Trump Mengungkap Realitas Kolonial Amerika
Pada hari Sabtu, Presiden AS Trump tanpa malu-malu menyatakan keberhasilan negaranya dalam menguasai lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak Venezuela. Ia membanggakan diri dengan mengatakan:
“Atas arahan saya, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Perang Pete Hegseth, yang bekerja sama secara erat dengan Presiden Interim Venezuela yang Sangat Dihormati, Delcy Rodriguez, dan melalui kemitraan dengan sektor bisnis swasta, telah mengamankan kendali mayoritas AS atas lebih dari 65 MILIAR BAREL cadangan minyak terbukti di Venezuela, tanpa biaya apa pun bagi pembayar pajak Amerika.”
Tindakan ini menjadi bukti bahwa negaranya adalah negara kolonial, sekaligus mengungkap bahwa negara tersebut tidak pernah memedulikan slogan-slogan yang secara palsu dan menipu terus-menerus mereka gaungkan, seperti kebebasan, kemerdekaan, penentuan nasib sendiri, dan hak asasi manusia. Hal ini menegaskan bahwa slogan-slogan tersebut tidak lebih dari sekadar kedok dan dalih untuk menjajah bangsa-bangsa dan mengeksploitasi manusia demi kepentingan para taipan keuangan dan hiu-hiu kapitalis Amerika kolonial.
Trump tidak mengungkap sesuatu yang baru dengan membanggakan penjarahan kekayaan dan minyak negara tetangga oleh negaranya, bukan karena alasan atau hak apa pun, tetapi semata-mata karena Amerika lebih kuat. Dengan demikian, ia menegakkan hukum rimba, di mana yang kuat memangsa yang lemah!
Watak Amerika yang sebenarnya bukanlah sesuatu yang rahasia ataupun baru; watak tersebut telah ada sejak pendiriannya, yang dibangun di atas tengkorak jutaan penduduk pribumi yang dibunuh oleh para pendirinya yang berasal dari Eropa.
Watak Amerika yang sebenarnya terungkap dalam bentuknya yang paling buruk setelah pertengahan abad ke-20, setelah Amerika keluar dari kebijakan isolasionismenya. Amerika mulai menjajah dunia, menduduki dan menjajah banyak negeri Muslim, serta memasang para penguasa boneka dan klien yang menimpakan bentuk penderitaan paling buruk kepada rakyat mereka, memiskinkan negeri-negeri tersebut dan menjarah sumber daya mereka.
Akibatnya, negeri-negeri Muslim menjadi identik dengan kemiskinan, kelaparan, dan keterbelakangan! Padahal negeri-negeri mereka berlimpah dengan kekayaan, minyak, gas, dan mineral, sementara rakyatnya menderita kekurangan listrik, air, roti, obat-obatan, dan kebutuhan paling mendasar, karena para penguasa mereka telah mencuri kekayaan tersebut untuk memuaskan para penjajah Amerika dan Eropa!
Sungguh, inilah realitas Amerika dan negeri-negeri kufur: para penjajah yang menikmati penguasaan atas bangsa-bangsa dan penjarahan kekayaan mereka.
Venezuela adalah contoh utama. Trump bahkan berulang kali mengungkapkan keinginannya untuk menguasai Panama, Greenland, Kanada, Kuba, Selat Hormuz, Gaza, dan sumber daya Ukraina sejak ia menjabat—dan daftarnya terus bertambah.
Oleh karena itu, seluruh dunia sangat membutuhkan Khilafah Rasyidah yang mengembalikan keadilan dan kasih sayang kepada seluruh bangsa serta memberantas pengaruh para penjajah, penindas, dan tiran seperti Trump.
Islam mengangkat derajat manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan, kemiskinan, dan kesulitan menuju cahaya, kasih sayang, dan kesejahteraan, sebagaimana dibuktikan oleh sejarah kaum Muslim dan negara mereka.
Islam menetapkan kesetaraan antara yang putih dan yang hitam, Arab dan non-Arab, yang miskin dan yang kaya. Ketika negara Islam membuka suatu negeri, ia memperlakukannya dengan kepedulian, pelayanan, dan keadilan, bukan dengan penjarahan, penjajahan, dan agresi, sesuai dengan firman Allah SWT:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
[Al-Anbiya: 107]
Maka, bersegeralah wahai kaum Muslim untuk menegakkan negara Khilafah Rasyidah berdasarkan metode kenabian; karena ia adalah harapan bagi umat manusia dan keselamatan bagi orang-orang yang tertindas.
Kantor Media Pusat Hizbut Tahrir