Perang yang dibuat oleh Trump masih mengamuk di pulau Islam dan sekitarnya, namun pada saat yang sama perang tersebut justru menyingkapkan sejauh mana sebenarnya kekuatan militer AS dan sejauh mana kelemahannya. AS telah menunjukkan ketidakmampuannya untuk melakukan pertempuran jangka panjang, bahkan jika AS dilawan dengan teknologi militer yang kurang maju sekalipun, maka AS akan segera menemui kekalahan. Perang tersebut juga menunjukkan bahwa kaum Muslim mampu menjembatani kesenjangan teknologi dengan Barat jika umat Islam sungguh-sungguh berupaya meraih kemenangan. Lebih jauh lagi, ketahanan kaum Muslim telah terbukti tangguh melalui berbagai peristiwa, bahkan dalam keadaan yang paling buruk dan sulit sekalipun.
Sejak terjerat dalam perang ini, AS telah berjuang mati-matian untuk melepaskan diri dengan melibatkan negara lain dalam perang untuk bertempur atas namanya. AS meminta keterlibatan negara-negara Eropa, namun menolaknya; AS meminta keterlibatan negara-negara Asia Timur, namun juga menolaknya. Negara-negara ini menolak karena mereka ingin melihat AS menanggung konsekuensi dari tindakannya sendiri dan meredam kesombongan Trump, serta mereka tidak ingin terlibat dalam perang untuk kepentingan AS. Akibatnya, AS berupaya mendorong Arab Saudi, Turki, dan Pakistan untuk membentuk Aliansi Makkah, guna mempersiapkan negara-negara ini untuk memasuki perang dan menyelamatkan AS dari kesulitannya.
Bukannya mencermati situasi dengan jernih, dan kemudian menyadarinya bahwa AS sebenarnya sedang terperosok dalam kubangan perang, serta memandangnya sebagai peluang untuk membebaskan diri dari pengaruh AS di Teluk Arab, justru para penguasa negara-negara ini membentuk aliansi untuk bertempur demi kepentingan AS, sehingga tidak mungkian mereka berupaya mengusir AS dan melepaskan diri dari pengaruh buruknya! Bahkan semua ini terjadi di saat Presiden AS terus mempublikasikan peta Teluk Arab yang diberi label “Selat Trump”!
Perang semacam ini malah akan menjadi bencana yang mengerikan. Sebab darah kaum Muslim akan tertumpah di kedua belah pihak. Di saat kekuatan militer dan kaum Muslim di seluruh dunia tenaganya terkuras dan melemah, Masjid Al-Aqsa akan tetap berada dalam cengkeraman penjajahan, begitu pula Palestina, Suriah, dan Lebanon. AS dan entitas Yahudi akan merayakan kemenangan mereka di tengah kehancuran hidup perempuan dan anak-anak Muslim, serta membangun takhta dominasinya di atas reruntuhan kota-kota di negeri-negeri Islam yang telah hancur akibat dihujani bom-bom mereka.
Melihat situasi ini, kami mendesak setiap orang yang tulus dan ikhlas serta bebas di antara para pembentuk opini publik dan pengambil keputusan di negeri-negeri Islam untuk tidak membiarkan kafilah ini terseret ke jurang kehancuran, sementara mereka hanya menontonnya.
Ingatlah bagaimana dulu Al-Andalus runtuh, yaitu ketika para pemimpinnya saling berperang dan bersekongkol dengan pihak kafir untuk melawan satu sama lain, sehingga menyia-nyiakan 700 tahun warisan kekuasaan Islam. Konflik bersenjata yang terus berulang antara Houthi dan Arab Saudi, yang kini turut menyeret negeri-negeri Islam baru seperti Turki dan Pakistan, sungguh perang ini merupakan perang yang berlumuran dosa. Dalam hal ini, Turki dan Pakistan memiliki kewajiban untuk turun tangan dan menghentikan kedua belah pihak agar tidak terus memicu konflik. Sungguh komitmen yang tulus terhadap Islam akan menuntut tindakan segera untuk meredakan perang. Sebab konflik ini tidak akan menghasilkan apa pun selain penderitaan lebih lanjut bagi kaum Muslim dan negeri-negeri mereka. Bahkan konflik ini justru akan semakin memperkuat posisi musuh-musuh Islam serta perekonomiannya.
Adapun Iran, yang di masa lalu turut memperkokoh dominasi AS atas Irak, Afghanistan, dan negeri Syam (Suriah), maka kepemimpinan barunya harus mengevaluasi kembali hubungannya dengan Allah SWT dan dengan kaum Muslim. Jika Iran telah memetik pelajaran dari sikap AS yang berbalik memusuhinya, bahwa berpihak kepada kaum kafir penjajah dan mendahulukan kepentingannya dengan mengorbankan penderitaan kaum Muslim adalah perbuatan yang diharamkan dalam Islam, sekalipun ada fatwa menyesatkan yang dikeluarkan untuk melegalkannya, maka Iran semestinya menyadari bahwa langkah semacam itu sama saja dengan bunuh diri politik, sebagaimana telah dibuktikan oleh berbagai peristiwa. Setelah memetik pelajaran ini, seharusnya Iran berfokus pada upaya menyelamatkan kaum Muslim dan menjaga persatuannya, bukan malah memicu perang lebih lanjut di antara kaum Muslim. Iran juga harus menghilangkan berbagai dalih yang dimanfaatkan dan dikobarkan oleh pihak kaum kafir Barat penjajah untuk terus mengobarkan perang ini.
Adapun fatwa yang dikeluarkan oleh kedua belah pihak yang menyatakan bahwa kaum Muslim saling berperang adalah jihad di jalan Allah, maka ini adalah kesesatan dan menyesatkan, bahkan itu semua merupakan pengalihan perhatian dari fatwa yang benar yang harus dikeluarkan segera jangan ditunda-tunda lagi, yaitu fatwa tentang kewajiban untuk melakukan jihad dan mobilisasi guna menyingkirkan pengaruh kolonialisme, dan membebaskan Masjid Al-Aqsa serta semua yang tengah diduduki oleh kaum kafir penjajah, seperti Lebanon, Suriah selatan dan Kashmir, dari para penjajah dan merampas kekuasaan.
Adapun bagi para perwira di tubuh militer negeri-negeri Islam yang memiliki kekuatan dan kekuasaan, maka keterlibatan mereka dalam perang proksi demi kepentingan AS merupakan bentuk pengkhianatan ganda. Bahkan sebelumnya, mereka hanya berdiam diri saat Gaza dihancurkan, Masjid Al-Aqsa dinodai, dan Kashmir diduduki, sebab mereka mematuhi para penguasa yang mengabdi pada kepentingan asing. Dan saat ini, mereka kembali berdiam diri saat para penguasa yang sama menyeret mereka ke dalam peperangan untuk melawan saudara-saudara mereka sendiri. Sebaliknya, mereka malah membiarkan pihak kaum kafir penjajah—yang saat ini mereka sedang di ambang kehilangan pengaruhnya atas negeri-negeri Islam—untuk bernapas lega dan memulihkan keunggulan strategisnya. Oleh karena itu, sadarlah, wahai para perwira dan komandan akan kewajiban kalian! Allah SWT berfirman:
﴿قَاتِلُواْ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلاَ بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَلاَ يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللّهُ وَرَسُولُهُ وَلاَ يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُواْ الْجِزْيَةَ عَن يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ﴾
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak mengharamkan (menjauhi) apa yang telah diharamkan (oleh) Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengikuti agama yang hak (Islam), yaitu orang-orang yang telah diberikan Kitab (Yahudi dan Nasrani) hingga mereka membayar jizyah dengan patuh dan mereka tunduk.” (TQS. At-Taubah [9] : 29).
Kantor Media Pusat
Hizbut Tahrir
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 27/9/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat