuan umat lebih penting daripada ego atau kepentingan kelompok. Bahwa kaum Anshar punya jasa besar, menurut Riyan, adalah benar. Pula kaum Muhajirin yang memiliki kedekatan dengan Nabi SAW juga fakta.
“Masing-masing punya alasan kuat. Namun akhirnya terungkap yang dikedepankan umat ketika itu bukan kebanggaan kelompok, melainkan kemaslahatan bersama,” kata Riyan.
Demikian, Peristiwa Saqifah yang menunjukkan betapa para sahabat mengutamakan keutuhan umat di atas segalanya di saat terjadi kekosongan kepemimpinan, berujung ijma sahabat mengenai pentingnya keberadaan institusi kepemimpinan (Khilafah) untuk menjaga agama dan mengatur urusan dunia.
“Semua dimulai dari satu kalimat Abu Bakar ash-Shiddiq ra: ‘Barang siapa yang menyembah Allah, maka Allah Mahahidup dan tidak akan mati. Selama tauhid hidup, umat ini tidak akan mati. Dan selama ada ketaatan kepada syariat dan kepemimpinan yang adil, maka umat ini akan tetap berdiri,” pungkas Riyan.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat