UIY: Perdagangan Dunia Jadi Panggung Kecurangan Kapitalisme

MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menilai wajah perdagangan dunia telah berubah menjadi panggung kecurangan yang dilakukan oleh kapitalisme global maupun lokal.

“Namun hari ini wajah perdagangan dunia telah berubah menjadi panggung kecurangan patgulipat yang dilakukan oleh kapitalisme global maupun lokal,” ujarnya dalam video Kota Kena Prank Sistem? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (23/6/2026).

UIY melihat satu potret yang paling nyata adalah praktik transfer pricing (penetapan harga dalam transaksi antara perusahaan-perusahaan yang masih satu grup atau memiliki hubungan istimewa).

“Mengapa ini bermasalah? Bayangkan apa penjelasan sederhana ini. Seorang pengusaha batu bara misalnya mau melakukan ekspor hasil produksinya ke luar negeri di mana saat itu katakanlah harga internasional adalah 150 USD per ton. Tapi kemudian ia tidak langsung menjual ke end buyer atau pembeli terakhir, tapi dia jual lebih dulu kepada sebuah perusahaan di luar negeri yang ternyata perusahaan itu punya dia juga seharga 100 USD per ton,” jelasnya.

Dengan melalui cara ini, lanjutnya, pengusaha batu bara mendapatkan keuntungan sekian persen dari kewajiban paksa ekspor yang harusnya dibayar kepada negara.

“Itu jelas merupakan kerugian negara. Sudah begitu 50 USD yang tadi dari 100 ke 150 itu tetap disimpan di luar negeri. Di antara yang paling lazim Singapura. Lagi-lagi negara dirugikan karena devisa tak masuk ke dalam negeri. Sudah begitu dia juga melakukan dari under invoicing (praktik mencantumkan nilai barang pada faktur [invoice] lebih rendah daripada harga sebenarnya) misalnya ekspor 100 ton dibilang hanya 50 ton,” bebernya.

Alasan

Menurut UIY, alasan kejahatan seperti ini bisa dilakukan karena pengusaha batu bara tersebut bisa kongkalikong (persekongkolan secara diam-diam untuk melakukan kecurangan atau mengambil keuntungan bersama) dengan semua pejabat.

“Nah, itulah yang dilakukan oleh raksasa korporasi lokal maupun global. Mereka menguras barang-barang tambang di negeri ini, batu bara, nikel, timah dan sebagainya juga menguras keringat buruh kita. Tapi keuntungan kasat matanya dipindahkan lewat manipulasi dokumen ke luar negeri. Maka kita hanya mendapat ampas dan polusinya, sementara hak pajak rakyat menguap begitu saja,” bebernya.

Dan yang paling tragis, lanjutnya, para pejabat atau penguasa ketika di hadapan raksasa korporasi ini, menunjukkan ketidakberdayaan.

“Mereka seperti terjebak dilema, ingin tegas tapi harus dapat dukungan saat mencalonkan dahulu. Kemudian juga sering dibilang takut investor lari lalu katanya ingin membela rakyat tapi aturan global mengikat tangan mereka. Maka kemudian pengusaha seperti ini seolah menjadi penonton di rumah sendiri,” bebernya.

Solusi

UIY menilai Islam datang membawa solusi sistemik setidaknya melalui tiga pilar utama.

“Apa itu? Yang pertama kedaulatan regulasi. Islam melarang keras bentuk manipulasi harga (tadlis) ya dalam perdagangan. Negara wajib memiliki utilitas penuh untuk mengatur dan menindak korporasi yang merugikan publik. Artinya kita sepenuhnya tunduk kepada regulasi kita yang bersumber dari syariah,” bebernya.

Kemudian yang kedua, lanjutnya, sistem pendanaan mandiri menghentikan ketergantungan pada utang berbasis riba yang itu semua kita sudah tahu. Acap mendikte kedaulatan politik dan ekonomi kita.

“Kemudian yang ketiga, pengelolaan ke barang-barang milik umum atau pengelolaan kepemilikan umum. Dalam Islam, kekayaan alam yang begitu melimpah. Menguasai hajat hidup orang banyak wajib dikelola penuh oleh negara untuk kesejahteran rakyat yang bukan malah diserahkan kepada korporasi,” bebernya.

UIY menilai baik di dalam negeri apalagi asing yang dengan cara itu, ketika semua dikelola oleh negara otomatis tidak akan ada lagi praktik-praktik kotor seperti transfer pricing maupun under invoicing yang terus dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta itu.

“Mestinya lewat ini semua kita bisa lepas dari pendiktean kapitalisme lokal maupun gobal dan kembali pada sistem ekonomi Islam yang adil dan mensejahterakan,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: