Urgensinya Kunjungan Erdogan ke Arab Saudi dan Mesir
Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam kunjungan Erdogan kepada rekan-rekannya, Putra Salman dan Sisi, adalah untuk mengetahui hubungan mereka dengan kekuatan-kekuatan besar, terutama kekuatan terkemuka dunia, dan apa yang diinginkan negara ini dari mereka dalam situasi saat ini, karena kekuatan-kekuatan besar itulah yang mengendalikan situasi internasional dan memengaruhi jalannya negara-negara lain serta hubungan mereka satu sama lain.
Melalui kunjungan ini dan hasilnya, serta dari tindakan mereka sebelumnya, terkonfirmasi bahwa Erdogan, Putra Salman, dan Sisi terkait erat dengan Amerika, negara terkemuka di dunia, bahwa Amerika menginginkan sesuatu yang spesifik dari mereka dalam situasi saat ini.
Dalam pertemuan antara Erdogan dan Putra Salman, mereka mengumumkan kesepakatan mereka tentang semua masalah di kawasan sesuai dengan rencana Amerika. Mereka mendukung rencana Trump untuk menghentikan pertempuran di Gaza, bahkan sebelumnya mereka telah memohon kepada Trump, bersama dengan Sisi dan para penguasa antek yang seperti mereka, untuk menerapkan rencananya agar terhindar dari rasa malu di hadapan rakyat mereka karena mereka tidak berbuat apa-apa untuk rakyat Gaza atas perintah Amerika, dengan dalih “tidak memperluas cakupan perang”, yang berarti membiarkan entitas Yahudi melakukan pembunuhan dan penghancuran, sementara mereka membisu seribu bahasa, meski sekedar mencela dalam arti sebenarnya.
Mereka menegaskan kesetiaan mereka kepada Trump dengan bergabung dengan Dewan Perdamaian Gaza yang dibentuk dan dipimpinnya. Fir’aun modern ini menakut-nakuti mereka hingga mereka menuruti perintahnya. Hal ini telah mendorongnya untuk melangkah lebih jauh dan menyatakan keinginannya untuk membentuk dewan global guna menyelesaikan semua masalah dunia demi kepentingan negaranya, bukannya Dewan Keamanan PBB, di mana di dalamnya ada kekuatan besar lainnya, yang dengan hak vetonya dapat menghalangi keputusan proyek-proyek Amerika.
Hal yang sama juga dilakukan dalam pertemuannya dengan Sisi, di mana Erdogan menekankan kesepakatan penuh pada semua isu, terutama Gaza sesuai dengan rencana Amerika, bahkan keduanya sepakat untuk meningkatkan hubungan ke tingkat kemitraan strategis komprehensif.
Dalam kedua kunjungan tersebut, kesepakatan ekonomi yang luas ditandatangani untuk memberikan kesan kerja sama yang menguntungkan rakyat, menebarkan harapan palsu dan janji-janji manis bahwa situasi ekonomi mereka akan membaik, padahal semua itu untuk menyembunyikan tujuan politik sebenarnya di balik langkah-langkah ini.
Ketika kita mencemati konteks pertemuan-pertemuan tersebut dan kesepakatan mereka di setiap domain politik terkait keadaan saat ini, dengan mengetahui hubungan mereka, sikap khianat mereka, dan obsesi mereka terhadap Gaza, maka kita melihat bahwa semua itu terkait dengan tekanan Amerika terhadap entitas Yahudi, yang terus menunda implementasi rencana Trump, termasuk penarikan diri dari Gaza, terutama setelah memasuki fase kedua gencatan senjata. Entitas Yahudi terus melakukan agresi, terkadang membunuh puluhan orang dalam satu hari, terus menghancurkan rumah-rumah dan mengusir penghuninya, mencegah masuknya bantuan dan pembukaan perbatasan bagi orang-orang untuk pergi tanpa bisa kembali lagi, serta menolak untuk mengizinkan Turki memainkan peran apa pun di Gaza, meski di bawah pemerintahan Trump.
Di samping masalah Iran, yang menuntut agar Amerika memberikan pukulan telak guna menggulingkan rezim Iran, meski semua tahu bahwa Iran berada dalam lingkup pengaruh Amerika. Sementara Turki, Mesir, dan Arab Saudi menentang serangan itu dan malah mendukung kesimpulan kesepakatan tentang program nuklir Iran yang akan menggantikan kesepakatan tahun 2015, yang dikenal sebagai kesepakatan (5+1), yang memungkinkan Amerika untuk memonopolinya, mengesampingkan lima pihak lainnya, dan mengubahnya menjadi kesepakatan (-5+1); ini juga akan mengirimkan pesan dari Trump kepada entitas Yahudi yang dimanjakan bahwa negara-negara lain seperti Turki, Mesir, dan Arab Saudi penting bagi Amerika, bahkan mereka memainkan peran yang tidak kalah pentingnya daripada peran Amerika sendiri, meskipun melalui cara yang lebih lunak.
Dengan demikian, terungkap bahwa Amerika mendukung kunjungan Erdogan dan kesepakatannya dengan Putra Salman dan Sisi, meskipun baru kemarin Erdogan menggambarkan mereka berdua sebagai musuh dan menyatakan bahwa tidak akan pernah bertemu mereka setelah kudeta terhadap Mursi dan setelah pembunuhan jurnalis Saudi Khashoggi. Namun, Erdogan dengan cepat berupaya berdamai dengan mereka, mengkhianati Ikhwanul Muslimin dan kasus Khashoggi, sebagaimana kebiasaannya mengkhianati mereka yang mempercayainya. Erdogan membuka babak baru dengan kedua rezim ini untuk mendukungnya sesuai dengan perintah Amerika dan untuk melaksanakan tugas-tugas penting bagi Amerika di kawasan tersebut.
Entitas Yahudi tidak dapat mempertaruhkan hubungannya dengan Mesir. Entitas Yahudi sangat berhati-hati untuk menjaga hubungan itu agar tetap baik sehingga Mesir tetap terikat oleh Perjanjian Camp David, yang mengeluarkannya dari konflik dan melestarikan front selatan sebagai zona penyangga yang aman bagi (Israel). Perang Gaza telah membuktikan hal itu, karena rezim Mesir tidak bergerak untuk membantu rakyatnya ketika mereka menghadapi genosida selama lebih dari dua tahun, dan malah memblokir setiap gerakan rakyat Mesir untuk mendukung saudara-saudara mereka.
Demikian pula, entitas Yahudi sangat ingin menormalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan tidak hanya puas dengan sikap pasifnya terhadap praktik genosida di Gaza. Mereka telah tunduk pada perintah Amerika, seperti semua rezim yang ada di negeri-negeri Islam, terutama yang dekat dengan Palestina.
Penekanan Mesir, Arab Saudi, dan Turki pada penguatan hubungan dan konsensus dalam setiap isu, terutama isu Gaza dan keinginan kuat untuk menerapkan rencana Trump, menyulitkan entitas Yahudi dan memaksanya untuk melaksanakan rencana ini, serta mengurangi kemampuannya untuk bertindak manja terhadap Amerika, sehingga dengannya seolah-olah merekalah yang memberikan tekanan padanya.
Trump mengungkapkan kepercayaan dan kecintaannya pada Erdogan di hadapan Netanyahu di Gedung Putih pada 8 April 2025, dengan mengatakan: “Saya memiliki hubungan yang baik dengan Erdogan, saya mencintainya dan dia mencintai saya, jika Anda memiliki masalah dengannya, Anda harus menyelesaikannya dengannya, dan bertindak secara rasional terhadapnya.” Trump mengungkapkan kepercayaan diri pada kemampuan Erdogan untuk menipu orang lain demi kepentingan Amerika, seperti yang telah dilakukannya di banyak negara, terutama di Suriah, selama 14 tahun. Apa yang dilakukannya di sana dianggap sebagai pencapaian besar bagi Amerika, seperti yang dinyatakan oleh Trump dan utusannya, Barak. Erdogan bertindak sebagai perantara mereka, membeli al-Julani dengan harga murah dan menjadikannya antek Amerika. Al-Julani menolak kembalinya Islam ke tampuk kekuasaan di Suriah dan mulai memerangi mereka yang menyerukan pembentukannya, dan menjatuhkan hukuman penjara hingga 10 tahun kepada mereka. Ia menyatakan keinginannya untuk berdamai dan menormalisasi hubungan dengan entitas ilegal Yahudi, serta menyatakan bahwa ia tidak berniat untuk melawannya. Semua itu ia buktikan dengan tidak pernah menanggapi berbagai serangan dan pendudukan entitas Yahudi di Suriah selatan, bahkan membentuk sel keamanan gabungan dengannya di sana dan bergerak cepat ke arah tersebut. Lebih jauh lagi, ia bergabung dengan koalisi internasional pimpinan AS melawan Islam.
Sejauh ini, tujuan revolusi Suriah telah digagalkan. Tujuan-tujuan ini termasuk menerapkan hukum Islam, mendeklarasikan jihad untuk membebaskan Dataran Tinggi Golan dan Palestina, serta mengakhiri pengaruh Amerika, yang diwujudkan oleh rezim Basyar al-Asad sebelumnya. Kemudian datang seseorang yang lebih pro-Amerika, seseorang yang dapat menipu rakyat dengan berpura-pura saleh, yang tidak jauh beda dengan mentornya Erdogan dan Fidan.
Tidak dapat dikatakan bahwa penguatan hubungan antar negeri-negeri Islam ini harus dipandang positif dan didukung, karena isu ini memiliki tujuan jahat dan bukan isu yang tidak berbahaya. Semua ini dilakukan untuk mendukung dan melayani pengaruh Amerika di kawasan serta pelaksanaan proyek-proyeknya. Sehingga hal ini menegaskan pemisahan antara negeri-negeri ini dan keberlanjutan rezim korup serta penguasa yang setia kepada kaum kafir, dengan apa yang dituntut Islam yaitu memutus hubungan dengan Amerika dan berpegang teguh pada tali agama Allah, serta berupaya menyatukan negeri-negeri ini dan negeri-negeri Islam lainnya menjadi satu negara yang menerapkan Islam, menyatakan jihad untuk membebaskan negeri-negeri yang diduduki, menyelamatkan kaum Muslim yang tertindas, dan membangun negeri serta mendistribusikan kekayaan kepada rakyatnya, bukan untuk diberikan kepada Amerika. [] Ustadz As’ad Manshur
Sumber: alraiah.net, 11/2/2026.