Hadis-Hadis yang di Dalamnya Disebutkan ar-Râyah dan al-Liwâ`
Soal :
Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu. Bagaimana kabar Anda syaikhuna?
Syaikhuna, ada pertanyaan:
Hadis-hadis yang berbicara tentang Rayah Rasulullah saw berapa banyak? Dan sejauh mana kesahihannya?
Dan setelah izin Anda, jika diriwayatkan riwayat apakah disebutkan kesahihan sanad.
[Mafahim Islamiyah]
Jawab:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuhu.
Mengenai al-Liwâ` dan ar-Râyah dan yang tertulis padanya, telah dinyatakan di buku kami khususnya buku al-Ajhizah hal. 200 sebagai berikut:
“Negara memiliki liwâ` dan râyah. Hal itu diistinbath dari apa yang ada pada Daulah Islamiyah pertama yang didirikan oleh Rasulullah saw di al-Madinah al-munawarah. Hal itu sebagai berikut:
1. al-Liwâ` dan ar-Râyah dari sisi bahasa, maka masing-masing untuk menyebut bendera (اَلْعَلَمُ). Dinyatakan di al-Qâmûs a-Muhîth pada topik رَوِيَ : “dan اَلرَّايَةُ adalah bendera (اَلْعَلَمُ), bentuk jamaknya رَايَاتٌ. Dan di topik لَوِيَ : “dan اَللِّوَاءُ adalah bendera (اَلْعَلَمُ) dan bentuk jamaknya أَلْوِيَةٌ.
Kemudian syara’ memberi masing-masingnya, dari sisi penggunaan, makna syar’iy sebagai berikut:
– al-Liwâ`, berwarna putih, tertulis padanya لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ dengan tulisan berwarna hitam. Dan diberikan kepada amir pasukan atau panglima/komandan pasukan. Dan menjadi tanda posisinya, dan beredar bersama posisi ini ke mana saja. Dalil diikatkannya al-liwâ` untuk amir pasukan:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ مَكَّةَ يَوْمَ الْفَتْحِ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ» رواه ابن ماجه من طريق جابر
“Nabi saw masuk ke Mekah pada hari penaklukkan dan liwâ` beliau berwarna putih” (HR Ibnu Majah dari jalur Jabir).
Dan dari Anas dalam riwayat an-Nasai:
«أَنَّهُ ﷺ حِينَ أَمَّرَ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ عَلَى الْجَيْشِ لِيَغْزُوَ الرُّومَ عَقَدَ لِوَاءَهُ بِيَدِهِ»
“Bahwa Rasul saw ketika mengangkat Usamah bin Zaid sebagai amir pasukan untuk memerangi Romawi, beliau mengikatkan liwâ` beliau dengan tangan beliau”.
– Dan ar-râyah berwarna hitam, tertulis padanya لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ dengan tulisan berwarna putih. Dan ar-râyah ada bersama para komandan unit-unit pasukan (brigade, detasemen dan unit-unit pasukan lainnya). Dalilnya bahwa Rasul saw yang menjadi panglima pasukan di Khaibar, beliau bersabda:
«لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ غَداً رَجُلاً يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبَّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ، فَأْعْطَاهَا عَلِيّاً» متفق عليه
“Sungguh akan aku berikan ar-râyah besok kepada seorang laki-laki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya”, lalu beliau memberikannya kepada Ali” (Muttafaqun ‘alayh).
Ali karamahullâh wajhah ketika itu dinilai sebagai komandan unit atau brigade di dalam pasukan. Demikian juga dalam hadis al-Harits bin Hisan al-Bakriy, ia berkata:
«قَدِمْنَا الْمَدِينَةَ فَإِذَا رَسُولُ اللهِ ﷺ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَبِلَالٌ قَائِمٌ بَيْنَ يَدَيْهِ، مُتَقَلِّدٌ السَّيْفَ بَيْنَ يَدَيِ الرَّسُولِ ﷺ، وَإِذَا رَايَاتٌ سُودٌ، فَسَأَلْتُ: مَا هَذِهِ الرَّايَاتُ؟ فَقَالُوا: عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ قَدِمَ مِنْ غَزَاةٍ»
“Kami datang ke Madinah dan Rasulullah saw di atas mimbar, dan Bilal berdiri di depan beliau, menyandang pedang di depan Rasul saw, dan ada râyah-râyah hitam, maka aku bertanya: “apa râyah-râyah ini?” Mereka mengatakan: “Amru bin al-‘Ash datang dari peperangan”.
Makna «فَإِذَا رَايَاتٌ سُودٌ» yakni ada banyak râyah bersama pasukan tersebut yang pada saat yang mana amirnya adalah satu yaitu Amru bin al-‘Ash. Dan ini berarti bahwa ar-râyah-ar-râyah itu bersama pada komandan brigade dan unit …”.
2. Ditambahkan ke yang sudah disebutkan, hadis yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani di Mu’jam al-Awsath (1/223):
“224- Ahmad bin Risydin telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Abdul Ghafar bin Dawud Abu Shalih al-Harani telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Hayan bin Ubaidillah telah menceritakan kepada kami, ia berkata: “Abu Mujliz Lahiq bin Humaid telah menceritakan dari Ibnu Abbas, ia berkata:
«كَانَتْ رَايَةُ رَسُولِ اللهِ ﷺ سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ، مَكْتُوبٌ عَلَيْهِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ»
“Râyah Rasulullah saw berwarna hitam dan liwâ` beliau berwarna putih, tertulis padanya لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ”.
Hadis ini tidak diriwayatkan dari Ibnu Abbas kecuali dengan sanad ini. Hayan bin Ubaidillah menyendiri dengannya… Hayan disebutkan oleh Ibnu Hibban di ats-Tsiqât 6/230. Abu Hatim mengatakan tentangnya di al-Jarhu wa at-Ta’dîl (3/246): dia jujur (shadûq)”.
Di atas semua itu, masalah al-Liwâ` dan ar-Râyah itu masyhur. Dan ar-Râyah menaungi kaum Muslim pada masa Islam dan tidak perlu penjelasan tambahan.
Saya berharap di dalam ini ada kecukupan, wallâh a’lam wa ahkam.
Wassalamu ’alaikum wa rahmatullâh wa barakatuhu.
Saudaramu Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah
28 Sya’ban 1447 H
16 Februari 2026 M
https://hizb-ut-tahrir.info/ar/index.php/ameer-hizb/ameer-cmo-site/107682.html
https://www.facebook.com/AtaAboAlrashtah/posts/122123251485129051