Forum Tokoh Peduli Umat: BoP Instrumen Penjajahan Atas Palestina
MediaUmat – Forum Tokoh Peduli Umat yang diwakili Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY), menolak keras Board of Peace (BoP) untuk Gaza yang dibentuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, karena menganggap rencana perdamaian tersebut hanyalah instrumen politik yang melanggengkan penjajahan Zionis Yahudi atas Palestina.
“Melainkan tak lebih dari instrumen politik yang melanggengkan penjajahan Zionis Yahudi atas tanah Palestina,” ujarnya dalam pers rilis bertajuk Tolak Penjajahan Berkedok Peace Plan ala Trump, yang dikutip media-umat.com, Senin (2/2/2026)
Menurutnya, skema perdamaian ini mengabaikan akar persoalan yaitu pendudukan ilegal, perampasan tanah, pemukiman kolonial, penjajahan dan penyangkalan sistematis terhadap rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri.
Lebih jauh, alih-alih berfungsi sebagai forum internasional atau administrasi transisi untuk rekonstruksi Gaza, BoP sepenuhnya mengabaikan fakta bahwa wilayah Gaza adalah bagian integral dari Palestina yang sejak berabad-abad lalu berada dalam ikatan sejarah, hukum dan peradaban Islam.
“Bagi umat Islam, Gaza bukanlah sekadar wilayah administratif tetapi bagian dari tanah Palestina, tanah kharaj yang memiliki kedudukan historis dan religius, yang hak-haknya tidak dapat dinegosiasikan oleh kekuatan asing manapun,” ungkapnya.
Ditegaskan, inisiatif rencana perdamaian (peace plan) yang diinisiasi Trump secara nyata justru membenarkan penjajahan, melegalkan kejahatan perang dan bakal menempatkan korban, dalam hal ini rakyat Palestina, sebagai pihak yang dipaksa menerima ketidakadilan.
Bukanlah Perdamaian
Karena itu, sambungnya, gagasan perdamaian yang didasarkan pada penindasan bukanlah perdamaian sesungguhnya, melainkan bentuk kolonialisme terselubung yang dikemas dalam diplomasi.
Karenanya pula, penyelesaian masalah Palestina mustahil dicapai melalui kesepakatan sepihak seperti BoP yang faktanya mengabaikan keadilan, hukum internasional, prinsip ajaran Islam, serta aspirasi rakyat Palestina sendiri.
Sementara, perjuangan dianggap sah jika bervisi menegakkan keadilan, yakni membebaskan Palestina dari penjajahan dan memulihkan hak-hak yang dirampas melalui kesadaran politik, tekanan internasional, solidaritas global, serta konsistensi moral manusia.
Dengan kata lain, rencana-rencana semacam BoP bisa dipastikan gagal selama penjajahan masih dilegalkan dan hak dasar Palestina serta umat Islam diabaikan.
Bahkan sejarah bakal mencatatnya sebagai proyek kolonialisme modern. “Sejarah akan mencatatnya sebagai bagian dari proyek kolonialisme modern,” tandasnya.
Untuk itu, sebagaimana suksesi perjuangan pembebasan Palestina dari tentara Salib oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi pada 2 Oktober 1187 M, UIY pun meyakini peristiwa serupa akan terulang kembali di masa depan.
“Dengan jalan serupa, insyaAllah Gaza dan Palestina secara umum juga akan dibebaskan dari penjajahan Yahudi,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat