Usai Pembuka Opini Memikat, Penulis Perlu Bawa Pembaca Pahami Persoalan

MediaUmat – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menekankan pentingnya penulis opini Islam ideologis membawa pembaca untuk memahami persoalan utama di balik suatu peristiwa, setelah sebelumnya memikat mereka di bagian pembuka.

“Setelah berhasil menarik perhatian pembaca, penulis perlu membawa mereka memahami persoalan yang sesungguhnya,” ujarnya dalam serial edukasi Belajar Menulis Opini Islam Ideologis: Fondasi 2 — Seri 2 yang diterima media-umat.com, Senin (26/10/2026).

Dengan kata lain, opini tidak boleh berhenti pada penceritaan peristiwa, melainkan harus mengupas akar masalahnya secara tuntas agar pembaca memahami letak persoalan yang sebenarnya.

Sebagaimana pernah dibahas dalam serial sebelumnya, Om Joy kembali membedah dua contoh naskah opini, yaitu Bukan Soal Rocky Masuk Istana dan Kerudung pun Dilarang atas Nama Sekularisme!

Lima Panduan Taktis

Dari kedua naskah tersebut, Om Joy merumuskan lima panduan taktis bagi penulis opini. Pertama, membedakan fakta, analisis, dan kesimpulan.

Dalam naskah tentang Rocky Gerung, misalnya, fakta pelantikan dianalisis untuk menilai standar kekuasaan hingga ditarik kesimpulan tolok ukurnya. Sementara pada naskah larangan kerudung di Azerbaijan, fakta pembatasan kerudung dianalisis sebagai pertentangan kebebasan dan sekularisme hingga menyimpulkan wujud diskriminasi.

“Jadi, fakta tidak otomatis membuktikan analisis atau kesimpulan penulis. Hubungan di antara ketiganya harus dijelaskan,” tegas Om Joy.

Kedua, menggali masalah di balik peristiwa. Peristiwa bukan sekadar bahan cerita, melainkan titik tolak untuk membidik pertanyaan mendasar seperti standar penilaian kekuasaan dalam kasus pelantikan Rocky atau pertentangan kebebasan dengan sekularisme dalam kasus kerudung di Azerbaijan.

Ketiga, jangan melompat ke kesimpulan dengan menjaga penalaran tetap runtut. “Kritik kebijakan maupun penyertaan dalil wajib dihubungkan secara tepat agar kesimpulan memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Om Joy merujuk pada analisis naskah larangan kerudung di Azerbaijan.

Keempat, menghubungkan masalah dengan perspektif Islam melalui upaya menemukan akar persoalan dan menilainya secara jelas.

“Di sinilah perspektif Islam ideologis berperan dalam menghadirkan pandangan Islam melalui argumentasi yang jelas, bukan sekadar memberi label atau menempelkan dalil,” jelasnya.

Kelima, bergerak dari fakta menuju argumentasi. “Penulis wajib memastikan kebenaran fakta, merumuskan analisis secara tepat, serta menunjukkan hubungan logis hingga ke dalil,” tegas Om Joy.

Namun demikian, membongkar peristiwa untuk membantu pembaca memahami persoalan utama dinilai belum cukup. Menurutnya, penulisan opini Islam ideologis dituntut melangkah lebih spesifik pada tahap pemikiran dasar.

“Opini Islam ideologis perlu melangkah lebih jauh, memperlihatkan pertentangan antara cara pandang Islam dan pemikiran yang melandasi persoalan tersebut,” pungkasnya sebelum masuk ke materi benturan ideologis pada seri berikutnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: