HILMI Ungkap Alasan Program MBG Selalu Muncul Risiko System Shock

 HILMI Ungkap Alasan Program MBG Selalu Muncul Risiko System Shock

MediaUmat Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) mengungkapkan alasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diposisikan sebagai program unggulan nasional selalu muncul system shock (guncangan sistem).

“MBG diposisikan sebagai program unggulan nasional. Ketika program sosial didorong ke skala masif dalam tempo cepat, selalu muncul risiko system shock,” ujarnya kepada media-umat.com, Senin (17/2/26).

Dengan dorongan dalam skala masifnya dan dalam tempo yang cepat, lanjutnya, maka dampaknya antara lain dapur belum siap, standar operasional prosedur (SOP) tidak seragam, rantai pasok belum stabil, dan kapasitas pengawasan belum matang.

“Dalam kondisi demikian, insiden (kualitas makanan, keterlambatan, atau isu keamanan pangan) mudah terjadi, dan ketika terjadi, dampaknya meluas karena program nasional berskala besar,” bebernya.

Sumber

Selain itu HILMI juga mengungkap, sumber dari pemerintah juga menunjukkan besaran realisasi anggaran MBG yang sangat besar.

“Media Keuangan Kemenkeu melaporkan realisasi MBG pada 2025 sebesar Rp43,3 triliun,” bebernya.

Angka ini lanjutnya, membuat desain tata kelola menjadi krusial. “Semakin besar anggaran, semakin tinggi insentif rente; semakin luas cakupan, semakin sulit pengawasan administratif,” ujarnya.

Harusnya, jelas HILMI, ada pemisahan peran antara Badan Gizi Nasional (BGN) yang berfungsi sebagai regulator dan penentu standar, dengan sekolah atau komunitas yang menjalankan produksi makanan harian dengan pengawasan lokal.

“Model ini secara teori kebijakan mengurangi “proyekisasi” karena dana tidak terkonsentrasi pada sedikit pihak, melainkan tersebar ke ribuan komunitas dengan kontrol sosial langsung,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *