UIY: Keteladanan Pemimpin Jadi Faktor Penting Pemberantasan Korupsi

MediaUmat Keteladanan pimpinan tertinggi negara dinilai menjadi faktor yang sangat penting dalam keberhasilan memberantas praktik korupsi yang kian mengkhawatirkan di Indonesia.

“Yang pertama itu keteladanan, itu memang penting sekali,” ujar Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) dalam diskusi Korupsi Berujung Damai? di kanal YouTube Tabloid Media Umat, Ahad (26/7/2026).

Pernyataan tersebut dilontarkan sebagai respons atas maraknya kasus megakorupsi yang melibatkan kalangan penegak hukum. Mulai dari pimpinan KPK, pejabat Mahkamah Agung, hingga penanganan kasus berskala besar di lingkungan Kejaksaan Agung seperti dugaan korupsi tata niaga komoditas timah di wilayah IUP PT Timah Tbk, penyimpangan pengelolaan komoditas di PT Patra Niaga, serta korupsi pemberian fasilitas ekspor Crude Palm Oil (CPO).

Menurut UIY, kondisi ini telah menciptakan iklim koruptif yang merusak birokrasi, terutama dipicu oleh melimpahnya “uang murah”—yakni keuntungan raksasa bernilai ratusan triliun rupiah yang didapat secara mudah dari sektor sumber daya alam (SDA) yang dihegemoni korporasi swasta.

Ia menilai masyarakat kini berada dalam kondisi hilangnya harapan (no hope) kepada para pejabat penegak hukum yang seharusnya menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi, karena mereka sendiri justru terjerat tindak pidana tersebut. Oleh karena itu, ketegasan dan keteladanan presiden sebagai pimpinan tertinggi negara menjadi satu-satunya tumpuan terakhir yang menentukan masa depan pemberantasan korupsi di tanah air.

“Itulah hal-hal yang penting, ada keteladanan dari pemimpin. Dalam arti keteladanan bahwa dia tidak korupsi dan ketegasan dalam hukuman yang setimpal,” kata UIY kembali menegaskan.

Namun ia memperingatkan, apabila presiden tidak menampakkan ketegasannya dalam memberantas korupsi, maka agenda pemberantasan korupsi di negeri ini pada hakikatnya sudah hancur lebur. Jika kondisi tersebut terjadi, rakyat dinilai harus mulai berpikir kritis mengenai langkah-langkah yang mesti dilakukan untuk mencegah kehancuran bangsa yang lebih jauh.

Lima Langkah Konkret Mencegah Korupsi

Guna mencegah hal tersebut, UIY menawarkan lima langkah strategis. Pertama, penerapan prinsip equality before the law tanpa pandang bulu menjadi langkah awal untuk menindak tegas siapa pun pelaku korupsi tanpa kompromi, termasuk lingkaran terdekat. Hal ini sebagaimana sikap Rasulullah SAW yang menegaskan bahwa seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, beliau sendiri yang akan memotong tangannya.

Kedua, pemberlakuan hukuman berat dan mekanisme pembuktian terbalik perlu dijalankan untuk memberi efek jera sekaligus membebankan kewajiban kepada para pejabat untuk membuktikan keabsahan asal-usul kekayaan yang mereka miliki.

Ketiga, penghentian aliran “uang murah” serta pengembalian SDA ke tangan negara dilakukan untuk menutup celah kebocoran sektor pertambangan (transfer pricing dan under invoicing) dengan menyerahkan kembali porsi mayoritas pengelolaan SDA strategis kepada BUMN.

Keempat, pemberian tingkat gaji yang mencukupi meski terbilang solusi klasik tetap wajib dipenuhi oleh negara untuk memastikan seluruh pejabat dan penegak hukum mendapatkan kompensasi finansial yang memadai.

Kelima, penumbuhan suasana ketakwaan dan pengawasan melekat berbasis ihsan harus diintegrasikan dalam pembinaan SDM agar lahir kontrol internal atas kesadaran bahwa seluruh tindakan kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

“Kalau itu bisa ditumbuhkan maka insyaAllah pemberantasan korupsi itu akan menemukan hasilnya,” pungkas UIY.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: