MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) menegaskan, dominasi global terhadap negeri Muslim tak bisa dihentikan dengan meminta belas kasihan, melainkan dengan membangun kekuatan mandiri sebagaimana ditunjukkan perlawanan Iran.
“Kita sendiri harus kuat. Dan apa yang dilakukan oleh Iran itu membuktikan itu,” ujarnya dalam Kajian Pemikiran Islam Interaktif bertajuk Runtuhnya Moralitas Dunia: Apa yang Tersisa dari Hukum Internasional Saat Ini? di kanal YouTube UIY Official, Sabtu (12/9/2026).
Seruan tersebut muncul sebagai respons atas dinamika ketegangan geopolitik dan tindakan invasi militer Blok Barat—khususnya Amerika Serikat—ke berbagai negeri Muslim, termasuk eskalasi serangan terbaru terhadap Iran serta penyerangan yang tak kunjung usai di Gaza.
UIY menilai, diplomasi yang sekadar mengandalkan imbauan moral, kompromi politik, terlebih meminta belas kasihan, justru akan memperpanjang dominasi negara-negara penindas.
“Tidak bisa kekuatan itu dihadapi dengan belas kasihan, tidak bisa. Kekuatan itu hanya bisa dihentikan dengan kekuatan,” tegasnya.
Menurut UIY, eskalasi konflik tersebut pada dasarnya merupakan pola lama berupa perang militer (al-ghazwul ‘askari) dan perang pemikiran (al-ghazwul fikri) untuk menguasai sumber daya alam (gold), kekuasaan politik (glory), serta penyesuaian ideologi (gospel).
Sebagai contoh, ia menyoroti invasi militer Amerika Serikat ke Irak pada 2003 yang menggunakan tuduhan palsu senjata pemusnah massal demi mengontrol cadangan minyak dan politik kawasan. Tekanan serupa juga dilancarkan terhadap Iran yang kini menguasai cadangan minyak terbesar ketiga di dunia setelah Venezuela dan Arab Saudi.
Selain serangan fisik, jelasnya, penguasaan terhadap negeri-negeri Muslim ini disempurnakan lewat perang pemikiran untuk memaksakan ideologi sekularisme. Upaya tersebut sekaligus membendung kebangkitan Islam kaffah melalui narasi war on terrorism hingga war on radicalism.
Sayangnya, upaya penguasaan tersebut justru dipermudah oleh kondisi internal umat sendiri. Ia memaparkan, kelemahan mendasar umat Islam saat ini bukan terletak pada minimnya jumlah populasi atau kekayaan alam, melainkan akibat terpecah belah oleh paham nasionalisme sempit.
Potensi dan Keunggulan Islam
Padahal di sisi lain, ungkap UIY, potensi umat Islam sangat besar, mulai dari jumlah populasi yang mencapai lebih dari 2 miliar jiwa berdasarkan data riset Pew Research Center, hingga penguasaan 60–70 persen cadangan minyak bumi dan gas alam global beserta sumber daya alam strategis lainnya seperti uranium dan nikel.
“Potensi kita sangat besar. Potensi penduduknya luar biasa, potensi sumber daya manusia juga luar biasa, potensi sumber daya alam juga luar biasa,” terangnya.
Di samping potensi fisik dan demografi tersebut, imbuhnya, umat Islam memiliki dua pilar keunggulan utama yang tidak dimiliki oleh bangsa mana pun.
“Yang pertama dan utama adalah ajaran Islam, risalah. Dan yang kedua, sejarah kebangkitan kemuliaan Islam yang membentang lebih dari 700 tahun dan itu dicatat dengan tinta emas sejarah dunia,” paparnya.
Oleh karena itu, berdasarkan potensi besar dan rekam jejak sejarah itu, UIY menekankan pentingnya kesadaran kolektif untuk kembali pada ajaran Islam secara utuh. Dengan kata lain, pemahaman yang komprehensif terhadap risalah Islam bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi petunjuk arah untuk mengembalikan kejayaan peradaban.
“Dan kita menjadi tahu apa yang harus kita lakukan jika kita ingin kembali sebagaimana yang pernah kita capai kejayaan di masa lalu,” pungkasnya.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat