UIY: Korupsi Bisa Diputus Lewat Mindset Amanah Jabatan
MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Ismail Yusanto (UIY) menegaskan cara pandang pejabat terhadap jabatan menjadi faktor penentu dalam memutus mata rantai korupsi.
“Jadi, mindset pejabat di dalam memandang jabatannya itu sangat menentukan di situ. Apakah dia diletakkan sebagai sebuah kesempatan atau justru ini diletakkan sebagai sebuah proses pertanggungjawaban yang sangat penting di dunia dan utamanya di akhirat,” jelasnya diskusi Islam Berantas Korupsi: Amanah Jabatan Penting! yang ditayangkan kanal YouTube UIY Official, Jumat (18/6/2026).
Karena itu, jelas UIY, pejabat yang menyadari jabatannya sebagai amanah akan berorientasi pada pelayanan kepada rakyat.
“Kalau dia memandang bahwa ini adalah sebuah amanah, kalau dalam Islam politik itu kan diartikan sebagai riayah syu’unil ummah, pengaturan kehidupan umat atau urusan umat, di mana pejabat duduk di situ itu diberi amanah untuk bagaimana urusan umat ini berjalan dengan sebaik-baiknya,” terangnya.
Menurut UIY, kesadaran bahwa nasib rakyat berada dalam tanggung jawab seorang pejabat akan melahirkan kehati-hatian dalam menjalankan kekuasaan. Apalagi setiap amanah kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
“Maka dia akan melihat bahwa ini adalah sesuatu yang sangat penting yang akan menentukan nasib sekian banyak rakyatnya atau orang yang diurusinya itu dan satu lagi bahwa itu semua akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah,” tegasnya.
Ia menambahkan, lawan dari amanah adalah khianat. Karena itu, amanah bukan sekadar persoalan etika pemerintahan, tetapi terkait langsung dengan kualitas keimanan seorang Muslim.
“Amanah ini akan dimintai. Lawan dari amanah itu khianat. Nabi itu sampai mengatakan, Lā īmāna liman lā amānata lah, tidak ada iman buat orang yang tidak amanah. Allah juga mengatakan, Allah itu tidak menyukai orang yang khianat,” ungkapnya.
UIY mengingatkan, ketidaksukaan manusia masih dapat dihindari, tetapi murka Allah tidak mungkin dihindari oleh siapa pun. Kesadaran inilah yang semestinya menjadi benteng utama seorang pejabat dari perilaku koruptif.
“Kalau kita tidak disukai oleh wali kota kita bisa pindah kota. Kalau tidak disukai gubernur kita bisa pindah provinsi. Kalau tidak disukai oleh presiden kita bisa pindah negara. Tapi kalau tidak disukai oleh Allah kita mau pindah ke mana?” pungkasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat