UIY Ajak Umat Islam Renungi Persoalan Iran

MediaUmat – Cendekiawan Muslim Ustadz Muhammad Ismail Yusanto (UIY) mengajak umat Islam untuk merenungi persoalan Iran secara mendalam.

“Saudara! Apa yang terjadi ini hari pada Iran semestinya membuat kita ini merenung dalam-dalam,” ujarnya dalam video Ironi Iran, Rabu (11/3/2026) di kanal YouTube Khilafah News.

UIY menjelaskan, selama ini Iran sering diposisikan sebagai musuh besar Barat dalam berbagai narasi geopolitik.

Narasi tersebut, ungkapnya, terus dibangun dengan menggambarkan Iran sebagai ancaman.

“Selama ini Iran sering diposisikan sebagai musuh besar Barat. Narasi yang dibangun selalu begitu. Iran adalah ancaman. Iran berbahaya. Karenanya Iran harus ditekan,” katanya.

Namun demikian, UIY menilai, sejarah kawasan menunjukkan realitas yang lebih kompleks.

“Dalam berbagai momentum geopolitik yang berjalan demikian panjang, Iran sesungguhnya pernah berada pada jalur yang secara tidak langsung menguntungkan agenda Amerika di kawasan itu. Itu terjadi pada masa Syah Iran, termasuk dalam dinamika konflik di Irak dan Afghanistan,” tuturnya.

Meski demikian, ia menyoroti bahwa serangan Amerika Serikat terhadap Iran juga tetap terjadi.

“Tetapi apa yang terjadi sekarang? Serangan tetap saja diarahkan ke Iran,” ucapnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan karakter politik global yang dipimpin oleh Amerika Serikat.

“Nah, Saudara! Di sinilah kita perlu melihat satu kenyataan pahit tentang politik global yang dipimpin oleh Amerika Serikat,” katanya.

Ia menyebut dalam politik imperialisme tidak ada kawan yang bersifat permanen.

“Bagi kekuatan penjajah, kolonialisme, imperialisme, tidak ada kawan yang abadi. Yang ada adalah kepentingan yang abadi. Siapa pun bisa dipakai selama menguntungkan dan siapa pun bisa disingkirkan ketika sudah tidak lagi dibutuhkan,” jelasnya.

Ia juga menyatakan sejarah kerap memperlihatkan hal serupa. “Dan sejarah selalu berulang menunjukkan betapa banyak di muka bumi ini, pemimpin, berapa banyak rezim, bahkan berapa banyak negara yang sebelumnya dekat dengan Amerika, tapi kemudian dijatuhkan ketika perannya dianggap selesai,” ungkapnya.

Menurutnya, hal itu merupakan karakter politik imperialisme. “Saudara! Itulah watak politik imperialisme. Ia tidak mengenal loyalitas. Ia tidak mengenal nilai, yang dia kenal hanyalah dominasi dan hegemoni,” tandasnya.[] Muhar

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: