UIY Ungkap Keunggulan Mata Uang Dinar dan Dirham yang Diwajibkan Islam

 UIY Ungkap Keunggulan Mata Uang Dinar dan Dirham yang Diwajibkan Islam

MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengungkapkan keunggulan mata uang dinar dan dirham berbasis emas dan perak yang diwajibkan oleh syariat Islam sebagai alat tukar yang adil dan mampu menjaga daya beli masyarakat.

Hal tersebut ia sampaikan dalam program Focus to The Point: Emas Meroket, Bersiap Hadapi Guncangan Besar, Selasa (3/2/2026) di kanal YouTube UIY Official.

“Jika kita menengok ketentuan dari syariat Islam yang mewajibkan kita itu untuk menggunakan dinar dan dirham (emas dan perak), ini hari fakta yang ada menunjukkan, bahwa memang itulah mata uang yang sesungguhnya,” ujarnya.

The real money, ucapnya, karena menyimpan kekayaannya secara riil. Dan karenanya kemudian bisa menjaga daya beli masyarakat secara permanen. “Tidak seperti uang kertas atau fiat money,” imbuhnya.

Terkait kenaikan harga emas yang saat ini terus terjadi, UIY menilai, fenomena ini menunjukkan meningkatnya permintaan masyarakat terhadap emas.

“Sebenarnya satu hal yang bisa dipastikan bahwa itu menunjukkan meningkatnya permintaan terhadap emas,” nilainya.

Menurutnya, emas banyak dipilih oleh masyarakat sebagai simpanan karena mampu menjaga nilai kekayaan secara nyata dan memiliki likuiditas tinggi dibandingkan aset lain seperti properti atau tanah.

“Nah, karena mereka tahu bahwa inilah komoditas yang bisa menjaga kekayaan mereka secara riil gitu, sekaligus juga cukup liquid,” katanya.

UIY menambahkan, kepercayaan masyarakat luas terhadap emas sekaligus menandai menipisnya kepercayaan terhadap fiat money (uang kertas), termasuk dolar AS yang kini mendominas mata uang global karena ditopang oleh kekuatan atau kekuasaan politik dan militer Amerika Serikat.

“Jadi, kepercayaan kepada emas itu sebenarnya juga sekaligus makin menipiskan kepercayaan orang terhadap fiat money dalam bentuk apa pun,” jelasnya.

Emas adalah The Real Money

UIY menegaskan, emas adalah the real money, karena memiliki nilai intrinsik yang tidak bergantung pada penetapan hukum atau kekuasaan politik.

“Kenapa emas itu disebut the real money atau dia membuat lebih stabil gitu? Karena sebagai barang dia itu berharga, bukan oleh faktor lain, bukan oleh sesuatu yang di luar dirinya, tapi dia berharga karena dirinya,” jelasnya.

Sementara kalau uang kertas, begitu pun dolar, itu berharga karena disebut uang. Karena ada yang disebut legal tender.

“Ketika itu (uang kertas) tidak lagi disebut uang, berakhirlah sudah. Sementara emas, sekalipun orang seluruh dunia mengatakan itu arang dia tetap emas, atau enggak mengakui itu uang, tapi dia tetap bernilai seperti barang dan tetap berharga. Itulah hebatnya emas,” terangnya.

UIY juga menyinggung fakta Amerika Serikat dengan mata uang kertas dolarnya justru menjadi negara yang memiliki cadangan emas terbesar di dunia (8.133 ton).

Sistem Uang Kertas Lahirkan Ketidakadilan

Lebih lanjut, UIY mengulas sistem mata uang kertas yang melahirkan ketidakadilan global karena inflasi yang terus menggerus daya beli masyarakat.

“Ketika harga barang-barang naik, harga emas ikut naik gitu. Sementara dengan uang kertas, ketika harga barang-barang naik, itu yang disebut dengan inflasi, kemampuan membeli uang kita terus menurun,” ulasnya.

Itulah, kata UIY, ketidakadilan yang sangat mencolok membuat akhirnya masyarakat terus mengalami proses kemiskinan.

“Akhirnya kemudian betul-betul bisa menjadi miskin gitu. Karenanya, maka ini persoalan tidak pernah berhenti ‘tuntutan naik gaji’ gitu. Kenapa? Karena dia selalu kurang gitu. Kenapa selalu kurang? Karena harga barang orang naik inflasi gitu. Masih bagus kalau diberi kenaikan gaji, kenaikan upah, tapi kalau tidak bagaimana gitu ada sektor-sektor yang tidak bisa menyesuaikan kenaikan itu. Kemudian kalau dinaikkan masih bagus kalau di atas inflasi, kalau di bawah?” jelasnya.

Nah, lanjut UIY, ketidakadilan ini yang terus terjadi yang membuat akhirnya (banyak) manusia itu tidak pernah berada dalam situasi tenang. Selalu dihantu oleh kecemasan. “Kecemasan apa? kecemasan, tekanan ekonomi,” bebernya.

Bukan hanya di negeri ini, ia menyebutkan negara-negara maju seperti Korea, Jepang pun juga mengalaminya. Mereka itu dikatakan sejahtera tapi tidak bahagia karena ada tekanan kecemasan ekonomi bahwa harga-harga itu tidak bisa dijangkau.

“Karenanya mereka membayangkan bagaimana nanti dia beli rumah yang tidak terjangkau, bagaimana ngongkosi (membiayai) anaknya. Akhirnya mereka tidak mau berkeluarga, tidak mau menikah karena dia harus ngongkosi keluarganya. Tidak mau punya anak. Kalau punya anak cuma satu dan seterusnya. Itu impact (dampak)-nya itu sangat panjang,” tandasnya.[] Muhar

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *