UIY Kritik Standar Ganda Politik Global Soal Nuklir Iran

MediaUmat – Narasi Amerika Serikat dan sejumlah negara yang berulang kali menyatakan Iran adalah ancaman besar dengan program nuklirnya, menurut Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menunjukkan dalam politik global ada standar ganda.

“Nah, di sinilah kita bisa melihat secara kasat mata betapa dalam politik global ini ada standar ganda,” ujarnya dalam siniar Senator Amerika: Kita akan Dapat Banyak Uang Jika Rezim Teheran Jatuh, Selasa (10/3/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

Jika narasi ini dikaji secara jujur ucap UIY, andai nuklir Iran itu memang berbahaya bagi dunia. “Kenapa Israel dan beberapa negara lain boleh memilikinya? Sebaliknya jika nuklir itu sesuatu yang baik, sesuatu yang diperlukan untuk berbagai keperluan termasuk untuk pertahanan negara, mengapa Iran tidak boleh?” sambungnya.

UIY mengungkapkan, Israel secara luas diyakini memiliki puluhan bahkan diperkirakan lebih dari 90 hulu ledak nuklir. Namun negara ini tak pernah mendapatkan tekanan internasional sebagaimana dialami oleh Iran.

“Sementara Iran terus-menerus mendapatkan tekanan meski berulang kali mereka menegaskan bahwa program nuklirnya ini ditujukan untuk kepentingan tujuan damai, untuk energi bukan untuk senjata. Tapi tuduhan tetap saja dibangun terhadap Iran. Tekanan terus dilakukan bahkan serangan militer dijustifikasi untuk apa yang dikatakan mencegah ancaman nuklir Iran,” jelasnya.

Menurut UIY pola ini sebelumnya sudah dilihat. Ia mencontohkan narasi tentang adanya senjata pemusah massal yang diproduksi Irak. Itu pernah dijadikan sebagai dasar untuk menyerang Irak. Nah, setelah negara itu hancur, lebih dari 1,4 juta warganya meninggal dunia, dunia baru tahu bahwa senjata itu tidak pernah ada dan Amerika tidak pernah meminta maaf untuk hal itu.

“Nah, sejarah ini seharusnya membuat kita lebih waspada karena dalam politik global narasi sering kali bukan tentang kebenaran, tapi sebagai alat untuk melegitimasi tindakan terhadap kekuasaan. invasi dan peperangan seperti ini hari terjadi,” paparnya.

Dunia Islam

Lantas UIY melihat di sisi lain, selama dunia Islam tidak memiliki kekuatan politik yang mandiri, negeri-negeri Muslim akan terus menjadi arena permainan kekuatan besar.

“Kekuatan besar dunia seperti yang kita lihat ini hari dan hari ini Iran, kemarin Irak, besok bisa negeri mana saja, negeri Muslim yang lain. Dan itu semua tentu menyedihkan kita semua,” tutup UIY.[] Muhammad Nur

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: