Om Joy: Susun Pembuka Opini agar Gagasan Tersampaikan Runtut dan Meyakinkan

MediaUmat – Jurnalis Joko Prasetyo (Om Joy) menekankan pentingnya para penulis opini Islam ideologis menguasai tata cara menyusun pembuka opini agar gagasan tersampaikan secara runtut dan meyakinkan sejak pintu masuk tulisan.

Hal tersebut disampaikannya dalam tulisan serial edukasi Belajar Menulis Opini Islam Ideologis: Fondasi 2 — Seri 1: Membuka Opini dengan Cara Menarik yang diterima media-umat.com, Ahad (25/10/2026).

Kali ini, sambung Om Joy, pembahasan yang beralih ke Fondasi 2 membedah alur argumentasi penulisan opini melalui dua naskah contoh, yakni Bukan Soal Rocky Masuk Istana dan Kerudung pun Dilarang atas Nama Sekularisme!, dengan fokus membedah alur penyusunan pembuka opini secara utuh sekaligus alasan di balik setiap pilihan penulis.

“Seri ini akan membedah proses penyusunan pembuka opini, mulai dari memilih pintu masuk hingga merumuskan jembatan menuju inti masalah. Kita tidak hanya mempelajari hasil akhirnya, tetapi juga alasan di balik pilihan penulis,” sebutnya seraya menjelaskan materi ini merupakan kelanjutan dari pembahasan Fondasi 1 tentang tiga karakter dasar opini Islam ideologis.

Lima Poin Kunci

Untuk memandu penulis menyusun pembuka yang efektif, ia pun memaparkan lima prinsip utama. Pertama, memahami fakta dan kontras sebagai bahan dasar pembuka. Pembuka yang menarik dapat dibangun melalui penonjolan fakta aktual maupun pertentangan prinsip.

Menurut Om Joy, keduanya berbeda, tetapi bisa berpadu. “Fakta menjawab pertanyaan apa yang terjadi, sedangkan kontras menonjolkan pertentangan antara dua keadaan atau prinsip sehingga pembuka tulisan terlihat lebih mencolok,” jelasnya.

Kedua, membuka dengan fakta aktual. Pendekatan ini cocok ketika sebuah peristiwa masih baru dan bernilai berita tinggi. Pada naskah opini tentang Rocky Gerung, misalnya, pelantikan tokoh tersebut sebagai anggota Wantimpres dijadikan pintu masuk untuk mengarahkan pembaca menuju persoalan yang lebih mendasar mengenai standar penilaian kekuasaan menurut pandangan Islam.

Ketiga, membuka dengan kontras. Pendekatan ini menonjolkan pertentangan yang mengundang pertanyaan kritis. Om Joy mencontohkan kasus di Azerbaijan, tempat daya tarik utama pembuka terletak pada pertentangan antara mayoritas penduduk Muslim sebesar 96 persen dan kebijakan pembatasan kerudung di sekolah negeri.

Setelah menarik perhatian, penulis memasukkan laporan Al Jazeera (12/10/2026) guna memberikan konteks kebijakan serta memastikan kontras tersebut didukung fakta aktual, bukan sekadar kesan atau dugaan.

“Jika suatu persoalan mengandung pertentangan yang mencolok, tonjolkan kontras tersebut di awal agar pembaca melihat mengapa persoalan itu layak dibahas,” tegasnya.

Keempat, memilih pembuka yang tepat. Penulis perlu menimbang kekuatan utama tulisan yang terletak pada aktualitas peristiwa atau pertentangan di dalamnya, memeriksa keakuratan fakta serta kelogisan kontras, hingga memastikan pembuka benar-benar mengantarkan pembaca menuju inti masalah.

Kelima, bergerak dari pembuka menuju persoalan yang lebih mendasar. Pembuka tulisan tidak boleh berhenti pada penyampaian peristiwa semata—seperti pelantikan Wantimpres maupun kebijakan pembatasan kerudung di Azerbaijan—melainkan harus menjadi jembatan untuk mengantarkan pembaca membongkar persoalan secara mendalam berdasarkan pandangan Islam.

“Pembukaan yang menarik bukan sekadar memancing perhatian, tetapi harus mengantarkan pembaca pada persoalan utama yang akan dibahas,” pungkasnya sambil menandai bahwa langkah membongkar persoalan secara mendalam akan dibahas pada seri berikutnya.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: