Trump Menyalakan Kembali Perang dan Menuntut “Uang Perlindungan” untuk Mengamankan Selat Hormuz—Dari Perang yang Ia Ciptakan Sendiri!
Pada hari Senin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan mengenakan biaya sebesar 20% atas seluruh barang yang dikirim melalui Selat Hormuz, setelah dimulainya operasi militer baru yang kembali menyalakan perang di Teluk Arab.
Menanggapi pengumuman Trump tersebut, International Maritime Organization (IMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, kembali menegaskan penolakannya terhadap pengenaan biaya transit pada setiap selat yang digunakan untuk pelayaran internasional, seraya menyatakan bahwa langkah tersebut adalah tindakan yang melanggar hukum.
Jelas bahwa tidak ada logika di balik keputusan-keputusan Trump selain kesombongan, keangkuhan, pelecehan terhadap kehormatan harta kaum Muslim, dan pengabaian terhadap keamanan negeri-negeri mereka. Amerika sendirilah yang memicu perang ini—bahkan memaksakannya kepada masyarakat kawasan. Amerika membombardir, membunuh, menghancurkan, dan membakar, serta menyeret negara-negara di kawasan ke dalam pusaran konfrontasi militer, yang tujuan resminya kini dinyatakan sebagai membuka kembali Selat Hormuz, padahal sejak awal selat itu sebenarnya tetap terbuka.
Alih-alih meminta maaf kepada rakyat di kawasan dan kepada dunia atas kehancuran yang telah ditimbulkannya, serta alih-alih membayar ganti rugi atas kerugian ekonomi yang ditimpakan kepada pasar-pasar global, presidennya kini justru menuntut pembayaran sebagai imbalan atas pembukaan kembali selat tersebut dan jaminan keamanannya!
Hal ini mencerminkan penghinaan Amerika terhadap kaum Muslim dan kesombongan yang telah menguasai Trump, hingga ia menganggap bahwa merampas kekayaan bangsa-bangsa lain merupakan hak yang memang layak dimiliki Amerika.
Ini bukan pertama kalinya Trump berbicara tentang negara-negara kaya—yang dimaksudkannya adalah negara-negara Teluk—agar membayar uang kepada Amerika. Sebelumnya, ia juga telah menuntut agar mereka menanggung seluruh biaya perang Amerika melawan Iran. Ia memperlakukan para penguasa Teluk seolah-olah mereka hanyalah dompet yang berada di dalam sakunya.
Apabila Trump berhasil mewujudkan visinya terhadap kawasan ini, maka hal itu akan berarti semakin besarnya penghinaan, dominasi kolonial, dan penguasaan atas masa depan kawasan. Para penguasa di kawasan yang bekerja sama dengan rencana-rencananya—seperti mereka yang menjadi tuan rumah bagi pangkalan-pangkalan militer Amerika, yang darinya Amerika memproyeksikan kekuatannya dan menjalankan operasi-operasinya—adalah seperti orang-orang yang berjalan menuju kehancuran mereka sendiri dengan kaki mereka sendiri. Itulah hakikat kerugian yang sesungguhnya.
Allah Swt. berfirman:
﴿إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَن تَوَلَّوْهُمْ وَمَن يَتَوَلَّهُمْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾
“Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama, mengusirmu dari negerimu, dan membantu orang lain untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 9).
Sesungguhnya peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung saat ini memberikan peluang bagi negara-negara di kawasan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Amerika. Amerika tidak lagi berada pada posisi terkuatnya. Amerika menyadari kemunduran kekuatannya sendiri di tengah tantangan-tantangan global yang dihadapinya: hilangnya sahabat dan sekutu, semakin menguatnya para pesaing internasional seperti Tiongkok dan Rusia, keengganan rakyatnya sendiri untuk menanggung biaya peperangan dan petualangan luar negeri, serta kebangkrutan intelektual dan peradabannya.
Karena itu, menjadi kewajiban bagi orang-orang yang tulus di antara para pemilik kekuasaan dan pengaruh di kawasan untuk memikul tanggung jawab kepemimpinan, mengarahkan perjalanan menuju pembebasan dari ketergantungan dan ketundukan kepada Amerika dan Barat, serta memberikan nusrah kepada Hizb ut Tahrir agar dapat menegakkan Khilafah Rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, sehingga dapat mengembalikan warisan para pemimpin dan penakluk Muslim terdahulu.
Kantor Media Pusat Hizb ut Tahrir
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat