MSC: Narasi Masuk BoP, Sikap Pragmatis yang Lahir dari Keputusasaan

 MSC: Narasi Masuk BoP, Sikap Pragmatis yang Lahir dari Keputusasaan

MediaUmat Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community (MSC) Muhammad Ayyubi menilai narasi keikutsertaan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza bentukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebagai kalimat pragmatis yang lahir dari sikap putus asa dalam perjuangan, yang dibungkus harapan palsu untuk mengubah keadaan dari dalam.

“Kalimat-kalimat pragmatis seperti itu biasanya muncul dari orang-orang yang putus asa dengan arah perjuangannya, akhirnya menyelinap dan masuk ke dalam dengan harapan (palsu) bisa merubah keadaaan dari dalam,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (29/1/2026).

Agar tampak meyakinkan, sebut Ayyubi, dikutiplah ayat Al-Qur’an dan hadits.Salah satunya dengan merujuk hadits Abu Hurairah tentang pengakuan setan terhadap keutamaan ayat kursi.

Menurutnya, penalaran itu digunakan sebagai justifikasi untuk membenarkan sikap berbaik sangka kepada Israel. “Mereka lalu menyimpulkan bahwa jika kepada Iblis saja kita bisa mengambil pelajaran, apalagi hanya kepada Israel, di situlah letak logical fallacy yang dipaksakan untuk menjustifikasi pernyataannya,” ujarnya.

Selain itu, Ayyubi juga menyoroti penggunaan Al-Qur’an surat al-Anfal ayat 61 tentang kecenderungan pada perdamaian. Menurutnya, ayat tersebut kerap dilepaskan dari konteks sejarahnya.

Padahal, sebutnya, ayat itu diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW telah memimpin sebuah negara, sehingga posisi tawar pihak-pihak yang berunding setara.

“Kondisinya berbeda dengan Palestina saat ini yang tidak memiliki negara dan tidak dilibatkan dalam BoP,” tegasnya.

Lebih jauh, Ayyubi mempertanyakan makna “realistis” yang digunakan pendukung BoP. Karena, pengalaman perjanjian damai sebelumnya menunjukkan banyak pelanggaran. “Apa yang bisa diharapkan dari perdamaian yang berulang kali diingkari, sementara rakyat Palestina terus menjadi korban,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Ayyubi menegaskan, bahwa dalih realisme politik tidak semestinya digunakan untuk membenarkan kerja sama dengan pihak penjajah.

Ia meminta agar ulama dan tokoh publik berhati-hati dalam menggunakan dalil agama dalam isu politik internasional agar tidak menimbulkan pembenaran yang menyesatkan.

“Janganlah ulama atau siapa pun menggunakan dalih realistis untuk berteman dengan penjajah Isrel dan AS karena sesungguhnya itu adalah pengkhianatan kepada Allah dan Rasulullah,” tutupnya.[] Ikbal

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *